Kehamilan dan Proses Persalinan Anak Pertama

  • 1/31/2019 03:29:00 PM
  • By Nurrahmah Widyawati
  • 0 Comments

Konten [Tampil]

You are pregnant and you are powerful. You are bold and you are beautiful. Go forward in your boldness, in your beauty and in your contentedness. Trust your body to birth and know that the collective power of women worldwide will be with you.”– Author Unknown

Memutuskan untuk tidak menunda kehamilan paska menikah adalah hal yang harus disiapkan jiwa serta raganya memang. Pada hari itu (Januari 2016) saya kedapatan telat haid sepuluh hari. Setelah dilakukan TP (test pack), hasilnya POSITIF! Inilah perjalanan kehamilan dan proses persalinan anak pertamaku.


Hasil USG pertama!


Setelah dokter menyatakan positif serta janin sehat dengan usia kandungan 5 weeks 5 days (HPHT 1 Desember 2015), maka bersiaplah saya untuk bersahabat dengan vitamin-vitamin kehamilan yang setiap hari perlu saya konsumsi.

Trimester awal pastilah mengalami masa-masa moody, tidak nafsu makan, lemah, letih, lesu, serta mual. Ini memang wajar dan pasti berlalu, meski gejala yang dialami setiap ibu hamil berbeda satu sama lain. Di kehamilan pertama saya ini, hal yang paling saya hindari adalah dapur dan kamar mandi. Setiap mulai memasak, badan sangat tidak bisa kompromi. Begitupun saat berlama-lama di kamar mandi, badan langsung bereaksi. Keanehan yang dirindukan saat hamil.😁



Pemeriksaan selanjutnya, janin sehat dengan berat 139 gram. Super excited setiap mengetahui bahwa keadaan calon baby bertumbuh dengan baik. Alhamdulillah.

Memasuki trimester ke-2 saya masih mengalami gejala klasik yang sama seperti trimester pertama. Keadaan tersebut mulai membaik dan berangsur hilang di usia kandungan memasuki lima bulan. Nafsu makan membaik dan sudah mulai beradaptasi dan menikmati prosesnya.

Akhirnya nafsu makan saya kembali, justru semakin meningkat. Sedikit-sedikit merasakan lapar dan kemudian cepat kenyang, tapi kemudian kembali lapar. Masalah lain yang saya alami di kehamilan ini adalah insomnia. Saya tidur larut malam bahkan larut pagi. Susah sekali mengatur pola tidur (fyi: sebelumnya saya selalu tidur rutin pukul 9 malam)

Kali ini berat janin sudah 979 gram, meski terhitung kecil di mata orang-orang, tapi dirasa tidak masalah oleh dokter. Tapi memang plasenta saya masih letak rendah, semoga saja cepat berputar tidak menutupi jalan lahir saat sudah waktunya.
___

Kali ini melewati Ramadhan dan Hari Raya Idhul Fitri hanya berdua dengan suami di peratauan. Merasakan euforia lebaran pertama kali di Tangerang. Kami merencanakan mudik pada H+ lebaran menggunakan kereta api. Kereta api adalah transportasi umum ternyaman saat hamil menurut saya. Dengan memilih KA Bisnis, selain nyaman, di KA juga terdapat toilet yang lumayan bersih dan sayapun dapat berjalan-jalan jika penat melanda. Di usia kandungan sekarang ini, intensitas BAK sudah tinggi dan rawan kaki bengkak.

Untuk memastikan janinn sehat-sehat saja sewaktu mudik, di kampung halaman saya juga melakukan USG.


Waktu itu berat janin masih 1207 gram. Tapi lagi-lagi kata dokter semua baik-baik saja, justru disarankan agar jangan terlalu besar dikarenakan pada usia kehamilan 8-9 bulan perkembangan bayi akan sangat pesat. Dari pada ada kecenderungan untuk diet lebih baik menjaga berat bayi dari sekarang, agar asupan gizi lancar. Posisi janin sudah ok. Alhamdulillah.

Setelah sampai di perantauan kembali, yang awalnya saya sangat malas untuk do something, sekarang malah saya mulai rajin bergerak. Rajin untuk beres-beres rumah, bersih-bersih, sangat menghindari rumah berantakan apalagi kotor, bahkan tiba-tiba menjadi hobi dekorasi rumah, aneh!


_____
Memasuki usia kandungan 34 weeks saya mulai untuk berbelanja kebutuhan calon baby. Hal ini ternyata cukup membuat saya lapar mata. Semua barang baby ternyata lucu, unik, semua bagus, semua ingin dibeli.

Seharusnya bulan ini saya sudah USG, tetapi dokternya tidak di tempat untuk beberapa waktu yang membuat jadwal USG mundur. Semoga semua berjalan lancar mengingat saya sudah memasuki usia kandungan 36 weeks.


Karena sudah memasuki usia kehamilan 40 weeks, saya memutuskan untuk USG di RS yang berbeda dari yang biasanya. Di sana saya bertemu dokter yang sangat pro-normal. Beliau tetap ingin menunggu sampai benar-benar saya mengalami kontraksi alami. Beliau sangat meyakinkan saya bahwa air ketuban masih sangat bagus dan posisi janin juga ok.


 
*Several days later*

I'm back 🖤

"Giving birth and being born brings us into the essence of creation, where the human spirit is courageous and bold and the body, a miracle of wisdom.”

 
16 September 2016 di waktu subuh, perut bagian bawah mulai terasa sedikit aneh. Seperti akan datang bulan (para wanita tahu ya rasanya seperti apa). Kehamilan saya sudah masuk pro-long pregnancy (kisaran 41 - 42 weeks).

Saya dan ibu (yang khusus datang dari jauh untuk menemani persalinan) akhirnya memutuskan untuk grocery shopping saja sekaligus memperbanyak jalan. Sewaktu belanja, perut mulai kram, sepertinya terasa satu jam sekali kala itu. Waktu dzuhur kami pulang dan saya tertidur hingga ashar. Setelah bangun tidur, saya merasakan mules yang semakin menjadi, setengah jam sekali durasinya. Akhirnya setelah waktu maghrib, saya berjalan-jalan keliling komplek karena saya rasa ini sudah bukan kontraksi palsu. Saya harap ini dapat mempercepat proses persalinan.

Setelah isya', saya sudah mulai tidak nyaman. Kontraksi mulai 15 menit sekali, kemudian langsung loncat 10 menit. Hingga saat jam 12 malam kontraksi sudah masuk 5 menit sekali. Tapi honestly, I can't deal with it sejak pukul 9 malam tadi. Saya biasanya sangat bisa menahan rasa sakit saat haid menjelang, karena saya tipe wanita yg sakit sekali saat menjelang haid, tetapi ternyata ini rasanya luar biasa.

Saya dan suami memutuskan untuk pergi ke klinik. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata saya baru bukaan 1, sehingga direkomendasikan untuk pulang terlebih dahulu. Setelah sampai di rumah, saya sama sekali tidak bisa tidur, segala teori tentang pernafasan ataupun gentle birth tiba-tiba hilang. Pada pukul 2 dini hari kami kembali lagi ke klinik, tetapi ternyata masih bukaan 2, kamipun kembali pulang.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan saya sudah sangat lemas serta kesakitan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke klinik dan ini sudah yang ke-3 kalinya. Ternyata masih saja stuck di pembukaan 2. Then, saya mendapat rujukan ke Rumah Sakit untuk penanganan lanjutan. 
 


Jam masih menujukkan pukul 3 pagi, udara sangat dingin menusuk sampai tulang. Kami mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit dengan kisaran waktu perjalanan selama 20 menit. Setelah sampai di sana, saya masuk ruang bersalin. Rasanya lemas sekali, sakitnya menjalar ke seluruh badan, tetapi VT masih saja di pembukaan 3. Akhirnya kami disuruh bersabar dan melakukan teknik-teknik pernafasan agar bisa menikmati kontraksi. Anyway, ini sudah tgl 17 September 2016.
 
Menahan sakit membuat waktu berjalan begitu lambat, sangat lambat. Sewaktu dicek kembali, pembukaan masih saja stuck di 3. Jam terus berdetak, pukul 3 ke pukul 4, hingga akhirnya pukul 5 pagi perawat/bidan menelpon dokter SpOg untuk pemberian keputusan mengingat aku juga masuk pro-long pregnancy. Ada beberapa kekhawatiran yg bisa saja terjadi, pengambilan keputusan maksimal jam 8 pagi dan ini masih jam 6 pagi.

Saya dipasangi infus, dipasang juga semacam alat EKG janin (maybe, sedikit lupa). Ketika saya merasakan kontraksi, saya disuruh memijit tombol di alat tersebut. Tapi semakin lama kontraksi tidak begitu intens, namun sakitnya masih sangat luar biasa. Akhirnya saya diberi suntikan induksi pertama pada slang infus. Rasanya? Rasanya tulang dan daging berpisah dan tidak pada tempatnya (I really can't deal with it).

Setelah itu saya melalui test alergi di tangan, perih sekali, tetapi rasa perihnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kontraksi paska induksi. Jam 7 pagi saya diberikan suntikan induksi yang ke-2. Pasrah, hingga akhirnya saya dimasukan ke ruang operasi.
 


Menggigil, ruangannya super dingin, beberapa kali mengeluh ingin dikecilkan saja suhu AC-nya. Tapi ternyata ini efek dari bius. Sebelum melakukan pembedahan, saya dipasangi kateter, dan ternyata masih saja di VT namun pembukaan stuck di 3. Akhirnya bius disuntikkan di tulang belakang. Dua kali! Rasanya sakit sekali, tapi lagi dan lagi itu tidak seberapa dibandingkan sakitnya kontraksi setelah induksi dua kali.

Perlahan sakit kontraksi menghilang. Bagian perut hingga kaki mati rasa. Pembedahan dimulai. Saya masih sangat bersyukur mendapatkan tim dokter yg bisa mencairkan suasana, meskipun suami tidak diperbolehkan masuk ruang operasi. Padahal ingin sekali rasanya didampingi suami.

17 menit tepat operasi selesai. Saya sama sekali tidak mendengar tangisan bayi, tetapi suami dan ibu di luar ruangan justru mendengar tangisannya. Saya pun tidak diperlihatkan wajah bayi seperti proses persalinan pada umumnya, serta tidak melalui IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Hingga akhirnya saya masuk ruang recovery, 6 jam sendirian, tidak boleh dijenguk siapapun. Kemudian perawat datang menyuruh saya untuk berlatih miring kanan-kiri karena akan dipindahkan ke ruang rawat inap.

Siapa yang mengatakan jika operasi SC (Section Caesar) itu mudah? Setelah bius hilang, rasanya sulit dijabarkan dengan kata-kata. Oh ya! Saya menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, that’s why hanya boleh berada di RS maksimal selama 3 hari. Karena tidak ingin ada charge tambahan dan sudah sangat ingin bertemu dengan bayi saya, saya berlatih untuk bergerak. Seharian saya berlatih miring kanan, kiri, duduk, berdiri, berjalan, menahan sakit yang ternyata luar biasa. Di hari ke-2, saya berhasil berjalan, pelan, menuju lorong utuk menjenguk bayi saya di ruang perinatologi.

Anak pertama saya lahir hari Sabtu, 17 September 2016 pukul 08.17 WIB. Malamnya, anak saya langsung masuk ruang perinatologi karena ternyata leukositnya tinggi, dengan kata lain dia mengalami infeksi. Di sana dia bersama dengan bayi-bayi lain yang  berjuang juga dengan jarum di tangan mungilnya (BB hanya 2.78 kg kala itu). Melalui tangan mungilnya itu, dia mendapatkan suntikan antibiotik sehari 3x selama 3 hari. Saat itu, saya belum pandai laktasi, bayi saya menggunakan susu formula di awal kehidupannya. Jika ada kesempatan, saya akan share perjuangan untuk bisa meng-ASI-i anak saya.

Hingga akhirnya saya diperbolehkan pulang, tapi belum untuk anak saya. Aneh rasanya, paska melahirkan tetapi bayi masih di RS, bersama bukan ibunya. Sedih, pilu rasanya. Hingga keesokan harinya, pihak RS menelpon bahwa anak saya sudah diperbolehkan untuk pulang (alhamdulillah). Dia pulang dijemput ayah dan neneknya, berangkat menggunakan sepeda motor. Sesampainya di RS, tidak ada taxi online maupun konvensional sama sekali yang bisa pick up. Sewaktu itu memang sedang rush hours. Akhirnya mereka pulang dengan menyewa angkot. Maghrib kala itu, sendu sekali rasanya. Inilah sensaninya perjuangan dari titik nol, semoga bisa berbuah manis di masa depan. Aamiin.

“The moment a child is born, the mother is also born. She never existed before. The woman existed, but the mother, never. A mother is something absolutely new. and so in you the child your mother lives on and through your family continues to live… so at this time look after yourself and your family as you would your mother for through you all she will truly never die.”Osho

You Might Also Like

0 komentar

Positive vibes only.