Cerita Sukses WWL (Weaning with Love) #Nasha


Saya sempat berfikir bahwa kehidupan paska penyapihan itu menyenangkan. Tidak ada lagi tiba-tiba ditodong untuk menyusu saat saya sedang memasak, sedang di kamar mandi, atau meski hanya sekedar meluruskan badan alias rebahan di kasur. Memang, sedikit menyenangkan. Selebihnya … rindu.

Menyusui pada dasarkan bukan hanya tentang memberikan ASI (Air Susu Ibu). Bukan pula hanya untuk menggugurkan pemenuhan hak anak, bukan juga hanya ingin terlihat menjadi ibu yang baik karena bisa meng-ASI-hi hingga dua tahun. Bukan. Menyusui itu hakekatnya juga untuk menciptakan bonding yang lebih dalam dan kuat antara ibu dan anak. Momen yang romantis untuk saya dan Nasha. Saat menyusuinya, saya bisa seraya mendo’akannya, menatap wajahnya, mengelus-elus rambutnya, dan bersyukur telah dianugerahi anak sepertinya. Meski tidak dipungkiri, terkadang saya menyusuinya sambil bermain ponsel, membaca buku, menonton TV, bahkan sampai ketiduran, dll. Sorry, baby!

Tiga bulan sebelum anak saya berusia dua tahun, saya sangat menunggu proses penyapihan tersebut, namun ada perasaan nerveous-nya juga. Sounding terus dilakukan dari hari ke hari, memahami dasar dari WWL itu sendiri, dan tidak lupa juga mempersiapkan kemungkinan a-z dalam proses penyapihan yang dijalani.

Apa itu WWL?
WWL (Weaning with Love) maksudnya adalah melakukan penyapihan secara perlahan dan gradual, tanpa pemaksaan dan tidak secara tiba-tiba. Dalam teknik ini, anak juga diajak berkomunikasi dengan sang ibu dan diberikan pengertian mengapa dia seharusnya tidak lagi menyusu. Bukan dengan cara dibohongi. Bukan! Menyusui adalah proses yang tidak mudah untuk saya mengawalinya, sehingga saya memutuskan untuk mengakhirinya dengan indah juga, yaitu dengan metode WWL ini.



Takut. Awalnya saya sama sekali tidak optimis tentang WWL ini. Anak saya (19 bulan saat itu) adalah tipe anak yang memang menyusu adalah sebagai tempat ternyaman untuknya, bukan hanya sekedar mengenyangkan perutnya. Terutama saat menjelang tidur, lelah, atau bahkan paska terjadi kecelakaan kecil sperti terjatuh, terpeleset, terpentok, dll. Jadi menyusu untuknya adalah lebih bersifat rekreasi atau dengan kata lain ‘ngempeng’. Produksi ASI menuju usianya yang hampir menginjak 2 tahun-pun sudah berkurang. Jika melanjutkan proses menyusu ini lebih dari 2 tahun, saya rasa manfaat dari ASI itu sendiri sudah tidak optimal. Jadi saya harus menyiasati bagaimana menerapkan WWL untuk anak saya saat itu.

Sounding.
Percaya nggak kalau sounding itu the power of WWL? Saya dulu sih hanya percaya 50:50. Saya percaya tentang memberi sugesti pada alam bawah sadar anak, tapi untuk case anak saya, pasti membutuhkan effort lebih untuk ini. Saya memulainya saat Nasha berusia 19 bulan. Sounding dilakukan saat bermain, bercanda, membaca buku, bermain peran, menonton tayangan edukasi, serta saya lakukan saat sebelum menyusuinya, dan pada saat proses menyusu tersebut. Tapi belum ada keyakinan 100% dalam diri saya bahwa ini pasti berhasil. Hasilnya? Nasha tidak terpengaruh apapun dengan sounding yang saya buat saat itu. Saat usianya masuk 23 bulan, rasanya lambat sekali progresnya. Pasti ada yang kurang tepat sasaran dalam proses WWL ini. Ada yang tidak efektif.



Then, saya cari tau tentang sounding yang efektif untuk Nasha. Dimulai dari saya sendiri. Saya harus mempercayai 100% terlebih dahulu bahwa sounding ini akan berhasil untuknya. Saya harus percaya bahwa dia pasti paham kapan dia harus dan ikhlas untuk berhenti menyusu dengan ibunya. Saya harus yakin dan percaya bahwa dia pasti bisa diajak kerjasama dan berkompromi. Keyakinan ini akan tertanam pada saya dan ternyata juga pada Nasha secara tidak langsung. Semestapun akan turut mendukung.

Saya tidak mungkin berjuang sendirian. Saya butuh partner. Suami. Saya komunikasikan tentang WWL ini kepada ayah Nasha, tentang bagaimana metodenya, prinsip kerjanya, goals-nya, dan yang terpenting adalah tentang kerjasama. Dalam prosesnya pasti ada sesi cranky-nya. Ini wajar, karena dalam proses penyapihan, anak kehilangan momentum ternyaman dalam kehidupannya, yaitu 2 tahun menyusu dengan ibunya. Peran suami di sini bisa dalam bentuk sounding juga kepada sang anak, menggendong serta menghiburnya, bahkan mengalihkannya dengan hal menarik lainnya.

Then, saya melakukan sounding kepada Nasha saat sebelum tidur, it’s mean saat dia mulai menyusu, saat hampir terlelap, sampai dia terpejam (benar-benar terpejam). Karena momen ini (menurut yang saya baca) ternyata adalah momen yang paling baik untuk anak menangkap sugesti di alam bawah sadarnya. It's work! Maybe it's take times, tapi memang berhasil. Di sini saya pahami ternyata menyapih itu bukan melulu tentang "menunggu anak siap", tapi jika memang sudah waktunya, kita harus cari cara paling efektif untuk membuat anak siap melepasnya (dengan sama-sama ikhlas).

Menurunkan Intensitas Menyusu.
Sesuatu yang kita lakukan dengan mendadak dan tiba-tiba pasti akan membuat kita kaget bahkan trauma, begitupun dengan anak. Proses menyapih dengan WWL bukan proses yang sebentar, tapi butuh waktu, slow but sure.

Dalam proses menurunkan intensitas menyusu, saya mengawalinya sejak Nasha berusia 19 bulan. Saya memiliki target setiap minggunya, berapa kali seharusnya dia menyusu setiap harinya, sehingga saat usianya menginjak 2 tahun dia bisa mencapai titik hampir 0 dalam menyusu. Dari mulai 8 kali menyusu dalam sehari diturunkan menjadi 7, 6, 5, dst, sampai pada titik tersulit, yaitu menyusu pada saat menjelang tidur siang, menjelang tidur malam, dan bangun di tengah malam.

Membutuhkan waktu 2 minggu untuk membuat anak saya bisa tidur dengan tanpa menyusu. Ini titik terberat versi saya, dan dibutuhkan kerja sama antara ayah dan anak juga. Saya berusaha berkompromi dengannya untuk mengganti ASI dengan susu UHT saja (saya menyebutnya susu sapi dengan Nasha), tidak mulus, terkadang berhasil, terkadang jua gagal. Kucinya? konsisten, sabar, coba lagi. Saya berkompromi dengannya bahwa 'susu sapi itu juga enak lho', 'ada gambar sapi di kotaknya' (sampaikan semenarik mungkin), 'minumnya bisa pakai sedotan juga seperti ibu' (saya tidak mengenalkan media dot kepada anak saya anyway), dan terus memberi pengertian bahwa semua anak yang beranjak usianya pasti akan datang waktunya untuk berhenti menyusu, tidak cuma dia saja, tapi semua anak. 




Kemudian saya tawarkan untuk mengelus-elus punggungnya (ini berhasil di Nasha, meski lumayan pegal menantinya sampai tertidur lelap). Setelah berhasil mengalihkan dengan susu UHT, saya tawarkan lagi air putih, karena susu tidak baik dikonsumsi untuk malam (apalagi sudah gosok gigi sebelum tidur). Sampai sekarang, akhirnya Nasha berhasil hanya minum air putih saat terbangun malam hari.

Peran ayah di sini memperkuat statement ibu, bekerjasama menggendongnya untuk bisa tidur, mmberi kenyamanan dalam bentuk lain selain menyusu dengan ibunya.

Mengalihkan perhatian.
Saat anak mulai minta untuk menyusu, cobalah untuk mengalihkan perhatiannya. Dengan apa? mainan, membaca buku, berjalan-jalan di luar rumah, bernyanyi, menari, bermain dengan temannya, dan segala hal yang sekiranya menguras waktu dan bisa membuat dia lupa akan menyusu. Diharapkan dengan lupa yang berulang akan menjadi siklus untuk menurunkan intensitas menyusunya hari ke hari. Dengan berkurangnya intensitas dia menyusu, maka ASI-pun kian menipis (suply = demand). Jadi saya tidak mengalami pembengkakan, penyumbatan, maupun masitis saat proses penyapihan berlangsung.



Setelah tiba waktunya seluruh usaha kita membuahkan hasil, yaitu sang anak dengan ikhlas berhenti menyusu, berikanlah reward untuknya. Apapun, apapun yang sekiranya membuatnya bangga akan dirinya sendiri terhadap pencapainnya dalam proses WWL tersebut.

Menerapkan WWL kepada anak dengan ibu yang selalu ada di sampingnya 24 jam/7hari memang sulit, tapi pasti bisa. Cari cara paling efektif untuk anak kita masing-masing, karena hanya ibunya lah yang paling paham karakter anaknya. Jangan bandingkan anak kita dengan anak lain. Jadikan kelebihan orang lain sebagai bekal kita untuk menjadi yang lebih baik juga.

Terimakasih, anakku. Sukses WWL di usia 24 months 2 weeks.

Kenali sang anak, selami ritmenya, dekati Yang Maha Kuasa, ketuk hati sang anak, cari cara paling efektif untuknya, dan bersabarlah.

Thank you for having me, see ya!


pict by google.
pict by personal doc.






You Might Also Like

2 komentar

Positive vibes only.