Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Mengasuh Dua Anak di Perantauan Tanpa ART (Sebuah Tantangan)

4 komentar
Konten [Tampil]

Setiap Ibu pasti memiliki tantangannya masing-masing. Ini yang membuat semua Ibu pastilah hebat dengan versinya sendiri. Salah satu dari sekian banyaknya tantangan dalam dunia motherhood yang aku alami, adalah mengasuh dua anak balita di perantauan tanpa ART (Asisten Rumah Tangga). Aku yakin sih nggak cuma aku yang begini, pasti banyak Ibu yang mengalaminya. Bagaimana ya kalian berdamai dengan keadaan ini? Sharing yuk!


Mengasuh satu anak bayi masih menjadi hal yang sangat menyenangkan dan ternyata mudah. Tapi lain halnya saat anak bertambah. Aku adalah Ibu 28 tahun yang memiliki anak sulung berusia 4 tahun 3 bulan dan si bungsu yang berusia 1 tahun 5 bulan. Kami tinggal di kota X dan jauh dari keluarga. That's mean nggak akan bisa menitipkan anak kepada siapapun di sini. Entah seperti apa perasaan dan urusan yang kami miliki, kami lalui bersama.

Di awal adaptasi memiliki dua anak tentu tak mudah. Ups & downs banyak sekali dan sudah berhasil terlewati. Seiring berjalannya waktu, paling tidak ada beberapa formula yang aku pakai untuk melancarkan hari-hari hectic ini.

1. Management Waktu.

Apa bisa menyelesaikan banyak urusan secepat mungkin? No. Judulnya memang Ibu Rumah Tangga, namun ternyata aku tetap harus membuat skala prioritas dan to do list. Pekerjaan yang sering dianggap remeh namun nyatanya tidak pernah ada habisnya.

management waktu ibu

Bicara perihal skala prioritas, aku selalu mengerjakan hal sesuai dengan kuadran 'suka-bisa' terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan 'suka-tidak bisa' sebagai bahan pelajaran. Untuk kuadran 'tidak suka-bisa' biasanya tetap aku kerjakan dengan kurun waktu yang dipersingkat. Sedangkan kuadran 'tidak suka-tidak bisa' ya nggak akan aku lirik, delegasikan saja. Hehe.

To do list adalah hal yang aku persiapkan pada saat weekend. To do list untuk seminggu ke depan. Ini aku lakukan agar aku bisa memiliki banyangan tentang urusan domestik apa saja yang harus aku selesaikan, urusan publik apa yang harus dituntaskan, materi home edukasi apa yang harus aku ajarkan ke anak-anak, dan segala hal yang ada di keseharianku. Well prepared adalah nama tengahku. HEHE.

Di akhir pekan itu biasanya aku belanja dapur sesuai catatan untuk food preparation selama seminggu. Aku juga membuat agenda aktivitas anak-anak (Nasha & Raina tentunya) untuk seminggu ke depan. Aku juga membuat jadwal agenda domestik, seperti kapan aku mencuci, mengepel lantai, menguras kamar mandi dan sebagainya. HAHAHA. Selanjutnya aku juga merekap agenda publik seperti kelas daring (kulwap, kulzoom, dll) serta deadline tugas lainnya. Meskipun terkadang meleset dari to do list, tapi paling tidak aku jadi tahu kapan aku harus bergerak dan kapan mengambil jeda.

kerjasama suami istri

2. Kerjasama Suami dan Istri

Sebulan yang lalu ada teman suami yang datang ke rumah. Dia takjub dan memujiku karena bisa sabar mengasuh dua anak balita tanpa ART dan tanpa bantuan keluarga (karena jauh tentunya). Kemudian dia menyayangkan dirinya karena memiliki istri yang kurang cekatan dan selalu bergantung pada keluarga besar dalam hal mengasuh anak. Dia juga menjelaskan tentang perselisihan yang kerap terjadi. Begitu katanya.

Saat mendengar hal tersebut aku kemudian berpikir, pasti istrinya akan sedih jika mendengar keluh kesah dari suaminya tersebut diungkapkan ke pihak di luar keluarga inti. Kita tidak bisa men-judge orang hanya dengan mendengar cerita dari salah satu pihak kan? Aku justru cenderung berpikir bagaimana jika istrinya ternyata membutuhkan bantuan support system yang lebih. Dan garda terdepan support system sang istri kan seharusnya suami. Apa mungkin mereka hanya memiliki sistem komunikasi yang buruk satu sama lain? Ah entahlah.

Selama merantau, menurutku yang terpenting adalah kerjasama suami dan istri, no matter what. Sesibuk apapun suami, haruslah punya ancang-ancang untuk membuat hati istrinya lega, begitupun sebaliknya. Istri juga garda terdepan pendukung suami. Karena di perantauan kita hanya bisa saling mengandalkan satu sama lain, entah dalam hal pekerjaan publik, pengasuhan anak, urusan domestik sekalipun, semua butuh kerjasama. By the way, terimakasih ya suami atas segala support-mu! HEHE.    

3. Positive Circle

Jangan merasa sendirian. Temukanlah lingkungan yang positif sehingga bisa membuat hari-hari pelik kita sebagai Ibu berubah menjadi peluk (kaya tagline sebuah film ya). Aku sangat bersyukur memiliki circle yang sangat supportive. Mengambil beberapa kelas meskipun secara daring dan tergabung dalam beberapa komunitas yang membuat hariku lebih bermakna.

Di titik ini aku merasa ada hal yang juga sangat bermakna selain uang, yaitu lingkungan yang baik dan mendukung. Itulah rezeki dari Allah yang patut untuk disyukuri. Karena aku pernah membaca, bahwa "siapa yang dekat denganmu hari ini bisa menentukan akan menjadi apa dirimu kelak". Kurang lebihnya seperti itu.

jurnal harian ibu

4. Membuat Jurnal

Menyediakan waktu di malam hari untuk menulis jurnal harian, seperti hal-hal yang terjadi, hal-hal yang patut disyukuri, dan rencana ke depan yang ingin dilakukan. Aku tipe orang yang sangat percaya dengan kekuatan menulis. Selain sebagai healing untuk diri sendiri, terkadang tulisan lama yang kita baca sekarang memiliki rasa nostalgia tersendiri. Apalagi jika jurnal harian tersebut tertuang dalam tulisan publik, mungkin akan bermanfaat untuk mereka dan membantu healing pembacanya tanpa kita sadari.

sholat


5. Berdo'a

Apalah aku tanpa Allah. Bukan kita yang hebat, tapi Allah yang memudahkan urusan kita. Segala hal yang kita usahakan mungkin gagal, tapi Allah pasti beri yang terbaik dan lebih indah. Segala yang kita persiapkan mungkin meleset, tapi Allah pasti sudah menyiapkan yang lebih kita butuhkan.

    Bu, kamu ini hebat lho! Apapun peran yang sedang kamu jalani, jangan pernah merasa sendirian ya. Me love you.💕


Nurrahmah Widyawati
Seorang lifestyle personal bloger yang menulis tentang dunia perempuan, Ibu, parenting, pengasuhan anak, keluarga, review, hobi.

Related Posts

4 komentar

  1. Semangat, mbakk. Saya sedikit paham sih gimana repotnya mengurus dua anak balita. Saya melihat ibu saya dulu ketika saya masih jadi bocah, kayaknya repot setengah mati. Ditambah lagi, saya dan adik saya hanya beda usia 1,5 tahun loh hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, luar biasa memang kalau jaraknya deket wkwk. Apalagi dulu nggak tahu me timenya ngapain ya Ibu-Ibu tuh. Keren mas Ibunya :)

      Hapus

Posting Komentar