Menjadi Ibu yang Lebih Santai. Good Bye, Parental Burn-Out!

  • 10/10/2020 02:48:00 PM
  • By Nurrahmah Widyawati
  • 2 Comments

Konten [Tampil]


Terkadang kita merasakan lelah yang entah apa dan bagaimana bisa membuat hari-hari kita sebagai orang tua menjadi begitu exhausted dan menjenuhkan. Padahal, banyak orang di luar sana yang memimpikan keluarga lengkap dengan sejumlah hiruk pikuk kebahagiaanya.

Belum lagi saat lelah sudah melanda, segala hal di rumah mejadi salah dan seperti layak untuk dijadikan sasaran amarah, terutama anak. Wait. Apakah ini yang dinamakan parental burn-out?

Apasih parental burn-out itu?


Parental burn-out adalah suatu keadaan kelelahan terkait dengan peran orang tua, yang membuat seseorang tidak dapat mengelola emosinya terhadap anaknya dan memiliki keraguan akan kemampuan seseorang untuk menjadi orang tua yang baik. (Roskam, Raes & Mikolajzak, 2017)

(photo created by user15285612 - www.freepik.com)

Kamu pernah nggak merasakan ini?
1. Stress
2. Tidak mampu mengelola emosi (cepat marah)
3. Cemas
4. Meningkatnya konflik dengan pasangan dan orang lain
5. Perasaan tidak mampu
6. Risiko mengabaikan & kekerasan pada anak
7. Gangguan tidur
8. Parahnya, ingin bunuh diri atau pergi menjauh

Ya. Ternyata itu adalah beberapa tanda Ibu mengalami parental burn-out.

Tidak dipungkiri, dalam satu hari 24 jam sering rasanya kita dihadapkan dengan berbagai agenda yang tak ada habisnya. Pekerjaan domestik yang tidak ada selesainya, pekerjaan publik yang menumpuk deadlinenya, mengasuh anak-anak yang mungkin lebih dari satu, tuntutan lingkungan, tuntutan keluarga, bahkan tuntutan diri sendiri.

Semakin hari kita dihadapkan pada dunia yang lebih kompleks. Jika tidak semakin sadar dan sabar, bisa jadi kita tenggelam dalam kubangan yang salah kaprah.

Sebagai Ibu, wajar rasanya ada kata lelah, ingin istirahat, dan ingin melepas penat. Nyatanya, raga dan jiwa kita terkadang tidak berjalan beriringan. Raga memang beristirahat, namun jiwa terbang menjelajah antah berantah.

Menjadi Ibu di dunia digital juga sangat rawan akan tsunami informasi. Begitu mudahnya orang untuk sharing dan begitu mudahnya orang untuk mendapatkan ilmu. Tidak salah, namun perlu sebuah kesadaran. Karena semua hal belum tentu cocok untuk kita, dan tidak semua hal harus kita kuasai.

Menurunkan ekspektasi dalam diri juga bukan hal yang buruk kok. Karena nyatanya, ujung dari apa yang kita lakukan adalah untuk kenyamanan dan kebagiaan diri serta keluarga.

Jika kita memiliki tanda-tanda parental burn-out, begini cara mengatasinya:


1. Kontrol yang kita lihat, dengar, pikirkan, rasakan


Kita memiliki hak untuk memilih siapa yang kita follow, ilmu apa yang ingin dipelajari, apa yang ingin kita ketahui.

Nggak semua hal harus kita baca dan dengarkan. Prioritaskan kebutuhan, bukan ikut-ikutan. Hal ini dapat mengontrol pikiran dan perasaan kita untuk lebih nyaman terhadap diri kita sendiri dalam menjalani peran sebagai seorang Ibu.

Bukan lelah teori, tapi lebih jauh tentang kebahagiaan Ibu dan anggota keluarga di dalam rumah, terutama anak.

2. Fokus 


Stop untuk comparing diri dengan orang lain jika diri ini belum dewasa. Dewasa dalam arti bisa mengambil baiknya saja dan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Fokus saja dengan apa goals keluarga kita. Dengan fokus, kita jadi tahu apa yang harus dilakukan.

Saat masalah menerpa, jangan fokus dengan masalahnya. Tapi fokuslah mencari solusi dari setiap masalah tersebut, Bu.

3. Reframing


Reframing di sini adalah mengubah cara pandang kita dalam melihat suatu peristiwa sehingga dapat mengubah arti.

Terkadang, emosi kita mengalahkan logika. Ini bisa menyebabkan gagal mengartikan sebuah kejadian. Karena suatu peristiwa bisa diambil dari banyak sudut pandang. Misalnya dari segi niat, cara, atau bahkan kejadian. Akan selalu ada sisi baiknya kok, Bu.

4. Relaksasi


Diawali dengan menstabilkan emosi negatif (kemarahan, kecemasan, ketakutan). Terima dulu saja emosi tersebut. Sadari emosi itu ada, jangan denial karena bisa menyebabkan bom waktu.

Tidak dipungkiri bahwa emosi negatif bisa memunculkan gejala sakit di tubuh kita seperti sakit kepala, persendian, dll. Ringankan dulu gejalanya. Melakukan pemijatan, obat, istirahat, bisa dilakukan agar badan dalam kondisi yang lebih optimal.

Melakukan sugesti positif untuk meningkatkan energi positif diri juga penting dilakukan. Percayalah, energi yang dihasilkan akan menjadikan kita lebih produktif sebagai Ibu.

(School photo created by jcomp - www.freepik.com)

5. Dari sudut pandang memahami anak

Tidak menuntut anak untuk menjadi sempurna.


Karena kita juga bukan Ibu yang sempurna. Cobalah untuk mencintai segala kekurangan anak dan selalu memaafkan mereka. Menuntut hanya membuat kita akan saling menyalahkan baik menyalahkan diri sendiri, pasangan, maupun anak. 
Wajar anak keliru, salah adalah bagian dari proses pembelajaran. Dampingilah.


Mindful Parenting


Pahami kondisi perkembangan anak, apa yang mereka rasakan, butuhkan dan apa yang mereka inginkan. Cobalah untuk belajar menghargai anak dan memahami sudut pandangnya. Berlatihlah empati terhadap anak.


Happy childhood = Happy adulthood


Fokus pada pengalaman anak saat ini. Memastikan anak-anak memiliki masa kecil yang bahagia dan pastikan mereka merasa aman dengan orang tuanya. Tingkatkan bonding & attachment. Hal ini berpengaruh untuk masa depannya kelak.


•••
Di atas adalah beberapa cara mengatasi parental burn-out. Nampaknya memang sebagai Ibu kita perlu kedewasaan dan empati untuk menjalani peran ini. Menjadi Ibu bukan hal yang mudah, tapi pasti bisa jika belajar lebih baik dari hari ke hari.


Pengasuhan adalah tentang mendidik anak, bukan menujukkan kepada semua orang bahwa anak kita lebih hebat dan kita orang tua yang paling hebat. Fokuslah ke dalam keluarga kita sendiri.


Selain itu, kita juga perlu adanya rasa percaya diri dengan apa yang kita lakukan dalam menjalani peran sebagai orang tua. Jangan terlalu cemas, lebih santai, lebih tenang, agar anak juga merasakan kenyamanan.


(Woman photo created by freepik)

Jika lelah, beristirahatlah sejenak.

Jangan lupa beri apresiasi kepada dirimu, Ibu. Kamu sudah berjuang sejauh ini dengan baik. Proud of you!

Santai bukan berarti malas. Namun santai dalam menjalani peran sebagai orang tua memang diperlukan sesuai prosinya.

Terimakasih sudah mampir. Happy International Mental Health Day! Sehat selalu untuk kita semua. 😉 




You Might Also Like

2 komentar

  1. cek! semua tanda parental burnout aku alami, huhu.. tapi untungnya aku mau mencari bantuan. I thank myself for that. Aku ikut sesi konseling kelompok ibu2 dengan pengalaman baby blues. Alhamdulillah I've come to my senses ever since.
    Mampir ke blog deh, Ibu RainNasha. Aku ceritakan pengalamanku disana. Hehe. Salam kenal dari akuh, Muna Fitria a.k.a mamahfaza.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah Tabarakallah. Sehat selalu untuk kita ya ibuk.🥺

      Thank you, mamahfaza.. aku jalan-jalan ke sana ya. Salam kenal dariku juga 😉

      Hapus

Positive vibes only.