Pages

Jumat, 02 Oktober 2020

Mengajarkan Anak tentang Arti Kekalahan

Nyatanya, dalam hidup, kita tidak selalu dihadapkan pada hal yang membahagiakan. Tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud, tidak semua hal yang kita mau bisa dimiliki, kita tidak selalu bahagia. Ya, namanya juga manusia. Selama masih di dunia, pasti ada sedihnya.

Aku teringat sebuah momen bersama Nasha, anak pertamaku yang berusia 4 tahun. Beberapa pekan lalu dia mengikuti lomba 17 Agustus di komplek perumahan kami. Dia tampak begitu bersemangat untuk mengikuti perlombaan, meski teman-temannya terlihat lebih tinggi dan besar.

"Ibu, nanti kalau menang dapat hadiah kan?" Nasha bertanya padaku sambil melirik meja yang penuh dengan bingkisan hadiah.

"Iya, tentu saja. Tapi yang paling penting bukan menang atau kalah, tapi Nasha senang kan mengikutinya?" Aku mencoba untuk menetralisir keinginan menangnya yang kian membuncah.

"Tapi Nasha mau hadiahnya!" Kata Nasha sedikit cemberut.

"Nasha lomba aja yang baik, yang jujur, nanti kalau menang pasti dapat hadiah. Kalau kalah juga nggak apa-apa. Namanya perlombaan pasti ada yang kalah dan ada yang menang", ucapku.

Aku tidak yakin dengan jawabanku. Apa jawaban itu bisa diterima oleh anak usia 4 tahun? Hahaha entahlah. Aku hanya takut jika harapannya terlalu melambung, namun ternyata runtuh di akhir cerita.
Perlombaanpun dimulai. Nasha mengikuti lomba makan kerupuk, memasukkan bendera ke dalam botol dan memasukkan paku ke dalam botol. Aku mengenalkan vibes perlombaan ini bukan agar dia tau arti dari kemenangan, tapi lebih kepada berani dan punya mental untuk berjuang.

Sesi demi sesi terlalui, dan Nasha kalah. Nasha meghampiriku dan bertanya apakah dia akan tetap dapat hadiah. Tentu saja "tidak" kataku. Raut wajahnya nampak sedih dan dia tetap ingin mendapatkan hadiah. Bagaimana menyikapi situasi seperti ini?

Berikut adalah beberapa tips untuk mengajarkan anak tentang arti kekalahan :

1. Mengakui emosinya (kesedihannya)

Mengakui kesedihannya adalah hal yang tepat. Melakukan denial justru akan menjadikan bom waktu. Anak kecil memang memiliki kecenderungan untuk selalu menang, dan itu wajar.

Beri tahu si Kecil mengapa mereka kalah dan mengakui bahwa orang yang mengalahkannya memang lebih baik dari darinya di saat itu. Lakukan sentuhan fisik seperti mengelus punggung, menepuk bahu, maupun memeluknya akan membuat perasaannya lebih tenang.

Jelaskan padanya bahwa kekalahan bukan hal yang harus ditakutkan. Menerima kesedihannya dan belajar untuk lebih baik dari kekalahan tersebut akan jauh lebih berharga untuknya.

2. Mengenalkan dengan betapa pentingnya sebuah proses
Setelah anak bisa sedikit nyaman menerima kekalahannya, kita bisa mengingatkan akan pentingnya sebuah proses.

Flashback kembali bagaimana serunya tadi saat pertandingan berlangsung. Bagaimana kelucuan dan keseruan yang terjadi di sekitar. Rasakan sensasi dari pengalaman saat lomba berlangsung.

Diskusi dengan si kecil tentang sebuah proses. Bahwa untuk menang, bukan hal yang instan. Bahwa meraih kemenangan adalah dengan berdo'a, berlatih, belajar, dan serangkaian proses yang ada.

Ibu bisa ceritakan bagaimana dulu Ibu bisa melakukan sesuatu dengan berlatih terlebih dahulu. Ceritakan prosesnya.

3. Munculkan empatinya
Saat anak sudah kembali nyaman menerima perasaan sedihnya karena kalah, ajak dia untuk berempati dengan cara memberikan selamat untuk para pemenang.

Namun, tentu jangan dengan dipaksa. Lakukan saja senatural mungkin. Jika anak belum mau, bisa dicoba lain waktu. Karena sejatinya anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan belajar dari bagaimana empati orang dewasa di sekitarnya.

"Childern see, childern do."

4. Apresiasi
Tidak ada salahnya untuk tetap memberikan hadiah untuk si kecil saat mereka kalah. Namun, tetap harus dijelaskan bahwa hadiah tersebut dimaksudkan untuk apresiasi terhadap prosesnya.

Apresiasi anak dari segi prosesnya, keberaniannya, kejujurannya saat berlomba, dll. Dengan tepat dalam memberi apresiasi, maka anak akan merasa dihargai dan memiliki self love yang baik.

5. Tenang dan Sabar
Tidak dipungkiri, ada kalanya anak-anak memunculkan sifat-sifat yang lumayan membutuhkan effort untuk dikendalikan. Misalnya anak menjadi tantrum, berteriak, menangis keras, dll saat mengalami kekalahan.

Kunci dari menenangkan anak yang cranky seperti ini adalah di orang tuanya. Saat orang tuanya mindfull, tenang, sabar, maka anak akan lebih mudah kita kendalikan. 

Karena sebuah energi positif dalam diri kita akan menular ke sekitar, terutama anak kita sendiri.

•••
Nah, sekian tips yang aku lakukan saat mengajarkan arti sebuah kekalahan untuk Nasha, anakku.

Mungkin yang perlu kita sadari, jangankan anak kecil, orang dewasa-pun banyak yang tidak bijak menyikapi kekalahan sehingga banyak kebencian, kecurangan, iri dengki dan segala hal buruk akibat tidak mau menerima kekalahan.

Padahal, nggak apa-apa lho untuk kalah. Nggak apa-apa untuk juara 2, 3, 4, dst. Menikmati prosesnya adalah koentji.

Kalau kalian, ada tips khusus nggak sih untuk mengajarkan anak menerima kekalahan? Share juga dong.

Terimakasih sudah mampir. Stay safe!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Positive vibes only.