Bolehkah Ada Televisi di Rumah? (Edisi Mendidik Anak Muslim Zaman Now)

  • 3/27/2021 11:44:00 PM
  • By Nurrahmah Widyawati
  • 2 Comments

Konten [Tampil]

Apa yang pertama kalian pikirkan saat mendengar kata "Anak Zaman Now?" Ya, kebanyakan menggiring opini ke hal negatif. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu. Saya pernah melihat suatu video dimana anak yang ada di zaman sekarang sebetulnya adalah hasil dari didikan orang tuanya juga. Saat melabeli mereka dengan hal negatif, ada baiknya orang tua juga melakukan refleksi. Sudahkah kita baik kepada mereka? Lalu.. Bagaimana mendidik anak (muslim) di zaman now? Apakah anak boleh menonton Televisi?

Tantangan mendidik serta mengasuh anak di zaman now memang lebih berat. Teknologi sekarang sangat memungkinkan anak untuk mengakses informasi yang sangat luas di luar sana, bisa jadi sepengetahuan bahkan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Lagi-lagi aku menyadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol apa yang ada di luaran sana, namun sekarang kita bisa mulai untuk menjaga dulu apa yang bisa dijaga di lingkungan dalam keluarga itu sendiri. Rumah adalah madrasah pertama anak-anak.

Tak selamanya buruk, tenologi memunculkan banyak manfaat juga untuk generasi anak-anak kita. Syaratnya adalah jika digunakan secara bijak. Nampaknya ini menjadi PR banyak orang tua di zaman sekarang. Dan itulah mengapa, sebagai orang tua kita jangan pernah lelah untuk belajar dan belajar.

Yang paling erat kaitannya dengan zaman now adalah adanya teknologi seperti internet maupun televisi. Namun kali ini aku akan membahas tentang..

Bolehkah ada televisi di rumah?

Banyak sekali orang tua yang berdebat tentang hal ini. Ada yang pro terhadap TV, ada yang kontra. Kali ini aku akan mengutip buku berjudul Rumahku Madrasah Pertamaku, karya dari Dr. Khalid Ahmad Syantut (penerbit : Maskana Media - Imprint Pustaka Rumah Main Anak).

Kata Mereka yang Antitelevisi

Mereka yang antitelevisi memandang bahwa TV memiliki lebih banyak bahayanya ketimbang manfaatnya. Merekapun kemudian melarang keberadaan TV di rumah (terutama yang muslim). Tujuannya agar konten negatif tidak masuk ke dalam rumah.

Apa saja dampak negatif televisi?

  • Menyiakan waktu dan usia
  • Menganjurkan campur baur (ikhtilat)
  • Terbiasa mendengarkan musik
  • Melalaikan anak dari ibadah dan belajar
  • Menggandrungi tontonan olahraga secara berlebihan
  • Memutus hubungan keluarga (tak sempat saling bersilaturahim)

Kata Mereka yang Protelevisi

Adapun mereka yang protelevisi mengambil pendapat bahwa televisi memiliki manfaat. Diantaranya untuk menonton kajian, mendengarkan berita, menonton acara dokumenter. Selain itu, melarang TV di rumah tak berarti membebaskan anak sepenuhnya dari layar kaca. Mereka masih bisa menonton di kerabat, tetangga ataupun sekolah. Karena itulah mereka tak melarang untuk memiliki TV di rumah.

Namun tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi :

  • Orang tua harus kompak mengenai aturan menonton televisi.
  • Tidak menyalakan TV kecuali saat ada acara dan program bermanfaat.
  • Latih anak sejak dini tentang pemanfaatan teknologi secara bijak.
  • Ajari anak untuk memberikan contoh yang baik. Misalnya mematikan TV saat acara yang bermanfaat telah selesai.
Program bermanfaat meliputi tilawah Al-Qur'an, seminar ilmiah, ceramah agama, siaran berita, acara kesehatan, info lalu lintas, acara anak-anak, dan beberpa program hiburan.

Jadi, Ikut Pendapat Anti atau Pro?

Penulis buku Rumahku Madrasah Pertamaku (Dr. Khalid) berpendapat tentang bolehnya keluarga untuk memiliki televisi. Namun ada syarat utama dan tambahan yang harus dipenuhi oleh orang tua.

Syarat Utama

Orang tua harus sepakat tentang aturan menonton TV. Sepakat mana saja program bermanfaat yang boleh ditonton dan mana saja program berbahaya yang harus di-black list. Kesepakatan ini harus bulat antara Ayah dan Ibu, meski hal kecil dan sepele sekalipun.

Syarat Tambahan

  • Tidak boleh menonton musik, joget-joget, lagu dan film yang penuh dengan perbuatan maksiat, serta olahraga yang membuka aurat.
  • Mematikan TV secara total selama satu bulan sebelum waktu ujian.
  • Menyalakan TV hanya pada akhir pekan dan hari libur.
  • Biasakan buah hati Ayah dan Ibu untuk mematikan TV saat melihat ataupun mendengar sesuatu yang munkar.
  • Memperbanyak piknik.
  • Mengalihkan ke tontonan film islami dan video pembelajaran.
  • Memberikan komputer pribadi (laptop) yang berisi program-program belajar. Ini adalah pesaing TV terbaik bagi buah hati. Mereka cenderung memilih hal ini dan akan meninggalkan TV.

Video Edukasi Pengganti TV

Bagi anak, video berisi film-film islami, film dokumenter sains dan program hiburan positif merupakan pesaing terbaik program TV. Sebagian orangtua yang anti-TV pun menjadikan video edukasi sebagai alternatif. Mereka membeli DVD (download) film-film untuk mengamankan anak dari bahaya TV.

Dengan cara ini, kita dapat mengontrol apa saja yang ditonton anak. Saat anak beranjak dewasa pun, mereka tak akan menentang kita dengan membawa pulang film-film yang tak diizinkan. Inilah yang terjadi dalam mayoritas keluarga muslim.

Oleh karena itu, sekarang ini kita sangat membutuhkan kreator-kreator muslim yang cerdas dan mempunyai skill untuk memproduksi film-film islami. Sehingga bisa mengimbangi program-program TV dan konten film yang negatif.

Allah tidaklah mengharamkan sesuatu melainkan Dia beri alternatifnya. Maka, memberikan alternatif Islami untuk kasus ini adalah sebuah kewajiban pada era sekarang. Wallahua'lam.


***
Ternyata mendidik anak zaman now untuk bijak menonton TV dan memanfaatkan teknologi itu tak mudah ya? Artikel ini sekaligus sebagai reminder untukku sendiri. Semoga bermanfaat juga untuk kalian.

Referensi :
Buku Rumahku Madrasah Pertamaku, karya Dr. Khalid Ahmad Syantut (penerbit : Maskana Media - Imprint Pustaka Rumah Main Anak).


You Might Also Like

2 komentar

  1. Wah penjelasannya sangat detail dan jelas banget kak, terima kasih infonya

    BalasHapus

Positive vibes only.