Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Aliran Rasa Tahap Telur-Telur (Kuliah Bunda Cekatan Batch#2 Institut Ibu Profesional)

2 komentar
Konten [Tampil]
 
Sudah sebulan (4 pekan) melewati tahap telur-telur. Tahap mengulik diri tentang sebuah kesukaan, kemampuan, prioritas dan kebutuhan mendesak. Yang sulit ternyata adalah bukan menjabarkan suka dan bisa melainkan menuliskan prioritas mendesak yang harus dipilih untuk 6-7 bulan ke depan selama kelas Bunda Cekatan berlangsung. Inilah Aliran Rasa Tahap Telur-Telur (Kuliah Bunda Cekatan Batch#2 Institut Ibu Profesional).

Di tahap telur hijau (di sini), masih mudah untuk menuliskan kuadran demi kuadrannya. Suka-bisa, suka-tidak bisa, tidak suka-bisa maupun tidak suka-tidak bisa. Berlanjut ke telur merah (di sini), sudah mulai menyipitkan mata, bahwa ternyata dalam realitanya, hidup kita dihadapkan dengan sebuah prioritas. Meliputi penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, serta tidak penting-tidak mendesak. Pada akhirnya, yang dipilih belum tentu apa yang sepenuhnya kita suka dan bisa 100%, melainkan harus menguliknya terlebih dahulu melalui diskusi keluarga dan menyelesaikan penghalang lainnya. 
 
Setelah itu di tahap telur jingga (di sini) mulai terlihat benang merahnya. Ternyata kebutuhan penting-mendesak yang ada, bisa dikaitkan dengan suka-bisa. Ada relasinya. Ternyata cabang ilmunya ada yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Mulai bisa membuat strong why dan memahami gaya belajar. Mulai amazed di sini dan mulai ada AHA moment-nya yang selama ini belum fokus dikulik.
 
Selanjutnya adalah membuat peta belajar (mind map). Di sini saya mulai berani untuk berkata "saya mau ambil ini dulu sekarang". Peta belajar ada di sini. 
 
Terkadang sebagai manusia sosial, sulit rasanya untuk bilang "tidak". Banyak hal yang menggiurkan di luar sana, sebuah trend atau bahkan tentang cahaya menyilaukan dari pencapaian orang di luar sana. Tentang standar kesuksesan, standar aktialisasi diri paling sempurna, dan standar-standar lainnya. Nyatanya, standar itu tidak selalu cocok untuk diri sendiri. Berani untuk berkata "tidak" karena memang belum dibutuhkan. Berani untuk bilang "ini menarik, tapi aku belum tertarik/membutuhkannya". 
 
Perjalanan di Bunda Cekatan akan terus berlanjut, ini masih sangat awal. Harus dijalani, meski terkadang kehilangan kompas, senter, dan petunjuk lain. Paling tidak sejauh ini saya memiliki peta, sehingga saat senter orang lain sudah mulai menyilaukan mata saya, atau saat kompas sudah mulai harus dikalibrasi, saya masih memiliki peta. Saya memiliki petunjuk untuk melihat apa alasan kuat saya ada di titik ini. Apa alasan saya memilih ini dan sebagainya.
       
Apapun di depan sana, semoga pilihan yang diambil bisa menambah kualitas diri dan menopang segala peran sehari-hari. Toh memilih satu prioritas selama 6-7 bulan Bunda Cekatan ini bukan berarti kita berhenti untuk belajar hal lain. Ada waktunya masing-masing. Gigit dan kunyah satu persatu, biar nggak keselek gaes. Ganbatte, Widya!
Nurrahmah Widyawati
Mom of 2, Blogger, 9 Antologi's book author, Digital illustrator, Life long learner • Hi, for details tap page "about me" thanks! :)

Related Posts

2 komentar

  1. Halo mbak, salam kenal yaa 😊😊

    Aku tertarik sekali lho membaca artikel tentang telur2 ini. Aku langsung klik link di telur sebelumbya. Kuliah ini khusus untuk Ibu ya? Kalau perempuan single boleh ikutan nggak sih? 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi mba kartika. salam kenal ya, aku widya hehe.
      Kuliah ini namanya Institut Ibu Profesiona mbak. Di dalamnya mayoritas Ibu Ibu tapi banyak bgt yang single juga. Karena ilmunya menyesuaikan dengan diri sendiri dan applicable. Mbak bisa buka instagramnya untuk info joinnya di Ibu Profesional Official (di instagram). Bisa ngulik di situ ya :)

      Hapus

Posting Komentar