Diary Toilet Training #Nasha (Tips Memulai Toilet Training)

pict : google






Sengaja ingin mengabadikan momen dimana anak pertama saya berjuang untuk selangkah lebih mandiri, yaitu memulai toilet training. Terlambat jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Tapi better late than never, kan? So, this is it... Tips toilet training, bagaimana ya caranya?

Idealnya, dari segi usia, anak siap untuk memulai toilet training pada kisaran usia 18-24 bulan. Namun lagi-lagi setiap anak itu unik, ada yang bisa memulainya lebih cepat atau bahkan lebih lambat. To be honest dalam menjalankan proses melepas diapers (popok sekali pakai) adalah hal yang membutuhkan niat besar bagi kedua belah pihak, yaitu ibu dan anak. Proses ini membutuhkan konsistensi, kesabaran, serta tenaga yang lebih dari biasanya.

Sekarang Nasha (anakku) berusia 2,5 tahun. Ini bukan kali pertama saya melatihnya untuk toilet training, yang selanjutnya akan saya singkat dengan istilah "TT" alias toilet training. Dulu, saat dia berusia 18 bulan saya sudah pernah berhasil melatihnya untuk BAB (Buang Air Besar) di kloset. Menurut saya lebih mudah melatihnya untuk BAB saat itu karena melihat ekspresinya yang khas saat panggilan alam itu datang. Namun keadaan memaksaku untuk memulainya lagi sedari nol.

Setelah berhasil BAB di kloset pada usia 18 bulan, kami sekeluarga mudik ke kampung halaman. Di sana Nasha tidak mau BAB sama sekali di toilet. Kebetulan toilet yang ada di kampung halaman adalah kloset jongkok, sedangkan kloset di rumah Nasha di perantauan adalah kloset duduk (dengan dibantu potty training). Dia menangis dan takut untuk BAB di situ (jongkok). Saya takut hal tersebut menjadikannya trauma, akhirnya saya merelakannya lagi untuk BAB di diapers-nya. Apalagi sempat ada drama sembelit akibat dia menahan BAB-nya hanya demi tidak berjumpa dengan kloset jongkok.

Beberapa hari kemarin saya bertekat untuk memulainya lagi sedari nol. Di usia Nasha sekarang yang menginjak 2,5 tahun, dia sudah lancar berbicara. Good luck!

***
pict : google (potty training)
Sebelum praktek TT, saya memberikan sounding terlebih dahulu kepada Nasha tentang segala hal yang berkaitan degan TT tersebut. Saya memberikan insight kepadanya tentang adab masuk toilet yang dimulai dan diakhiri dengan do'a, belajar melepas serta memakai celananya sendiri, seta memintanya untuk memberitahu saat panggilan alam itu datang. Sounding juga saya lakukan dengan membacakannya buku tentang toilet training, memberikan video edukasi tentang toilet training, dan bermain role-play dengannya tentang TT tersebut. Saya juga selalu menunjukkan kepadanya pada saat saya ke toilet. Saya menjelaskan padanya tentang apa yang saya lakukan di dalam toilet. Saya menempelkan sticker menarik di toilet dan membeli potty training berwarna pink bergambar kucing untuk menarik perhatiannya saat proses TT berlangsung.

pict. doc pribadi

pict. doc pribadi
Di hari pertama saya memulai proses toilet training, saya mulai untuk melepas diapers-nya secara perlahan. Prinsipnya seperti WWL (Weaning with Love), saya ingin berproses perlahan dengan sama-sama ikhlas. Di hari itu, saya mengajaknya ke toilet 2 jam sekali. Saat di toilet, dia tidak mau untuk BAK (Buang Air Kecil). Saya menunggunya beberapa menit dan menghiburnya, namun gagal, dia tetap tidak mau BAK. Beberapa menit setelah saya pakaikan celananya kembali, dia BAK di lantai saat bermain. Ujian kesabaranpun dimulai. Mengepel lantai yang terkena pipisnya dan hal itupun berulang hingga 5x. Padahal untuk tidur siang dan tidur malam masih saya pakaikan diapers di hari pertama tersebut.

Di hari ke-dua, pagi hari dia BAB, namun di diapers yang dipakainya sedari malam. Dia tidak bicara jika ingin BAB, malah melapor saat sudah keluar dan dia merasa risih. Setelah itu saya tidak memakaian diapers sama sekali hingga siang. Namun saat tidur siang dan malam tetap saya pakaikan diapers. Di hari itu dia masih ngompol sana sini. Belum mau bicara saat ingin ke toilet atau bahkan saat saya mengajaknya serta menunggunya untuk BAK di toilet, dia belum mau di hari itu. Sad!

Di hari ke-tiga saya memutuskan untuk melepas diapers-nya sepanjang siang termasuk saat moment tidur siang. Surprisingly, dia lebih baik di hari itu, ada progress. Dia sudah mau BAK di toilet saat saya mengajaknya 2-3 jam sekali. Namun saat BAK dia hanya mau posisi jongkok, tidak mau duduk di kloset. Well, tidak masalah. Di hari ketiga hanya satu celana yang terkena ompol. Di malam hari masih saya pakaikan diapers.

pict : google
Di hari ke-empat saya baru memulai proses yang sesungguhnya. Saya melepas diapers-nya secara total. Pagi hari Nasha mengompol hanya satu kali di celana. Setelahnya sama sekali tidak mengompol. Dia kooperatif saat diajak ke toilet 2 jam sekali. Pada saat tidur siangpun saya tidak memakaikannya diapers, hanya saya alasi perlak dan kain. Sepetinya dia mengompol saat tidur siang karena tidak saya cek, mungkin sampai kering kembali (karena baunya sedikit 'pesing'). Nasha juga mulai hafal do'a masuk toilet, meski belum lancar. Progres yang sangat baik menurut saya. Malam ini pun saya coba untuk tidak memakaikannya diapers, hanya saya alasi perlak dan kain untuk tidur.

Hari ke-lima adalah weekend. Biasanya kami sekeluarga sarapan di luar. Ada tantangan tersendiri untuk tidak memakaikan lagi diapers-nya saat pergi. Sebelum pergi saya ajak dia BAK terlebih dahulu. Kami di luar rumah sekitar 2 jam dan ternyata dia tidak mengompol sampai saatnya tiba di rumah. Sorenya, saat Ayahnya mengajak jalan-jalan keliling komplek-pun saya tidak memakaikannya diapers lagi. Surprisingly, we did it! Progress yang menurut saya sangat layak diapresiasi. Di hari ke-lima Nasha hanya mengompol satu kali. Dia juga sudah mulai melepas celananya sendiri saat sebelum ke toilet. Selain itu, Nasha sudah mulai inisiatif untuk memberitahu terlebih dahulu saat panggilan alam itu datang.

Hari ke-enam, akhirnya sembelit itupun berakhir, tiba waktunya melatih (lagi) Nasha untuk BAB di kloset duduk. As a reminder, Nasha selama ini BAK jongkok di lantai anyway, tidak mau duduk di klosetnya. Namun untuk BAB mau tidak mau dia harus duduk di kloset, namun minta untuk dipegangi, karena nampaknya sembelitnya membuat dia tidak nyaman. Sepanjang hari itu Nasha hanya satu kali mengompol, mulai lancar melepas dan kemudian memakai celananya sendiri, mulai muncul inisiatif untuk lari ke toilet saat panggilan alam datang, dan yang sangat saya banggakan adalah saat tidur malam. Nasha terbangun minta untuk BAK di toilet meskipun sambil menangis (mungkin masih sangat mengantuk saat itu). Dia juga mulai hafal do'a masuk kamar mandi.

pict. google
Hari ke-tujuh konsistensi saya-pun diuji. Di hari ini saya lebih banyak menunggu inisiatif Nasha untuk ke toilet sendiri ketimbang menawarinya 2-3 jam sekali untuk BAK. Namun ternyata inisiatifnya belum tinggi di hari k-7 toilet training ini. Nasha mengompol sedikit di celana dan kemudian dilanjutkan ke toilet. Setelahnya dia mengompol kembali di kasur saat bermain. Malamnya, dia keluar dari area perlak dan mengompol di sisi kasur yang tidak terjamah perlak. Zonk sekali hari itu harus mencuci sprei dan menjemur kasur.

Hari ke-delapan, Nasha mengompol 1x di keset, dan lagi-lagi mengompol saat tidur malam di area luar perlak. Nampaknya masalah ini butuh solusi. Karna saat malam saya belum bisa observasi kapan Nasha ingin BAK, saya-pun terkadang tidur sampai pagi dan lupa membangunkan Nasha untuk BAK di toilet. Padahal Nasha tidur dengan aktif sehingga sering sekali keluar area perlak yang ada. Anyway, sebelum tidur selalu saya ajak BAK terlebih dahulu di toilet.

Hari ke-sembilan, saya pergi arisan di rumah tetangga. Saya memakaikan diapers untuk berjaga-jaga, meski saya terus tawari jika ingin BAK. Saat di rumah saya lepas diapers-nya, masih kering.
Hari ke-sepuluh, semua berjalan aman dan lancar. Dia tidak mengompol sama sekali, bahkan saat tidur siang, Namun, Nasha terkadang masih mengompol saat tidur malam. Padahal sebelum tidur saya selalu mengajaknya ke toilet terlebih dahulu. Ini yang masih menjadi PR untuk kami.


pict. google
So far, selama sepuluh hari berjalan untuk melatih kemandirian Nasha dalam hal toilet training (TT), yang paling penting dalam hal ini adalah konsistensi. Berawal dari anak yang belum bisa mengontrol ototnya untuk menahan BAK/BAB, hingga dia paham konsep untuk BAK/BAK, semua butuh konsistensi. Saya mengawalinya dengan mengajarkan adab (agama Islam) saat di toilet, melanjutkan dengan melepas diapers-nya dan hanya memakaikan under-ware biasa saja (bukan under-ware khusus untuk toilet training). Di titik ini anak belajar tentang bagaimana proses saat dia pipis, celananya basah, lantai basah, bisa terpeleset, risih menggunakan under-ware basah, dan lama-lama dia paham untuk mengontrol rasa ingin BAK/BAB tersebut. Kemudian saya lanjutkan dengan mengantarnya ke toilet 2 jam sekali, sampai pada titik dimana dia punya inisiatif sendiri untuk BAK/BAK ke toilet.

Saya cukupkan untuk share proses TT Nasha sampai hari ke-10. Saya merasa ini sudah merupakan progres yang baik, tinggal me-mantain konsistensinya saja. Inisiatif Nasha untuk BAK/BAB di toilet sudah sangat baik, bahkan dia bisa melepas celananya sendiri dan berlari ke toilet. Yang masih menjadi PR untuk saya selanjutnya adalah saat tidur malam. Saya masih mencari solusi agar Nasha bisa tidak mengompol di perlaknya. Sebelum tidur saya sudah selalu mengajaknya untuk BAK di toilet. Memang butuh pembiasaan, tapi saya yakin selama anak sudah siap dan paham konsepnya, maka ini tidak membutuhkan waktu yang sangat lama. Bismillah.

Dalam hal bepergian, untuk area dekat (2-3 jam di luar) Nasha sudah tidak mengompol (alias tanpa diapers). Saya selalu mengajaknya ke toilet sebelum pergi. Namun jika harus pergi seharian, saya masih memakaikannya diapers, namun saya tetap mengajaknya BAK di toilet umum. Namun memang tak dipungkiri, beberapa tempat tidak memiliki toilet yang proper, apalagi untuk anak-anak. Namun sejauh ini, setiap diajak pergi, Nasha tetap bisa menjaga konsistensinya untuk tidak mengompol. Diapers-nya masih tetap kering se-sampainya di rumah. Masya Allah tabarakallah.


pict : google
Sekian sharing saya saat melatih Nasha dalam hal toilet training selama 10 hari. Kesimpulannya, ternyata mudah kok untuk "say good bye" dengan diapers asalkan niat, mulai saja, jalani prosesnya. Yang terpenting adalah anak paham konsep BAK/BAB saat dia sadar (tidak tidur). Nanti lama kelamaan pasti anak akan terbiasa juga untuk mengontrol BAK saat tidur kok, yang ini memang membutuhkan waktu. Untuk tidur siang (karena sebentar) memang mudah. Sedangkan untuk tidur malam, masih berproses. Terkadang berhasil, terkadang gagal juga. Jangan fokus pada hasilnya, tapi pastikan saja setiap proses dapat dijalani dengan enjoy. Konsistensi dan kesabaran ayah/ibunya sangat penting, pun dalam hal bekerjasama antar anggota keluarga di rumah. Setiap anak itu unik, jangan lihat lamanya proses, tidak perlu dibandingkan. Namun, pastikan saja semua BER-PROGRES. Hari esok harus lebih baik dari pada hari ini.

THANKS FOR READING THIS. Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat ya...

***
Update setelah beberapa minggu :
Nasha sudah tidak mengompol di malam hari. Dia bisa dengan sadar membangunkan ibunya saat ingin BAK (meski dalam keadaan sangat mengantuk). Alhamdulillah, good bye Diapers...

You Might Also Like

0 komentar

Positive vibes only.