Nurrahmah Widyawati Mom Blogger Perempuan

Blogger Parenting Hingga Daily Life, Ibu di Balik Gawai

18 komentar
Konten [Tampil]
blogger parenting
Blogger Parenting Hingga Daily Life, Ibu di Balik Gawai

Seorang Pramoedya Ananta Toer pernah berkata:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Perjalanan Menulis

Awal aku menulis adalah untuk diriku sendiri, bukan untuk pengakuan. Ingat sekali sedari SD aku suka menulis diary. Jika dipikir-pikir, tau dari mana anak SD menulis diary? Lupa. Apakah mungkin dari sinetron, film, atau telenovela tahun 2000-an.

Jaman dulu banyak genre TV yang lumayan ramah anak sih, semacam telenovela Dulce Maria, Amigos, Chabelita, dan lainnya. Jangan bayangkan kalau sekarang ya hehe. Mungkin hanya kartun RTV & Upin Ipin yang terkadang kami simak sekarang ini (bukan endorse).

Diary sejak SD itu hanya berisi cerita sehari-hari, misalnya saat sedih, saat naksir tipis-tipis (hahaha), saat dimarahin Bapak/Ibu dan kebanyakan cenderung cerpen serta puisi isinya. Namun rasanya sejak SMP kegiatan menulisku lebih intens untuk mading sekolah.

Kemudian aku mulai mengenal blog dari SMP kelas 3, namun hanya sepintas lalu. Hingga akhirnya saat kelas 1 SMA aku betul-betul memiliki blog, Astronot Kecil namanya. Isinya ya sama aja, kehidupan sehari-hari dan kumpulan puisi. Hanya bedanya dalam bentuk digital.

Saat SMA aku lebih banyak menulis tentang sahabat-sahabatku. Aku menulis di warnet saat itu. Kalau dipikir-pikir ngapain ya, berlaga seperti orang penting yang ingin diketahui kesehariannya. Rasanya dulu nggak ada sih yang baca blogku selain sahabatku sendiri. Hahaha.

blogger perempuan

Hingga saat Friendster booming, rasanya lebih menyenangkan menulis di sana ketimbang menulis di Blogspot. Apalagi saat SMA mulai punya ponsel sendiri. Akhirnya blog pun terlupa. Facebook pun datang dengan fitur seperti menulis blog saat itu, makin nggak ngelirik blog deh.

Hingga akhirnya menulis lagi saat kuliah, bukan dengan platform Blogspot, melainkan Tumblr. Menulis random dari cerita liburan, foto-foto, quotes, hingga pikiran random yang tertuang di sana.

Tahun 2012 (Saat kuliah. Anyway aku masuk kuliah angkatan 2010) aku kembali membuat blog baru dengan platform Blogspot, dan dengan alamat baru. Bukan lagi Astronot Kecil. Kali ini aku menulis di 2 platform, Tumblr dan Blogspot.

Lumayan lama ada di kedua dunia tersebut hingga suatu saat Tumblr tidak bisa diakses kala itu (hanya bisa dengan VPN). Kemudian akhirnya aku memutuskan hanya memiliki 1 blog, yaitu di Blogspot.

Jadi sebetulnya blog Ibu di Balik Gawai ini secara data, terlahir di tahun 2012.

Namun seiring berjalannya waktu, aku merasa apa yang aku tulis kurang berfaedah untuk dibaca orang lain hahaha. Makanya banyak tulisan yang aku hapus dan akhirnya re-branding untuk lebih berfaedah di tahun 2018 sebagai blogger parenting.


Ibu di Balik Gawai | Blogger Parenting Hingga Daily Life

Pada September 2016 aku resmi menyandang status menjadi emak-emak. Nggak mudah ya ternyata? Apalagi as a new mom. Terkaget-kaget dengan banyaknya tuntutan dan komparasi dari lingkungan sekitar.

Being a mom has made me so tired. And so happy.” —Tina Fey

Awal jadi Ibu baru sungguh berat banget rasanya. Apalagi satu bulan saat anak pertamaku lahir, Bapakku meninggal dunia. Saat itu pun aku memutuskan untuk di rumah sebagai IRT (sebelumnya bekerja di kantor).

Pada saat itu, menghargai perempuan atas keputusannya belum se-open minded sekarang. Dulu IRT masih dianggap remeh sekali. Beruntung sekarang setiap perempuan berhak bahagia dengan memilih IRT atau working di luar rumah. Kami bisa sama-sama bahagia dan berdaya.

mom blogger

Di tengah struggle-nya saat itu, aku mulai menulis blog di bulan Juni 2018. Kemudian aku juga ikut grup menulis buku antologi. Buku antologi pertamaku terbit di November 2018.

Sejak saat itu, aku mulai rutin menulis. Namun memang nggak selalu di posting atau di bukukan. Aku menulis untuk healing diri sendiri di tengah hectic-nya jadi Ibu di perantauan.

There’s no way to be a perfect mother, and a million ways to be a good one.” —Jill Churchill

Hingga awal 2021 perjalanan blogku menemukan arah untuk berlabuh (ceilah). Sejak itu pula blog ini ber-TLD (Top Level Domain). Kemudian mulai tahu bahwa blog bisa menghasilkan cuan dan ada trik khusus agar blog bisa dibaca oleh banyak orang yang membutuhkan, tentunya manfaatnya jadi lebih luas.

Saat itu aku memilih untuk menulis dengan kategori : Blogging, Books, Deep Thought, Family, Food-Travel, Good News, Home EducationJurnal Ibu Profesional, Motherhood, Review.

Selain fokus ke parenting, aku juga menuliskan segala hal yang berkaitan dengan keseharian (lifestyle). Beberapa postingan di sini juga berisi tugas dari beberapa kelas baik kelas self-development, kelas menulis maupun kelas blogging.

And this is it, blog ini tumbuh menjadi Ibu di Balik Gawai. Thank you ya yang udah mampir ke sini :) It's mean a lot for me, really!


Menulis bagiku adalah untuk...

1. Menulis untuk release emosi

Seperti yang aku singgung di atas, jadi Ibu itu sulit. Tantanganya banyak dan membuat emosi terkadang nggak stabil. Posisiku di perantauan yang jauh dari keluarga, tanpa ART, apalagi kini ada 2 anak, betul-betul menguras emosi.

Jadi menulis bagiku adalah release emosi. Ketimbang marah-marah, sedih, kesel, maupun bahagia berlebihan ke orang lain, biasanya aku menuliskannya terlebih dahulu sebelum bereaksi ke mereka. Paling tidak ya, jadi lebih calm down.

Tulisan yang ak buat juga kebanyakan dari pegalaman pribadi. Misalnya setelah didzalimi tetangga (wow, berat!), teman, atau siapa 'kek', pasti aku menuliskannya terlebih dahulu, kemudian diambil hikmahnya untuk dijadikan artikel tips biasanya. Jadi reminder dari diri sendiri untuk diri sendiri.

That's why saat diajak teman untuk building Bahasa Semesta, aku benar-benar excited. Karena misi kami adalah mengajak perempuan untuk bisa bercerita dengan tulisannya dan menjadikannya karya, yaitu sebuah antologi.

Beberapa artikel juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar sendiri. Karena selain menulis, release emosiku adalah digital art/doodle/ilustrasi. Kalau kamu, release emosinya ngapain?

blog adalah

2. Menulis untuk side-job

Job utamaku adalah mendidik anak di rumah, side-jobku adalah blogger dan creator digital. Siapa sangka internet bisa membuat orang bisa berdaya dari rumah. Alhamdulillah.

Terimakasih untuk brand/olshop/pengusaha yang membuat kami para pekerja kreatif bisa berdaya dari rumah. Terima kasih kamu yang sudah membaca blog ini. Aku ulangi ya... It's mean a lot for me. Thank you very much :')

Meskipun dalam blog ini beberapa tulisan adalah paid/berbayar, aku pastikan menuliskannya dengan hati dan ada manfaat yang diberikan terlepas dari hanya sebuah 'iklan'. Karena memang aku akan membagikan artikel dimana aku pun suka membacanya.


3. Menulis untuk bermanfaat

The first thing you learn when you’re blogging is that people are one click away from leaving you. So you’ve got to get to the point, you can’t waste people’s time, you’ve got to give them some value for their limited attention span. ~Alex Tabarrok

Seperti yang sudah aku bahas di atas, Insha Allah aku membuat setiap artikel dalam blog ini sesuai dengan standarku yang Insha Allah bermanfaat. Karena "waktu" kalian untuk membaca blogku teramat berharga.

Akupun menulis pengalaman demi pengalaman yang telah aku lewati yang semoga berguna. Misalnya saat berhasil mengajari anak membaca sendiri di rumah, aku bagikan tipsnya dalam artikel. Dan tentunya masih banyak lagi.

Hampir segala hal yang aku lewati dalam motherhood dan keseharian kemudian aku breakdown dalam artikel. Do'akan jadi amal jariyah serta sebagai ilmu yang bermanfaat untukku di akherat ya :)

***

Last but not the least...

Just enjoy reading my blog, guys! Ambil baiknya dan buang yang nggak baik dariku ya. Kunjungi halaman Mengenal Widya Lebih Dekat untuk mengenal aku lebih jauh.

Semoga artikel Blogger Parenting Hingga Daily Life, Ibu di Balik Gawai ini bisa jadi penyemangat untukmu. Terima kasih :)

blogger parenting

Nurrahmah Widyawati
Seorang lifestyle blogger yang menulis tentang dunia perempuan, Ibu, parenting, pengasuhan anak, keluarga, review, hobi, dan kehidupan sehari-hari | Digital Art Enthusiast :)

Related Posts

18 komentar

  1. Keren mba, udah dari dini ngenal blog. Aku dulu juga sempat bikin blog tapi akhirnya cuma fokus utak atik template ssebelum akhirnya benar-benar menulis. Sempat meramaikan friendster dan multiply juga dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya aku sepakat bgt kalau ngutak ngutik template itu bener-bener need effort dan makan banyak waktu wkwk apa karena kita cewek ya mba :') maunya banyak wkwk

      Hapus
  2. Friendster ya ampun, aku juga pernah ngalamin. Berasa excited sendiri ya hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHA relate kan, bener-bener nostalgia teh wkwk

      Hapus
  3. Ketahuan umur kita mainannya Friendster.. wkwkwk. Dulu booming banget ya Friendster ini sebelum adanya facebook.
    Apapun medianya, alhamdulillah masih bisa semangat untuk menebar kebaikan dalam tulisan, and it's cool sister

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya friendster itu seri lho! karena bisa main kode html dan mainin tampilannya kaya bold italic blink2 ganti warna huruf, background, gerak2, dll pake html hahaha seruuu

      Hapus
  4. Masya Allah berasa sedang membaca surat dari sahabat pena, hihi. Tulisannya sungguh menginspirasiku untuk terus berbagi kemanfaatan lewat tulisan.

    BalasHapus
  5. Halo, Bunda! Lama tidak berkunjung ke sini, suka sekali dengan style doodlingnya. So refreshing! Membaca postingan ini membuat saya jadi semangat nulis lagi, Bun. Terima kasih ya sudah berbagi cerita.

    BalasHapus
  6. Mbak, kartunnya lucu2 deh, bikin gemeeesshh...
    Btw, udah kenal dunia nulis dr muda keren banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe tapi masih perlu banyak latihan & belajar Bun ;) hehehe

      Hapus
  7. Waw luar biasa perjalan ngeblognya ya Bu. Btw, emang zaman dulu kerika udah sekolah tinggi terus jadi IRT tuh rasanya kayak gimana gitu anggapan netizen.

    Jadi merasa paling berdosa, padahal kita juga banyak pengorbanan ketika mengambil sebuah kelutusan.

    Semangaat ibuk di Balik Gawai!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu, dulu tuh banyak stigma negatif gitu IRT. Beda sama sekarang yang bisa menghargai satu sama lain. Thank you mamak :*

      Hapus
  8. Samaan bgt nih mba tontonan kita waktu kecil dlu, eh skrg dah jdi ibuk2 ya kita.
    Bersyukur bgt tpi jdi ibu milenial dgn kemudahan digital, jdi tetep bsa menebar manfaat lewat blog nya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha telenovela jaman kecil ya. Bener buk, feel blessed :)

      Hapus
  9. Salam perkenalan...

    Blogger satu hobi yang bagus dan dalam masa yang sama mengasah kemampuan dan kebolehan untuk berkongsi pandagan melalui penulisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal :) sepertinya bukan orang Indonesia ya kak?

      Hapus

Posting Komentar