Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Antara Bullying, Inner Child, dan Self Healing

Posting Komentar
Konten [Tampil]
stop perundungan


Apakah kamu tahu tentang bullying, inner child, dan self healing? Kalau belum, yuk ulik bareng di artikel ini.

People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer.” ― Dan Pearce, Single Dad Laughing.

Bullying is a horrible thing. It sticks with you forever. It poisons you. But only if you let it.” ― Heather Brewer, Dear Bully: Seventy Authors Tell Their Stories.
(((It sticks with you forever)))

Familiar dengan kata bullying? Mungkin sebagian dari kita justru ada yang pernah mengalaminya. Meski sebagian yang lain justru sebagai pelakunya. Atau mungkin ada juga yang dulunya terkena bullying, kemudian tumbuh menjadi sosok pelaku bullying, sebagai bentuk balas dendam (secara sadar maupun tidak sadar) terhadap masa lalu.

Sebenarnya, apa itu bullying?

Penindasan (Bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. (wikipedia)

stop perundungan

Seperti yang kita semua tahu, bahwa bullying tidak dapat kita hindari dalam kehidupan sehari-hari; baik di rumah, lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, kantor, dan segala penjuru dimana terdapat interaksi sosial manusia (termasuk ditujukan kepada new mom).

Pernah menyangka tidak, jika Taylor Swift juga mengalami bullying? Lihat artikel di bawah ini :
KapanLagi.com - Pernahkah Anda berpikir mengapa lirik dalam lagu You Belong With Me milik Taylor Swift berbunyi, "but she wears short skirts, I wear T-shirts; she’s Cheer Captain and I’m on the bleachers"? Dalam sebuah interview dengan Teen Vogue, ia mengatakan, "Saat SMP aku 'dibuang' oleh gadis-gadis yang terkenal. Teman-teman menganggapku aneh karena aku menyukai musik Country. Mereka menjadikanku lelucon."
See? Bullying itu membekas. Bisa jadi, ini masuk dalam inner child seseorang yang menetap dari kecil hingga dewasa. Parahnya, jika inner child tersebut masih ada dan kita belum berdamai dengannya, itu dapat mempengaruhi pola asuh anak kita secara langsung maupun tidak langsung. Ya! semacam lingkaran hitam yang berulang.

Untuk sebagian orang, hal tersebut dapat membuatnya UP saat bisa berdamai dengannya dan bisa menjadi semakin DOWN jika belum bisa menerimanya. Berdamai dengan segala hal yang menyakitkan memang tidak mudah. Terutama pada tahap accepting. But, tidak ada yang tidak mungkin. Do the best, Let’s Allah do the rest.
 

Then, apa itu inner child?

Dalam psikologi populer dan psikologi analitik, inner child adalah aspek anak yang individual. Ini termasuk apa yang dipelajari seseorang sebagai seorang anak, sebelum pubertas. The inner child is often conceived as a semi-independent subpersonality subordinate to the waking conscious mind. (wikipedia)

Mudahnya seperti ini:

Anak yang pernah mengalami bullying baik di rumah maupun sekolah, mengalami penolakan oleh lingkungan, diabaikan, penuh tekanan, mengalami kekerasan fisik, dibentak, dll, adalah beberapa contoh kejadian yang dapat meninggalkan luka psikologis pada anak. Luka psikologis yang diperoleh pada masa kecil inilah yang sering disebut dengan inner child.

Luka masa lalu yang tanpa sadar sudah masuk ke alam bawah sadar seseorang tersebut bisa kembali muncul saat ia menemukan suatu kondisi yang kurang lebih sama dengan kondisi masa lalunya. Kebanyakan muncul saat seseorang telah berumah tangga dan memiliki anak.

Inner child tentang kondisi rumah tangga, hubungan dengan pasangan, hubungan dengan anak, akan terpanggil dan terbayang dengan gambaran kondisi masa lalu yang dialami serta dirasakan sebelumnya. Sehingga tidak jarang, anak yang dahulu melihat orang tua mengasuh dengan adanya unsur bullying, ketika kini memiliki anak akan mengadopsi perilaku tersebut pada anaknya (sadar maupun tidak sadar).

Kalian tahu Bill Clinton? Ini kisahnya :

Dia merupakan mantan presiden sekaligus politikus yang sangat berpengaruh di dunia. Namun sebelum menjadi seorang Bill Clinton, dia pun terlebih dahulu menjadi siswa SMP biasa. Waktu itu badannya cukup gemuk dan dia tidak begitu fashionable.

Melalui Memoirnya, My Life, Clinton sempat menyinggung tentang bagaimana insiden yang sempat dia alami. Dulu seniornya sempat mengolok-olok celana jeans ‘sang presiden’ yang masih kecil, bahkan sempat memukul rahangnya. Namun waktu itu Clinton tidak melawan, tidak juga menyerah.

Dia hanya diam. Dari sana dia belajar kalau banyak sekali cara untuk menghadapi suatu agresi atau katakanlah, serangan. Kisah bullying yang ia alami tidak membuat Clinton terpuruk. Ia justru mengembangkan diri dengan menjadi pemain saxophone dan seorang politikus handal.
 
SEE? Bullying bisa terjadi kepada siapapun, tinggal bagaimana kita menyikapi dan bereaksi terhadap keadaan tersebut. Kita cukup menghela nafas panjang, berdo’a, berusaha, dan yang paling penting untuk diingat bahwa hinaan/cercaan/segala bentuk bullying yang mereka lakukan kepada kita tidak akan mengubah nilai kita.

That’s it! Berdamailah dengan masa lalu, bukan untuk mereka, melainkan untuk diri kita sendiri.
No matter what happens in life, be good to people. Being good to people is a wonderful legacy to leave behind.” - Taylor Swift.

Then, bagaiamana cara kita berdamai ketika sedang atau telah mengalami luka psikologis tersebut?

Dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah Tadzkiyatun nafs yaitu mensucikan jiwa. Sedangkan dalam istilah psikologi disebut dengan Self healing.

Caranya :

Menyadari. Kita harus terlebih dahulu menyadari bahwa ada luka dalam diri ini yang perlu disembuhkan. Jangan lupa juga untuk muhasabah diri terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat.

Tahap accepting. Setelah kita menyadari adanya luka, kita mencoba untuk masuk ke tahap penerimaan atas segala yang telah terjadi. Terima saja, karena dengan menerima kita akan lebih mudah untuk berdamai dengan luka. Menerima bukan pura-pura lupa atau pura-pura baik-baik saja. 

Memaafkan. Setelah menerima, marilah kita berusaha untuk memaafkan, baik terhadap kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain kepada kita maupun kesalahan yang telah dilakukan oleh diri sendiri. Tidak ada makhluk yang smpurna bukan? kesempurnaan hanya milik Allah Sang Maha Pemaaf. 

Memperbaiki diri. Dengan terus memperbaiki diri dan berusaha untuk tidak mengulangi atau mengingat kembali kesalahan yang lalu, hidup kita akan lebih ringan dan damai.

Jika perlu bantuan kepada ahlinya, pergilah! Jangan sungkan untuk meminta bantuan terkait self healing tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat kembali dan mengubah masa lalu. Tapi, setiap orang punya kebebasan untuk memilih berdamai dengan masa lalu dan memiliki masa depan yang bahagia dan penuh cinta.

Semoga masa lalu yang pernah ada tidak membuat diri menjadi lemah, tapi sebaliknya semakin menguatkan diri untuk lebih baik di masa depan dengan memetik hikmah dari setiap kejadian yang ada.

cara self healing

Hidup bukan melulu tentang harta, uang, ketenaran, fisik yang perfect, make up mahal, pujaan semua orang, menjadi hits dalam kelompok sosial, dan semua kepalsuan yang bisa hilang.

Hidup juga tentang ikhlas menerima ketetapan-Nya, berbagi dengan yang membutuhkan, legowo dengan semua perbedaan. Mulai sekarang, semoga kita menjadi lebih bijak lagi menghadapi segala perbedaan dan permasalahan.

Mulai sekarang, semoga kita bisa mengubah persepsi kita tentang arti hidup dalam keberagaman dan berdamai dengan keadaan.

Semoga bermanfaat ya artikel Antara Bullying, Inner Child, dan Self Healing ini. Bahagia selalu :)

ibu di balik gawai


Nurrahmah Widyawati
Mom of 2, Blogger, 9 Antologi's book author, Digital illustrator, Life long learner • Hi, for details tap page "about me" thanks! :)

Related Posts

Posting Komentar