Ibu, Stop Membandingkan Dirimu! Belajar dari 2 Film ini

        Saat dirimu sudah mulai silau dengan kehidupan Ibu lain, cobalah hening sejenak. Resapi diri dan bercermin. Setiap Ibu pasti memiliki tantangannya masing-masing. Yang terlihat sempurna pasti juga menyimpan luka. Yang sedih hatinya pasti pernah bahagia. Dari pada membandingkan kehidupan kita dengan Ibu lain, lebih baik mulai untuk bersyukur dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Kita bisa belajar dari 2 film lokal ini.
 
1. Milly & Mamet
 
source : id.wikipedia.org

        Ini film lama sebetulnya, tahun 2018. Disutradarai oleh Ernest Prakasa.  Namun masih membekas karena kisahnya merupakan lanjutan dari timeline Ada Apa Dengan Cinta 2. Di film ini Milly (Sissy Priscillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) sedang disibukkan mengurus bayi mereka.
        Mamet memiliki passion memasak dan sempat bekerja sebagai chef, namun kini bekerja di pabrik milik Papa Milly. Pilihan ini sedikit terpaksa karena Mamet menjadi tumpuan keluarga setelah Milly resign dari profesi bankir untuk fokus membesarkan anak.
         Nah, aku nggak akan me-review keseluruhan film, melainkan akan mengambil part-part yang bisa dipetik hikmahnya dan tentunya relate dengan dunia Ibu.
 
        Di suatu adegan saat si Jo (tetangga Milly) ngobrol dengan Milly di dapur. Jo menanyakan dimana Mamet, karena Mamet yang jago memasak apalagi untuk MPASI anaknya. Tumben sekali tidak terlihat di rumah. Akhirnya Milly menceritakan jika Mamet sudah resign dari pabrik dan sekarang sedang membuka restoran dengan temannya. Jo menanggapi bahwa hal itu bagus karena akhirnya dia bekerja sesuai dengan passion-nya.

Milly : "Ya gitu, dia jadi sibuk banget."
Jo : "Ya lo cari kesibukan lah, Mil. Bosen tahu di rumah mulu."
Milly : "Ah, dulu almarhum nyokap gue juga ibu rumah tangga, kayanya baik-baik aja."
Jo : "Ya nggak tahu sih ya. Cuma ya gue liat temen kantor gue kayanya banyak deh yang ninggalin anak-anaknya di rumah. Aman-aman aja tuh."
Milly : "Nggak lah. Gue.. gue nggak apa-apa kok. Seru-seru aja, I'm fine." (Kemudian ada tangisan bayi)
 
        Di sini nampak sekali raut muka Milly yang sebetulnya tidak jujur dengan ucapannnya bahwa dia tidak bosan dan baik-baik saja. Milly sepertinya menyimpan suatu uneg-uneg. Dia ingin bekerja kembali. Ada adegan lain yang mendukung kebimbangan Milly.

Titi Kamal : "Gue tuh ya waktu baru banget lahiran Fabiyan, rasanya tuh rasanya bosen banget. Terus gue langsung nyari kesibukan aja, bisnis, ngapain kek, bantu-bantu Christ. Happy lagi deh gue! Lagian tu kayanya Mbak baru lo udah biasa ya ngurusin anak ya"
Milly : "Nggak tega gue, kasihan Sakti."
Titi Kamal : "Ya kalau mamanya nggak happy, apa dia nggak lebih kasihan?"

        Di sini aku sepakat sih, jika Ibu bahagia maka anak-anak dan keluarga agak merasakan frekuensi yang sama. Meski harus tetap paham kewajiban ya! Hingga akhirnya di suatu adegan si Milly menyatakan rindunya pada Mamet yang kerjanya lebih sibuk mengurus restoran barunya. Kemudian Milly menyampaikan keinginannya juga untuk kembali bekerja lagi. Milly butuh kesibukan.
        Akhirnya Milly izin untuk bekerja kembali, bukan di Bank sebelumnya. Namun dia ingin menggantikan Mamet memimpin perusahaan milih Ayahnya. Karena selain bisa berkegiatan dan membantu Ayahnya, di sana Milly bisa leluasa membawa Sakti ke pabrik. Hingga di suatu saat terjadi konflik. Anaknya sakit, Milly masih sibuk di pabrik. Mamet minta saat itu juga Milly untuk pulang.
 
source : tirto.id
 
Mamet : "Sakti udah tidur".
Milly : "Kamu marah sama aku?"
Mamet : "Ya kan aku nggak tahu harus gimana. Kamu kan yang biasa ngurus dia. Kamu dong yang harusnya ada di sini!"
Milly : "Met, baru sekali ini aja aku nggak ada kamu udah kaya gini? Dari Sakti lahir aku yang ngurusin Met sampai aku nggak punya kehidupan tau nggak?!"
Mamet : "Oh jadi gitu, kamu nyesel ngurusin Sakti?"
Milly : "Ya nggak nyesel tapi kan aku juga pingin aku ada kegiatan".
Mamet : "Untuk saat ini kegiatan yg terbaik buat kamu adalah diem di rumah."
Milly : "Jadi aku yang salah ya? OK aku yang salah. Aku salah udah dukung kamu kejar mimpi kamu sampai papaku yg kerepotan, kirain ini  udah solusi yang terbaik. Kamu bisa fokus ke resto dan pabrik papa juga aman!"
 
         Konflik ini terjadi saat Milly dan Mamet sama-sama sibuk bekerja dan memang ada masalah masing-masing, baik di pabrik maupun restoran. Di sini memang tidak mudah saat memutuskan untuk kembali bekerja. Istilahnya, jadi Ibu di rumah maupun Ibu yang bekerja di luar rumah, sama-sama memiliki tantangannya masing-masing. Sama-sama sulit. Sama-sama punya pertimbangan. Sama-sama mempunyai gejolak batin.
            Ternyata kuncinya ada di rasa syukur, serta komunikasi dan kerjasama antara suami dan istri. Di ending cerita Mamet dan Milly justru resign dari resto dan pabrik. Akhirnya mereka mendirikan catering sendiri. Mamet tetap menjalani passion-nya sebagai cheff dan si Milly tetap bisa menjaga Sakti dan sesekali membantu papanya di pabrik
            Di sini aku juga bisa mengambil hikmah bahwa setiap keluarga punya visi dan misi sendiri untuk menjalani kehidupan. Sulit untuk memakai standar orang yang harus bekerja kah, atau di rumah, atau di kantor, atau freelance dari manapun atau lainnya. Yang paling penting ternyata selalu ada satu sama lain dan saling menguatkan dalam keluarga itu sendiri. Keluarga kita punya standar yang nggak harus sama dengan keluarga lain.

***

2. Rumput Tetangga
 
source : gatra.com

        Ini film 2019 yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Ceritanya, dulu Kirana (Titi Kamal) adalah anak populer dan pintar saat SMA. Sejak dia menjadi Ibu Rumah Tangga, dia mengalami krisis rasa percaya diri. Dia juga merasa bukan istri yang ideal untuk Ben (Raffi Ahmad), suaminya.  Serta dia merasa bukan Ibu yang baik untuk kedua anaknya, Rega dan Windy.
         Film dimulai dengan kerepotan ala Ibu di pagi hari, Kirana mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Ternyata sudah terlambat. Di sana dia bertemu dengan teman SMA-nya yang akan menjadi pembicara, Siska (Chika Jesika). Adegan ini di depan gerbang dengan kepala sekolah (Nunung).

Siska : "Saya terlambat."
Ibu Kepala Sekolah : "Oh nggak apa-apa. Saya sudah bersyukur bu Siska bisa datang ke sini untuk menjadi pembicara untuk anak-anak."
Siska : "Aduh, saya senang sekali bu. Saya semangat sekali. Saya tuh ingin berbagi pengalaman menjadi seorang produser, Ibu. Apalagi sama anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan sekarang itu harus dididik, mereka tidak boleh puas hanya menjadi ibu rumah tangga. Kenapa, Bu? karena kita mempunyai kesempatan yang sama apapun yang kita inginkan, karir apapun kita pasti bisa ya kan bu? setuju kan?"
 
         Siska tidak menyadari bahwa ada Kirana di sebelahnya. Kirana hanya menelan ludah mendengarnya. Hingga akhirnya mereka sama-sama menyadari dan mengobrol sebentar. Siska memberitahu Kirana bahwa teman-temannya sudah sukses semua. Dia tidak tahu bahwa Kirana hanyalah Ibu Rumah Tangga. Justru Siska menduga Kirana sudah menjadi PR terkenal dan hebat.
        Ini terus membayangi Kirana. Terjadi self-confidence crissis di sini. Dia juga sering membandingkan dirinya denga tetangganya, teman-temannya yang karirnya cemerlang, namun Ben (suaminya) selalu membanggakan Kirana no matter what.
        Kemudian anak Kirana dan Ben (si Rega) didiagnosa mengalami disleksia, sehingga membutuhkan perhatian lebih. Di sini Kirana mengajukan ke Ben untuk bekerja agar finansial keluarga terbantu. Tapi Ben menginginkan Kirana di rumah menemani anak-anak, terutama Rega yang disleksia. Rega membutuhkan Ibunya di rumah lebih dari siapapun.
        Kemudian Kirana menghadiri reuni SMA. Singkat cerita, Diana (teman Kirana) berbohong pada teman-temannya bahwa Kirana adalah PR Consultant. Ini dilakukan Diana agar si Kirana dihargai teman-temannya. Selanjutnya, Kirana datang ke stand Madam Sri Menyan saat reuni. Di sana dia mendapat kartu yang bunyinya "Sebelum hari berganti, kembali ke titik awal. Setelahnya tidak akan kembali".
        Sejak saat itu Kirana bangun tidur dan hidupnya berubah 180 derajat. Sekarang dia menjadi wanita yang dia impikan. Ini keinginan terpendamnya sedari dulu. Dia menjadi gadis kembali, wanita sukses dan karir cemerlang. Dia tinggal di apartement mewah dan punya perusahaan PR Consultant sendiri yang sudah terkenal dan hebat. Dia bertukar peran dengan Diana. Kini Diana mejadi Ibu Rumah Tangga.
           Awalnya Kirana sangat menikmati peran barunya, namun lama-lama dia rindu suami dan anak-anaknya. Ternyata ini bukan kehidupan yang dia butuhkan. Dia lebih bersyukur saat menjadi Ibu Rumah Tangga dengan suami yang selalu mendukung dan anak-anak yang selalu ada di samping Kirana. Sedangkan Diana awalnya juga senang dan tidak ingin bertukar peran kembali dengan Kirana. Dia bisa menjadi Ibu Rumah Tangga yang men-support karir suaminya dan tetap percaya diri menjalani peran di depan teman-temannya.
              Namun ada kejadian yang membuat Diana berubah pikiran. Dia rela bertukar peran kembali. Suatu ketika dia mendapati anak Kirana yang perempuan sesak napas. Ternyata Diana tidak mengetahui bahwa Windy alergi kacang. Diana tidak berdaya dan bingung melakukan apa. Kirana datang dan membantu. Ternyata Diana juga kuwalahan saat bertukar peran. Ternyata Diana sulit meng-handle si Rega yang disleksia dan si Windy yang memiliki alergi parah.
 
source : wowkeren.com

            At the end of the day, mereka kembali ke kehidupannya masing-masing. Di sini kita bisa memetik hikmah bahwa kehidupan yang kita inginkan terkadang bukanlah yang kita butuhkan. Allah sudah memberikan hidup sesuai dengan porsinya. Kita tidak akan bisa hidup sebagai orang lain, begitupun orang lain tidak akan bisa menjalani hidup kita.
       Masing-masing dari kita memiliki tantangan beserta kekuatannya. Tidak mungkin bisa bertukar peran dengan orang lain. Peran apapun yang sedang kita jalani sekarang, bersyukurlah. Karena rumput tetangga akan selalu lebih hijau. Fokuslah menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing sebagai Ibu. Semoga ulasanku bisa bermanfaat ya. Coba kalian ada rekomendasi film lokal apa yang bisa menjadi penyemangat para Ibu?
 
***

You Might Also Like

2 komentar

  1. Iya membanding-bandingkan berujungnya pasti jadi kurang baik karna kaya gak bersyukur :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Misalpun benar ditukar posisinya juga belum tentu bisa melewatinya hehe

      Hapus

Positive vibes only.