Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Konferensi Ibu Pembaharu: Wujud Peran Perempuan di Era Digital

43 komentar
Konten [Tampil]
konferensi ibu pembaharu 2021
Ilustrasi by Nurrahmah Widyawati

Konferensi Ibu Pembaharu: Wujud Peran Perempuan di Era Digital
- Perempuan akan menemukan persimpangan di ujung jalan saat sudah menjadi Ibu. Bukan, itu bukan masalah. Sejak bergabung dalam komunitas Ibu Profesional, ini lebih tepat disebut sebagai tantangan.

Di tahun 2016, lima tahun lalu, anakku lahir. Dia adalah putri kecil yang harus mencicipi ruang perinatologi di awal kehidupannya. Saat itu saya sudah resign dan full sebagai Ibu Rumah Tangga. Kami merantau dan ini jalan yang keluarga kami pilih.

Bukan tanpa tantangan keputusan itu diambil. Saat itu aku masih linglung dengan kondisi yang ada. Terbiasa bertemu banyak orang, mengerjakan pekerjaan kantor dan lapangan, mengisi training, serta deadline yang tiada henti. Namun saat anak pertamaku lahir, hidupku juga terlahir kembali, kehidupanku mulai berubah.

Mendidik dan mengasuh anak pertama bukan hal yang mulus. Tentu ada omongan-omongan tak mengenakkan hati, tapi sayangnya tak mengenyangkan perut.

"Enak ya di rumah, uang tinggal minta suami"
"Nggak punya penghasilan sendiri? emang nggak malu minta terus sama suami?"
"Nggak bosen apa di rumah? Kudet lho nanti!"
"Nggak mandiri tau kalau di rumah aja tuh!"
"Sayang banget ijazahnya dong nganggur begitu?"

Cukup sekian, bisa panjang kalau dilanjutkan hahaha. Intinya, keputusanku saat itu dianggap salah. Ya, sakit hati pasti.

Kan jelas-jelas kondisi dan situasi setiap keluarga itu berbeda. Kita harus menghargai keputusan masing-masing.

Tapi pada akhirnya, aku turut berterimakasih pada orang-orang yang sempat underestimate pada predikat Ibu Rumah Tangga saat itu. Dari situlah aku bisa menjadi seperti sekarang. Thanks anyway!

A. Menemukan Makna Diri di Era Digital Lewat Komunitas Ibu Profesional

Tak ingin lama-lama insecure, aku mulai mengulik apa yang bisa aku lakukan sembari mengerjakan tugas domestik dan mengasuh anak. Dari rumah dan berbekal gawai aku menemukan komunitas itu di tahun 2018.

Komunitas Ibu Profesional lah yang mengubahku menjadi Ibu yang lebih memaknai hidup. Dari sana aku belajar tentang manajemen waktu, berkarya dari rumah, percaya diri, membangun mimpi kembali, ilmu pengasuhan anak dan banyak sekali hal lainnya. Ujungnya adalah menjadi sosok perempuan, istri dan ibu yang senantiasa bersungguh-sungguh menjalani perannya.

Kemudian aku teringat pernah menuliskan mimpi, dalam setahun hingga lima tahun ke depan apa yang ingin dicapai? Di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional itu aku mulai berani bermimpi.

Sedikit mengintip di catatan yang dibuat 2018 silam, aku menuliskan dalam lima tahun ke depan, aku ingin menjadikan passion menjadi hal yang produktif serta menghasilkan.

Dalam lima tahun ke depan juga aku ingin memiliki karya yang bermanfaat untuk orang lain (baik berupa tulisan blog yang rutin, buku antologi, buku solo, dll). Saat menulis itu aku betul-betul dalam kondisi terbawah. And this is it!

memanfaatkan teknologi untuk produktif

A.1. Menulis Buku Antologi & Memiliki Wadah Nulis Buku Bareng

Aku berhasil merealisasikan buku antologi pertamaku di tahun yang sama setelah aku menuliskan impian itu. Di 2018, menulis buku antologi belum semarak 2021 sekarang ini. Tentu aku merasa lebih bermakna pada saat itu.

Dari rumah, ternyata kita tetap bisa berkarya. Aku harap orang yang membaca tulisanku bisa mendapat manfaat, semangat, inspirasi, serta bisa bangkit dari hal yang menjatuhkannya. Meski masih "buku keroyokan", namun aku harap apa yang ditulis tetap bisa diterima dengan baik.

Ada satu buku antologi yang relate dengan topik ini. Aku menuliskan naskah berjudul "Wanita Berdaster di Balik Gawai" dalam buku tersebut. Di situ aku mengungkapkan bahwa dengan gawai, seorang IRT sekalipun tetap bisa berdaya daru rumah. Dari sini jugalah inspirasi judul blog ku bermula.

nulis buku bareng

Randomly, di awal tahun 2021 aku ditawari rekan untuk bergabung menjadi co-founder suatu wadah nulis buku bareng. Langsung aku terima ajakan tersebut. Apalagi strong why kami membuatnya adalah untuk mewadahi para perempuan untuk bisa bersuara lewat kata dan karyanya. Hingga kini kami sudah mewadahi mereka untuk launching 2 buku antologi.

A.2. Menjadi Blogger

Memang aku sudah passionate menulis di blog sejak SMA, sempat vakum juga. Namun saat itu hanya menulis, tidak ada bekal teknis yang lain. Hingga akhirnya aku memberanikan diri terjun ke dunia blogger yang sungguh-sungguh di awal 2021 ini. Semakin belajar, semakin tahu bahwa ilmu blogging itu sangat luas dan aku masih sangat pemula.

Tapi perlahan aku belajar dan yakin suatu saat bisa ada di titik profesional. Meski kini aku memiliki tantangan baru, yaitu sudah memiliki dua anak sholehah yang kini berusia 5 tahun dan 2 tahun. Kami masih merantau dan tanpa ART (Asisten Rumah Tangga). Managemen waktu adalah tantangan bagiku.

blogger perempuan

Memang belum sebesar para rekan blogger lain dalam hal monetisasi blog, namun alhamdulillah blog ini sudah mulai 'menghasilkan' dari sponsor post dan content placement.

Jadi ingat impian yang aku tulis tentang menjadikan passion menjadi hal yang produktif serta menghasilkan. Aku mulai merealisasikannya, tentunya tetap dari rumah saja.

Anyway, aku menamakan blog ini dengan "Karya Kata Ibu di Balik Gawai", nggak lain untuk menggaungkan kepada para Ibu, bahwa dengan gawai kita bisa kok berkarya. Betapa beruntungnya kita ada di era digital ini. Tak terbatas ruang dan waktu untuk produktif. Semoga tulisan di blog ini juga bisa bermanfaat dan menjadi solusi untuk para pembacanya.

A.3. Optimasi Instagram

Dalam waktu senggang aku juga sesekali mengoptimasi instagram untuk mempromosikan brand tertentu (sponsor post). Ini tak terencana sebetulnya. Namun entah mengapa ada jalan yang membuka peluang itu, jadi manfaatkan saja hehe.

Dari sini aku percaya dengan apa yang pernah Ibu Septi katakan, "bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu".

Selain optimasi media sosial milik pribadi, aku juga membagikan konten baik dalam instagram suatu komunitas. Menjadi tim dalam media sosial komunitas membuka mindset-ku juga tentang cakap digital literasi.

A.4. Tukang Nggambar

Satu lagi peluang yang aku dapat dari memanfaatkan teknologi dan informasi adalah menjadi tukang nggambar. Ini berawal dari keisengan memposting hasil gambar digital pribadi di instagram. Kemudian beberapa rekan minta untuk digambarkan juga. Jadilah membuka jasa gambar untuk segmen tertentu.

Disclaimer, aku tidak memiliki basic menggambar. Aku belajar semuanya lewat internet. Dan juga menggunakan alat seadanya (hp android).

open commission art
Ilustrasi by Nurrahmah Widyawati

***
Dari empat hal di atas, aku juga memanfaatkan gawai untuk mencari bahan ajar Home Education bagi anak-anakku yang kebetulan belum sekolah (baik sekolah online sekalipun). Jadi aku sangat merasakan bahwa teknologi ini sudah sangat memudahkan kegiatan kita dan meningkatkan produktifitas.

Kini aku semakin menyadari betapa pentingnya untuk mau belajar mengikuti zaman, nggak gaptek. Di era digital ini ternyata banyak peluang kita untuk memperolah informasi dan berkarya meski dari rumah saja. Mungkin orang pikir berkarya pasti menghasilkan 'cuan'. Tapi bagiku no!

Kita bisa berkarya sesuai value, dan 'cuan' itu adalah bonus. Karena jika kita berkarya hanya mengharapkan 'cuan' semata, bisa jadi berhenti di tengah jalan saat hal tersebut tidak sesuai ekspektasi.

B. Peran Perempuan di Era Digital

Lagi-lagi kita termasuk sangat beruntung karena ada di era digital. Era dimana kita bisa dengan mudah mendapatkan dan menyebarkan informasi dengan suatu teknologi. Teknologi digital ini terkoneksi dengan suatu sistem komputerisasi yang terhubung dengan internet.

Dengan adanya teknologi, maka kita menjadi tidak asing dengan gawai alias gadget dalam kehidupan sehari-hari, dari mulai ponsel, komputer, laptop, tablet, dll. Kemudian bisa terhubung dengan dunia maya dan berjejaring di sana lewat media sosial dan lainnya.

Seperti mata uang yang memiliki dua sisi, begitupun dengan teknologi digital ini. Ada positif dan negatifnya. Positifnya adalah, teknologi ini memudahkan urusan serta meningkatkan produktivitas, bahkan bisa menciptakan karya. Negatifnya, tentu ada.

perempuan cakap digital

Kini saatnya perempuan untuk melek digital. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari interaksi kita dengan dunia digital terutama internet:

B.1. Cegah tsunami informasi

Menjadi up to date itu penting, namun jangan sampai keblabasan. Pahami batasan diri untuk menerima informasi. Pilah pilih informasi yang bermanfaat serta sesuai dengan kondisi. Sesuatu yang terlalu berlebihan tentu tidak baik, bisa jadi burnout.

B.2. Berantas hoax

Cukupkan hoax sampai di tanganmu. Jangan sebarkan hal yang tidak jelas sumbernya. Pastikan kamu tidak terlibat dalam penyebaran hoax ini. Jangan lupa juga saat menyebarkan informasi, sertakan sumbernya jika memang informasi tersebut dikutip dari orang lain (cegah plagiasi). Ini terkait etika informasi.

B.3. Meminimalisir FOMO (Fear of Missing Out)

Dengan dalih takut kudet alias takut ketinggalan informasi, seseorang bisa menjadi kurang bijak dalam menggunakan teknologi. Ada yang berlebihan dalam hal waktu penggunaan, berlebihan mencari informasi, menerima informasi secara berlebihan pula, bahkan asal saja share informasi. Tetaplah produktif dalam dunia nyata.

Terkadang FOMO ini juga ujungnya menciptakan insecurity, apalagi kita bisa melihat apa saja dalam media sosial. Padahal tiap pribadi itu unik dan tiap diri ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

B.4. Melindungi anak dari konten negatif

Saat sudah menjadi Ibu, ada tambahan tugas terkait dengan era digital ini. Melindungi anak bukan melulu melarangnya untuk ini dan itu. Sebaiknya kita jelaskan terlebih dahulu fungsi dari gawai, batasan mana yang harus diingat dalam memanfaatkan teknologi dan berikan literasi digital pada si anak sesuai usianya.

ibu anti gaptek

Peran Ibu di sini sangat krusial terhadap generasi digital yang lebih teredukasi. Karena Ibu adalah madrasah pertama anaknya untuk belajar. Diharapkan kelak generasinya menjadi cakap dan bijak serta bertanggung jawab terhadap teknologi tersebut.

Tidak hanya bisa pakainya saja. Apalagi sekarang maraknya hate speech di media sosial yang ternyata dilakukan oleh anak-anak. Yuk gaungkan cakap digital literasi dimulai dari rumah-rumah kita.

B.5. Perbanyak konten baik

Kita harus turut andil memperbanyak konten kebaikan hingga tak ada lagi ruang untuk konten negatif. Perbanyak karya!
*
Dari hal diatas ternyata peran perempuan di era digital bisa dibilang sesuai dengan tagline Ibu Profesional, yaitu Belajar, Berkembang, Berbagi, dan Berdampak.

 

C. Konferensi Ibu Pembaharu: Wujud Peran Perempuan di Era Digital

Aku sudah pernah membahas sedikit tentang Konferensi Ibu Pembaharu di artikel sebelumnya : Menuju Konferensi Ibu Pembaharu, Dari Rumah untuk Dunia. Sudah dibaca belum? Kalau belum, nanti jangan lupa mampir ya! hehe. Di sana aku menuliskan tentang :
  • Apa itu KIP Ambassador?
  • Apa itu Ibu Pembaharu?
  • Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
  • Tujuan Konferensi Ibu Pembaharu
  • Isu Utama Konferensi Ibu Pembaharu
Jadi aku akan melanjutkan pembahasan selain hal di atas ya :)

***
Aku merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan komunitas Ibu Profesional. Di sini kami sudah terdidik untuk cakap digital sedari awal. Perkuliahan yang kami jalani sudah secara daring melalui WhatsApp Group, Google Class, Zoom, Facebook Group, serta beberapa platform lainnya.

Hal tersebut di atas tidak membuat kami kaget saat pandemi melanda hingga memaksa semua lapisan untuk di rumah aja. Nyatanya, kami selama ini sudah produktif belajar dari rumah aja dengan memanfaatkan teknologi digital internet.

Ibu Profesional sejak 2011 telah konsisten membangun lingkungan dimana semua perempuan membawa perubahan pada diri, keluarga, dan lingkungannya. Sehingga IP mampu melahirkan ribuan Ibu Pembaharu yang siap berbagi solusi. Menginspirasi perempuan seluruh dunia untuk turut menjadi ibu pembaharu dengan memulai aksi dari rumah.

konferensi ibu pembaharu adalah

C.1. Kapan Konferensi Ibu Pembaharu berlangsung?

Konferensi Ibu Pembaharu (KIP) adalah perhelatan 1 dekade Ibu Profesional yang mengusung topik pemberdayaan perempuan dari rumah untuk dunia. Hal ini juga mendukung tercapainya SDG (Sustainable Development Goal) atau tujuan pembangunan berkelanjutan.

KIP berlangsung pada tanggal 18 - 22 Desember 2021.

Kegiatan dimulai pukul 10.00 - 21.30 WIB, satu hari ada 4 sesi konferensi. Durasi setiap sesi adalah 90 menit di jam-jam utama (primetime), dengan jeda 5 menit setiap 25 menit sesi.

C.2. Siapa saja yang boleh mengikuti Konferensi Ibu Pembaharu?

Program ini terbuka untuk semua member Ibu Profesional dan UMUM. Dapat diikuti oleh perempuan lajang maupun sudah menikah, ibu maupun calon ibu, baik bekerja di ranah publik maupun rumah tangga, yang memiliki kepedulian dan kemauan belajar untuk peningkatan kapasistas perempuan, dan berkontribusi pada solusi.

Kuota partisipan : 1000 orang.

C.3. Apa saja kegiatan selama Konferensi Ibu Pembaharu? 

Dilaksanakan secara daring/online. Meliputi webinar, talkshow, workshop dan ekshibisi. Diskusi akan dilakukan di sela-sela sesi.

Akan ada 13 narasumber yang kompeten dan relevan di bidangnya. 

tema konferensi ibu pembaharu

C.4. Berapa investasi yang harus dikeluarkan untuk mengikuti Konferensi Ibu Pembaharu?

Harga early bird tickets Konferensi Ibu Pembaharu pada 21 September - 8 Oktober 2021 @Rp 150.000, khusus untuk member Ibu Profesional (Kuota Terbatas!).

Mulai 11 Oktober 2021, pendaftaran peserta Konferensi Ibu Pembaharu untuk member adalah Rp 200.000,- sedangkan untuk nonmember/UMUM adalah Rp 250.000,-.

Follow akun instagram @ibu.profesional.official untuk informasi lebih lanjut.

Ibu Profesional mendukung perempuan berdaya melalui teknologi informasi dan komunikasi, serta meningkatkan kapasitas perempuan dalam pembangunan di semua bidang.

Perempuan harus mempersiapkan diri dan turut mengambil peran dalam memasuki perubaan industri di era inovasi digital saat ini. Perkembangan industri era digital menjadi peluang untuk dapat meningkatkan peran dan kapasitas perempuan di berbagai bidang termasuk pembangunan, partisipasi dalam dunia kerja dan pendidikan.

***

Menjadi bagian dari Konferensi Ibu Pembaharu adalah wujud peran perempuan di era digital #DariRumahUntukDunia. Maukah kamu bergabung dengan kami? Come join us! :)

karya kata ibu di balik gawai


Nurrahmah Widyawati
Seorang lifestyle personal bloger yang menulis tentang dunia perempuan, Ibu, parenting, pengasuhan anak, keluarga, review, hobi.

Related Posts

43 komentar

  1. Aku tertarik sama ilustrasinya mba Widya nih..
    Keren banget pokoknya..
    Lain kali ngisi materi tentang ilustrasi deh mba..
    Ntar aku jadi murid pertamanya deh..
    Hehee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insha Allah aku share tentang basicnya ya mbak, nggambar pakai hp. Kalau yang pro aku belum bisa juga wkwkwk masih super basic ;)

      Hapus
    2. Mbaaak aku juga mau dong diajarin gambar. Bisa pake alat seadanya nggaak huhu. Nggak punya gadget yg ada stylusnya akutuuuh.

      Hapus
    3. Siap ditunggu pokoknya mba :D
      Btw, kalau pakai hp jarinya gak kebesaran buat gambar kah mba? Ada tips and tricknya gak nih?

      Hapus
    4. Mba palupi n mba fadmala wkwk. Aku first time pakai hp dan jari doang mbak. Pas ada tawaran nggambarin orang baru dah belu stylus yang murce aja di marketplace ;)

      Hapus
  2. Mamak yang cakap digital bener ini dah, berkarya dan berbagi as always

    BalasHapus
  3. Maju terus perempuan Indonesia, walau hanya dari rumah saja tetapi yakin kehebatan para perempuan bisa mengubah dunia menjadi lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you pak yonal. Semoga ya setiap langkah kecil bisa mengubah hal jd lebih baik ;)

      Hapus
  4. Masha olah mbak, sedikit tahu awal perjalanan mbak Wid resign. Butuh proses yg tidak instan ya mbak utk menikmati peran baru kala itu. Dari kacamata ku, mbak Wid yg skrg tetap produktif kok, bedanya skrg produktif dari rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu 2016 aku jetlag mbak. Jetlag parah bgt malah. Baru bangkit lagi 2018. Makasih mba dah mampir ;)

      Hapus
  5. Ini aku gafok sama acaranya, rupanya udah lewat dududududu.. Kenapa yaa diam-diam bae ini ga dishare, padahal aku mau ikutan live nya lho mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk ini live dadakan memang mba. Pas itu jaringan inetku ya lagi nggak bagus. Ga jelas jadinya wakakak

      Hapus
  6. Betul banget mbak wid, hari ini ibu ibu juga harus melek teknologi,...menjadi ibu profesional itu tdk harus dari luar rumah, ternyata dari dalam rumah pun juga bisa ... Sukses terus

    BalasHapus
  7. DUh, Ibu dibalik gawai nih benar-benar produktif. Kalau lagi live kabar-kabar di temennya mb, biar ikutan belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk kmrn ada gangguan tenis qodarullah pak, signal jelek jadi pas live suaranya mantul (menggema wkwk)

      Hapus
  8. layak dikau nih kemrin jadi daftar KLIP sekece ini coba ya allah, aku uska selalu dengan pembahaan mbak wid, seolah bercerita ." hei kamu semua perempuan dimanapun berada kamu itu istimewa!" terus berkarya ibu. ibu pembaharu ini berarti gak masuk IIP ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. KLIP? Atau KIP? aku nge lag buk wkwkwk. Ibu pembaharu masuk IP mbak, konferensinya ini sebagai peringatan 10 dekadenya Ibu Profesional ;)

      Hapus
  9. Uwaaaa selalu kiyuttt gambar-gambarnya, desain-desainnya pula :D
    ah selamat Mom untuk mengemban amanah sebagai speaker, sukses terussss menggapai mimpi, insya Allah dimudahkan Allah jalannya aamiin :D semangat Mom Widyaaa *\(^ . ^)/*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh mbak, nggak speaker mbak :') belum se emejing ituh but i'll try my best :') makasih mba doanya wkwk

      Hapus
  10. Mba Widya keren banget ilutrasinya mbaaa... Harusnya di share sebelumnya mba... Aku juga penasaran pengen ikut ih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha mbak... aku share mbak. tpi di IG doang wkwwk :(

      Hapus
  11. Mau dong mbak digambarin atau diajari gambar. Btw beneran lho, ketika kita milih menjadi ibu rumah tangga itu yang heboh orang lain, padahal kita mah enjoy aja. Di rumah pun banyak yang bisa kita kerjakan dan tetep produktif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bener mbak wakaka yang heboh orang luar malah. Soon ya mba ak share di the cupuers, nggambar bareng kita ;)

      Hapus
  12. MasyaAllah... Peran perempuan memang vital ya dalam mengubah dunia walau dari rumah, apalagi di era digital seperti saat ini. Btw, ilustrasinya pake aplikasi apa mbak? Keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai medibang paint pak dokter, di hp sahaja :) nyok nggambar bareng wkwkwkwk

      Hapus
  13. Masya Allah Mbak Wid,,,kereeen,,,

    Semoga aku bisa melewati masa transisiku ini dengan baik juga,,,

    Ah makasih sharingnya mbaak,,menguatkanku,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. MBa zulmi lagi transisi skg? wah barakallah mbak, aku percaya kamu bisa! bisa banget malah ;)

      Hapus
  14. Bunda malah fokus aktifitas drawing. Asik kayaknya ya? Mau belajar juga ah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. soon ya bun, semoga ketemu jdoohnya belajar bareng kitaaa ;)

      Hapus
  15. Kecanggihan teknologi memang memberikan kita kesempatan yang lebih luas untuk berkarya dan belajar. Tinggal bagaimana kota bisa memaksimalkan penggunaan gawainya

    BalasHapus
  16. Perempuan itu memang harus melek tekhnologi ya mbak. Masha Alloh selalu suka sama ikustrasinya loh mbak.

    BalasHapus
  17. Masih online ya nanti konferensinya, huhu.. padahal kangen banget ngumpul offline sama ibu2 hebat :) Jadi ingat KIP tahun 2019... positive vibesnya masih terasa banget sampai hari ini.

    Btw, kok samaan anak keduaku lahir 2016 dan masuk perinatologi juga.. masih deg2an kalau ingat hari itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mba marita ikut yg 2019? wah kereeeeeeen :') iyanih online.

      hah iyakah mbak? akupun deg2an plus kasihan, masa sekecil itu dipasangi infus :'( nggregel hatiku huhuhu

      Hapus
  18. Kayaknya aku sempat liat acara ini di igsnya mba, seneng banget ya mba bisa jadi bagian konferensi ibu pembaharu. Kan jadi inget video soal ibu-ibu bilang kalau ibu rumah tangga tuh pekerjaan paling enak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahaha bener mbak, aku liat video viral yang di tiktok itu wkwkwk mgkn ibuknya atau mbak mbak ya itu, lagi khilaf :')

      Hapus
  19. Sini kita kumpul bareng, ibu2 yang enjoy dan bahagia sama perannya sebagai irt. Nyatanya kita masih tetap berdaya ya mbak hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah betul mbak ;) semoga terus berkarya dan berdaya, sehat2 mba ;)

      Hapus
  20. yeay, hidup tetap berdaya karena bekerja bisa di mana saja dan dari mana saja asal halal, hidup pembaharu. *eh

    bekal bekal bisa gambar dan bisa nulis tuh sekarang dibutuhkan bgt lho mbak, jadi kita kudu tetap percaya diri, tutup kuping dari omongan orang yg aneh2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk kaya orasi ya mbak ^^9 hidup! wkwk. Thanks mba supportnya ;)

      Hapus

Posting Komentar