Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Penyakit Kusta Bisa Sembuh, Bukan Kutukan! (Talkshow KBR x NLR)

71 komentar
Konten [Tampil]
fakta hoax kusta

Senin, 13 September 2021 kemarin, saya mengikuti sebuah Talkshow Ruang Publik KBR yang dipersembahkan oleh NLR Indonesia. Talkshow ini mengusung tema Gaung Kusta di Udara, bertujuan untuk meluruskan stigma dan hoax kesehatan di masyarakat. Faktanya, penyakit kusta bisa sembuh, penyakit ini bukan kutukan!

Talkshow ini menghadirkan dr. Febrina Sugianto (Junior Technical Advisor NLR Indonesia) dan juga Malika (Manager Program dan Podcast KBR). Talkshow dipandu oleh host Rizal Wijaya dan juga sebagai peringatan Hari Radio Nasional yang diperingati 11 September lalu.

A. Kondisi Penyakit Kusta di Indonesia

Ternyata Indonesia menempati peringkat tiga terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang sebetulnya miris ya. Ternyata masih banyak kasus kusta di Indonesia sekarang ini.

kasus kusta di indonesi

Kasus Kusta di Indonesia dari tahun 2020 jumlahnya 16.700 kasus. Sebetulnya kasus ini menurun dibandingkan data pada 2019 yaitu sebanyak 17.439 kasus. Namun penurunan kasus ini bisa menjadi kabar baik maupun kabar buruk untuk kita. Mengapa?

Menjadi kabar baik jika memang benar data tersebut menunjukkan eliminasi kasus yang kita usahakan sudah tercapai. Namun bisa jadi kabar buruk kalau memang menurun dikarenakan screening yang dilakukan tidak rutin, karena ada restriksi pandemi.

Sekarang ini di Indonesia sebanyak 26 provinsi mengalami eliminasi kusta, namun ada 8 provinsi yang belum berhasil eliminasi kusta. 8 provinsi itu meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Di 2019 kasus kusta pada anak masih mencapai 11% dan untuk 2020 mencapai 10%. Wah, ternyata masih banyak anak-anak yang terjangkit ini ya. Kita perlu banget untuk tahu seluk beluk kusta ini.


B. Akses dan Stigma Menjadi Penghambat Penurunan Jumlah Kasus Penyakit Kusta di Indonesia

Dalam talkshow tersebut dr. Febrina mengungkapan bahwa yang menyebabkan sulitnya penurunan angka kusta di beberapa daerah adalah faktor accesbility dan stigma masyarakat.

Karena adanya stigma masyarakat yang buruk tentang kusta, maka ada beberapa orang yang sudah terdiagnosa dan bergejala kusta tidak mau mengakses fasilitas kesehatan karena takut dikucilkan.

Malika juga mengungkapkan bahwa stigma buruk masyarakat dikarenakan tingkat literasi kesehatan terutama tentang kusta ini masih rendah. Padahal sebetulnya kusta itu bukan penyakit yang penularannya mudah lho!

Penyakit kusta yang masih merajalela di Indonesia ini diakibatkan oleh terlambatnya penanganan, serta diskriminasi untuk para pengidap kusta. Oleh karena itu KBR bekerjasama dengan NLR Indonesia menggaungkan kusta dan ingin memberi informasi pada masyarakat bahwa kusta ini bisa diobati, jangan dikucilkan. Yuk lawan hoax!


C. Literasi Tentang Penyakit Kusta dan Gejalanya

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan.

Mengutip alodokter.com, Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaitu ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin.

Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab kusta tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita.

kusta adalah
Pict. source : alodokter.com

Dokter Febrina mengungkapkan bahwa ada dua jenis kusta, yaitu PB (Pausi Basiler) dan MB (Multi Basiler). Untuk yang paling banyak di Indonesia adalah jenis Muti Basiler. Perbedaannya adalah :

Pausi Basiler 

  • Lesi sedikit (karena jumlah kumannya lebih sedikit). Adanya bercak di kulit 1-5.
  • Adanya hipopegmentasi (warnanya lebih cerah dari kulit sekitarnya)
  • Distribusi asimetris (di bagian tertentu saja)
  • Ada mati rasa pada lesinya (fungsi syaraf di tempat tersebut berkurang)
  • Mengganggu fungsi sel syaraf (misalnya hanya sel syaraf bagian tertentu, wajah saja misalnya)

Multi Basiler

  • Lesi lebih dari 5, menyebar
  • Distribusi simetris dan merata (sisi kanan kiri, dll) 
  • Mati rasa
  • Mempengaruhi lebih dari satu syaraf

D. Meluruskan Hoax tentang Penyakit Kusta

lawan hoax kusta

D.1. Kusta bukan kutukan

Di masyarakat beredar hoax bahwa kusta adalah sebuah kutukan akibat dosa yang dilakukan di masa lalu. Pernyataan ini memiliki efek buruk untuk OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta).

Mereka akhirnya  tidak mencari solusi atau jalan keluar, justru cenderung ada perasaan malu untuk keluar atau mencari pertolongan. Jadi tidak bisa terditeksi. Bahkan sebagian komunitas masih mengucilkan mereka. Karena berpikir bahwa OYPMK akan membawa bad luck/kesialan bagi komunitas tersebut.

Padahal, kusta itu bukan kutukan!

D.2. Kusta tidak menular dengan sentuhan

Banyak orang yang tidak mau menyentuh atau berdekatan dengan penderita kusta dalam satu ruangan yang sama. Ini akan berdampak buruk bagi OYPMK, karena mereka perlu ditemukan dan diobati.

Pengobatannya pun panjang dan butuh support. Apabila banyak orang yang tidak mau berdekatan dengan mereka, bagaimana mereka dapat support untuk menjalani pengobatannya?

Yuk support mereka!

D.3. Kusta bisa disembuhkan

Banyak beredar hoax bahwa kusta tidak bisa disembuhkan. Ini fatal karena akan mempengaruhi psikis si penderita, mereka akan putus asa dan tidak mau berobat.

Padahal kusta bisa diobati, bisa sembuh, dan aktivitas normal lagi. Asal jangan sampai terlambat pengobatannya.


E. Pengobatan Penyakit Kusta

Pengobatan kusta disebut dengan MDT (Multi Drug Therapy), yaitu kombinasi obat dengan bentuk blister (1 sachet) yang isinya beberapa obat dan diminum setiap hari.

Untuk kusta dengan tipe pausi basiler, setiap blister untuk 1 bulan , diperlukan 6 blister yang dikonsumsi selama 6-8 bulan. Sedangkan tipe multi basiler, setiap blister untuk 1 bulan, dan diperlukan 2 blister yang dikonsumsi untuk 2-18 bulan.

gaung kusta di udara

F. Sesi QnA tentang Penyakit Kusta

  • Apakah perlu tempat atau bangsal khusus untuk penderita kusta?

Tidak perlu. Jika sudah konfirmasi kusta, maka bisa dimulai pengobatannya. Ketika pasien mulai  mengonsumsi MDT, maka 72 jam setelah dosis pertama maka sudah menurun resiko penularannya (kurang dari 20%).

Kusta juga tidak mudah ditularkan sebetulnya. Butuh kontak erat, yaitu lebih dari 15 jam. Misalnya interaksi intens dalam satu rumah.


  • Apa saja program yang dilakukan NLR Indonesia untuk menekan hoax dan yang berkaitan dengan kusta?

Ada 3 program uatama, yaitu zero transmission (menghentikan transmisi), zero dissability (mencegah terjadinya kecatatat), dan zero exclution (menurunkan stigma). Semuanya bersifat awareness.

Program SUKA (Suara untuk Indonesia Bebas Kusta) adalah salah satu program unggulan NLR. Sasarannya adalah masyarakat umum melalui talkshow di radio secara bulanan, webinar dengan mahasiswa ilmu kesehatan, media-media melalui kontennya, lingkungan kerja, dll.

Khusus untuk pandemi, NLR melakukan kegiatan tatap muka dialihkan secara online. Atau bisa juga offline tapi sesuai protokol kesehatan.


  • Bagaimana cara mengembalikan kepercayaan diri OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta)?

Caranya adalah menstimulasi kebesaran hati mereka. Memang tidak bisa instan. Kita mengubah pola pikir individu tersebut agar mereka memahami bahwa penyakit ini bisa sembuh, dan bisa kembali ke masyarakat. Akhirnya mereka memiliki kualitas hidup yang baik kembali.


  • Apa efek samping pengobatan kusta dan apakah kinerja syaraf bisa kembali normal paska kusta?

Untuk beberapa orang, efek pengobatan ada yang terjadi perubahan warna kulit jadi lebih gelap, gangguan saluran pencernaan (mual, sakit perut), rasa panas. Berbeda tiap orang. Lakukan konsultasi ke petugas kesehatan untuk mengetahui apakah itu efek samping obat atau reaksi kusta atau bukan.

Ada beberapa orang yang bisa pulih normal kembali syarafnya setelah sembuh dengan melakukan terapi khusus (seperti latihan repetisi dll), namun ada juga yang menetap. Ini berbeda-beda tiap orang. Jenis latihannya pun berbeda, namun selalu ada harapanPengobatan bisa tersedia di semua puskesmas.

talkshow KBR dan NLR Indonesia

Wah banyak sekali insight yang bisa didapat dari talkshow KBR dengan NLR Indonesia ini. Semoga ulasan di atas bisa bermanfaat dan kamu share ke lebih banyak orang agar mereka juga memiliki literasi kesehatan yang baik.

Jadi, yuk kita sebarkan fakta dan lawan hoax! Kita ubah stigma negatif masyarakat terhadap penyakit kusta dengan meningkatkan literasi mereka tentang penyakit kusta ini. Jika ada gejala atau orang sekitar yang menunjukkan gejala kusta segera hubungi puskesmas terdekat.

Dokter Febrina berharap, dengan ini masyarakat akan berempati pada penderita kusta karena sudah mendapatkan literasi kesehatan yang baik, bukan hanya karena belas kasihan.

Faktanya, penyakit kusta bukan kutukan. Faktanya, penyakit kusta bisa sembuh!

ibu di balik gawai

Nurrahmah Widyawati
Mom of 2, Blogger, 9 Antologi's book author, Digital illustrator, Life long learner • Hi, for details tap page "about me" thanks! :)

Related Posts

71 komentar

  1. Wahh sebuah artikel yang sangat informatif untuk saya Mba,
    selama ini banyak yg mengira kusta itu menular hanya lewat sentuhan. Kadang juga kalau ada yg kusta auto diajuhi orang sekitar karena takut ketularan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terus aku mikir gimna ya perasaan mereka yang terjangkit . aku puny aponakan yang juga terlihat bercak putih di bagian kulit lehernya saat aku menyampaikan itu apa ya, aku pikir panu tapi kok kayak mulai melebar ya ini makanya aku excited buat mencari info terkait penyakit kulit ini

      Hapus
    2. Iya memang nggak salah juga sih wong masyarakat belum tau. Makanya sambil menyebarkan literasi kesehatan biat mereka teredukasi ya mba :( biar penderita makin merasa banyak support dan semangat sembuh...

      Hapus
  2. Ternyata masih banyak kasus kusta di Indonesia ya, kirain cuma satu dua kasus doang. Saya masih mikirnya kusta ini penyakit sekitar tahun 60-an dulu yg sekarang udah hilang. Bahkan stigmanya masih kuat banget ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya terutama luar jawa kak yg masih banyak karena faktor akses kesehatan dan edukasi stigma :(

      Hapus
  3. Beneran nih, kusta tentu bukan kutukan, begitu jg dgn penyakit besar lainnya. Makanya semoga lewat tulisan ini makin bnyk org yg peka dan peduli thd oppak dan penyandang disabilitas.

    BalasHapus
  4. Kasus kusta ternyata tinggi ya mbak. Tapi aku belum tau apa itu kusta :( dan belum pernah melihat langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pikir ak juga belum pernah liat lgsg mba. Dan kemudian ak inget pernah liat di jalan orang dengan gejala tsb. Memang penting bgt edukasi ini ya mba :'(

      Hapus
  5. Saya tercerahkan dengan artikel ini, padangan negatif saya terhadap penyakit kusta ini tercerahkan oleh informasi ini, thanks informasinya yaa 🙏

    BalasHapus
  6. Seru banget webinarnya, sangat mengedukasi kita tentang penyakit kusta.

    BalasHapus
  7. Aku jadi makin kenal sama penyakit kusta dari ulasanmu di sini, Kak. Makasih banyak yaaa. Sayang sekali akses informasi di ujung Indonesia kadang gak merata jadi banyak miss komunikasi juga dan akhirnya kurang pengetahuan untuk banyak hal. Semoga informasi ini makin mudah disebarluaskan dan bisa menurunkan angka penderita kusta di Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga literasi kesehatan Indonesia semakin baik ya mba :') biar sebaran informasi fakta no hoaxnya merata

      Hapus
  8. Pengetahuan baru nih buat saya. Wlp tahu kusta memang bisa sembuh tapi gak sedetail ini

    BalasHapus
  9. Kebetulan aku juga ikut nyimak talkshow ini kak, seru banget dan makin sadar soal kondisi kusta, penyembuhan dan kesempatan mereka yang setara untuk bekerja. Semoga kita makin baik dengan OYPMK yah kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iyakah kak? Semoga kita jd agen penyebar berita baik ya dengab ini ;)

      Hapus
  10. Setuju memang literasi ttg kusta perlu disebarluaskan.
    Yg perlu gaungkan sekarang, kusta bukan penyakit kutukan, tdk mudah menular, dan paling penting bisa dsembuhkan ...

    BalasHapus
  11. Walaupun melandai kasus kusta tidak bisa dibiarkan aja ya, harus semangat untuk mengupayakan agar negeri kita bebas kusta.

    Bisa kok...bisa, semangat. Dengan edukasi dan sosialisasi bahwa kusta bisa sembuh dengan lekas diobati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat. Semova Indonesia MAKIN SEHAT ya kak aamiin ;)

      Hapus
  12. Yes edukasi soal kusta ini masih blm menjangkau banyak orang lhoo. Seneng dehh ada blogger eh banyak blogger yang mau menuliskan ini untuk edukasi ke masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku happy juga turut andil menyebarkan literasi kesehatan ini kak ;)

      Hapus
  13. Mungkin masih banyak yang menyangka kusta menular lewat sentuhan, karena kusta ini terlihat oleh mata telanjang. Jadi orang yang melihatnya sudah merasa jijik duluan.

    Nah, informasi edukasi seperti ini yang perlu diperbanyak, apalagi stigma masyarakat tentang kutukan masih mengakar kuat di masyarakat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak bener banget. Mereka yg kaya gt hanya kurang edukasi aja. Semoga ke depannya literasi ini semakin meluas aamiin ;)

      Hapus
  14. Betul, bisa sembuh ternyata Masya Allah, jadi harapan terbaik ya buat para penderita kusta, asalkan memang cepat diketahui dan diberikan obat yang tepat :) semoga sdh tdk ada lagi yg menderita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba mereka butuh support. Makasih dah mampir ;)

      Hapus
  15. Gak menyangka kasus pada anak tahun 2019 dan 2020 masih banyak yang mengalami sakit kusta ya mba... Semoga masyarakat lebih paham literasi kesehatan yang seperti ini sehingga tidak ada stigma negatif ttg penyakit kusta mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak ak juga mayan kaget pas dengernya. Semoga Indonedia bisa lebih sehat dan bebas kusta ya mba :)

      Hapus
  16. wah aku suka pemaparannya mbak wid, iya aku pun sepakat ya penyakit apapun sih sebenarnya butuh dukungan ya baik materipun. mental khushsnya.

    wah aku baru saja mengikuti webinar ttg hoax duh emang deh harus nih kita banyak memebrikan edukasi dr sumber yang valid kayak gini biar info terkiat kusta ini bisa menyebar denganinfromasi yang benar.

    wah semoga ada kesempatan untuk mengikuti seminarnya langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga mbak. Iya berita hoax harus mulai dilenyapkan dengan banyakin berita baik dan berita fakta ya mba :') SEMANGAT

      Hapus

  17. Pemahaman dan pengetahuan akan penyakit kusta memang belum banyak diketahui orang sehingga seringkali mengucilkan para penderita, ada baiknya dari pemerintah memberikan edukasi tentang hal ini agar masyarakat tahu bagaimana cara mencegah dan mengobati penyakit ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul juga ya mba, dimulai dari lingkup kecil di sekitar lewat tangan pemerintah biar merata edukasinya :'?

      Hapus
  18. tantangan terbesar sepertinya pada stigma masyarakat ya mb. butuh effort besar untuk menyebarkan edukasi ini. terima kasih mb, sudah memberikan informasi yang valid :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba butuh switch stigma. Butuh lebih banyak berita fakta biar mindsetnya berubah :')

      Hapus
  19. Artikel ini menjadi edukasi yang baik sekali untuk membantu melawan hoax kesehatan terkait penyakit kusta. Buat saya pun, jadi menambah wawasan, sehingga kalau nanti masih ada yang menganggap kusta adalah aib dan penyakit kutukan, saya bisa bantu jelaskan.

    BalasHapus
  20. alhamdulillah makin tercerahkan soal penyakit kusta, malah aku kira sudah nggak ada lagi kak. Nyatanya masih ya.

    BalasHapus
  21. jadi ingat dulu aku juga termasuk yang percaya kalau kusta itu cepat menular, mbak. makanya agak takut kalau dengar kata kusta ini. eh ternyata untuk penularannya terbilang lama dan mereka yang terkena juga bisa disembuhkan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, akupun dpt pencerahan dari webinarnya :)

      Hapus
  22. Penting sekali memang penjelasan edukatif kpd masyarakat ttg penyakit kusta ini, spy gak ada lagi stigma negatif thp penderitanya.

    BalasHapus
  23. Nah ini, informasi baik harus terus diproduksi untuk memberikan informasi yang baik kepada mereka yang punya stigma buruk kepada penderita kusta. Dan tentu saja informasi ini akan membesarkan hati para penderita kusta bahwa banyak yang sayang dan peduli kepada mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak betul. Karena mereka butuh support kita ;) makasih dah mampir

      Hapus
  24. Informasi begini nih yang harus diketahui banyak orang, bahwa kusta itu bisa sembuh..banyak orang kan udah jiper duluan kalau di diagnosa kena kusta, berasa kena kutukan, jadi mereka malu untuk berobat. Padahal bisa disembuhkan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba bisa. Semoga semakin tercerahkan ya masyarakat kita :')

      Hapus
  25. Sedih juga ya, angka kasus penyakit kista di Indonesia masih tinggi. Informasi tentang kusta ini penting banget untuk disebarluaskan supaya masyarakat teredukasi dg informasi yg benar, gak terjebak hoax, prasangka atau mitos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lumayan kak di luar jawa masih tinggi. Semoga semakin baik literasi semakin bisa menurunkan angkanya :')

      Hapus
  26. Artikel ini sangat baik untuk mensosialisasikan apa dan bagaimana memandang penyakit kusta. Memang masih banyak pemikiran yang salah, karena masyarakat kita lebih senang dengan 'katanya' dibanding membaca atau mendengar penjelasan yang sebenarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun. Apa2 katanya :( semoga semakin banyak berita fakta di internet semakin tercerahkan...

      Hapus
  27. Banyak banget mitos negatif tentang kusta yang merugikan dan menyudutkan penderita. Ini PR terbesar pemerintah dan kita semua...

    BalasHapus
  28. Andai saja aku tahu ini sejak dulu mba, ta kasih tahu bibi ku :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bibi kenapa mba? :( Semoga itu yg terbaik ya mba...

      Hapus
  29. Artielnya sangat bermanfaat untuk edukasi penyakit kusta..

    Obatnya gratis di puskesmas tapi menjalani pengobatnnya butuh dukungan dari berbagai pihak..

    Semoga Indonesia segera suses eliminasi kusta..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya obatnya lama kaya TBC mba. Butuh bgt support daei sekitar untuk sembuh :'(

      Hapus
  30. Isu negatif ini yang membuat para penderita merasa seperti dikucilkan ya mba. Semoga dengan adanya gaung tentang kusta membuat masyarakat lebih terbuka lagi tentang penyakit Kusta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba :( semoga dengan tingginya literasi ini semakin tercerahkan ya mba

      Hapus
  31. Melawan hoax menjadi langkah utama yang harus diperangi ya mb, biasanya orang akan lebih percaya pada yang hoax hoax hitu. Semoga hoax makin menurun bahkan hilang ya kan kasihan mereka para penyintas.

    BalasHapus
  32. Informasi ini harus kita sebarluaskan ya mbak, karena selama ini banyak orang yang menganggap kusta ini adalah penyakit kutukan, dan mereka yang menderita penyakit ini di asingkan. Masha Alloh ternyata kusta/lepra bisa di sembuhkan. Alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mbak, dulu ak pernah baca juga tentang pengasingan ini. Semoga literasi kusta makin membaik ke depannya :')

      Hapus
  33. Iya loh Mbak. Edukasi seperti ini wajib terus digaungkaan. Masih banyak pr untuk menjelaskan penyakit-penyakit seperti ini biar para penyintas g dikucilkan masyarakat :((

    BalasHapus
  34. Hmm.. gemesh bacanya, kok masih ada saja drama stigma berlaku untuk kusta, yach! Padahal sekarang ini kan era teknologi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener kak, sekarang tinggal banyakin literasi tentang kusta aja bia makin banyak yang teredukasi dan nggak kemakan hoax :)

      Hapus
  35. kayaknya aku salah satu yang kemakan isu, ku kira kusta segampang itu menularnya, wah harus lebih banyak tahu edukasi beginian, penting bgt biar penderita kusta juga ga dikucilkan

    BalasHapus

Posting Komentar