Konsep Angkringan Yang Menarik dan Bikin Betah, Laris!

16 komentar
Konten [Tampil]
konsep angkringan

Aku suka kagum sama konsep angkringan jaman sekarang, nggak hanya menarik namun juga bikin betah. Nggak heran deh sekarang angkringan makin diminati dan laris. Omsetnyapun juga (wow) jangan ditanya!

Ngomong-ngomong soal angkringan, menilik ke belakang, aku familiar dengan angkringan ini dari SMA. Cuma tau aja sih, jarang beli juga. Karena Ibuku always masak, jaman sekarang namanya aliran homemade (kaya mpasi) hehe.

Aku jadi konsumen angkringan sejak kuliah di UNS, Solo. Seperti yang kita tahu ya, namanya mahasiswa (bukan sultan) biasanya pilih makanan yang murah, bervariatif dan bisa jadi tempat berlama-lama alias nongkrong sama temen-temen.

Tapi masalahnya, sejak awal ke Solo aku bingung kenapa angkringan disebut dengan HIK. What's the meaning of hik? why hik? Gimana cara bacanya? Apakah hik biasa atau hiek? Rumit ya, pemirsa?

Dah lah, jangan pusing jangan pening, kita sama-sama ulik yuk. Apasih perbedaan angkringan dan hik? konsep apa nih yang paling kamu suka saat memilih angkringan untuk disambangi?

Check this out!


Perbedaan Angkringan dan Hik

Karena sedari awal aku taunya angkringan (Jogja ke selatan & barat menyebutnya itu), jadi aku asing saat teman kampusku yang asli Solo menyebutnya dengan HIK.

Cara spelling HIK pun aku kesulitan. Tapi sebetulnya nggak ada bedanya kok angkringan sama hik. Beda istilah aja. Makanan yang dijual dan konsepnya juga sama.

Jadi angkringan adalah gerobak dorong (biasanya berbahan kayu) yang menjual beraneka makanan dan minuman yang juga biasanya ditutupi terpal. Nah, di daerah tertentu (seperti Jogja ke selatan & barat) dinamakan angkringan. Namun daerah Solo biasa dinamakan hik.

Angkringan ini biasanya beroperasi sore hingga malam, bahkan dini hari. Uniknya vibes seperti ini nggak hanya disukai kalangan menengah ke bawah, namun juga segala kalangan.

Tempatnya khas remang-remang dan nggak jarang beberapa menggunakan penerangan lampu tradisional (senthir namanya).


Jadi penasaran.. bagaimana ya sejarah angkringan/hik?

Versi pertama di Solo yang aku baca dari solopos[dot]com, hik ini awal mulanya dari Klaten. Tepatnya dari Desa Negrangan, Bayat, Klaten. Jadi pada tahun 1950-an warga situ merantau ke Solo untuk menjual makanan dan minuman dengan cara dipikul keliling.

Pada tahun 1970-an, yang tadinya dipikul, berubah jadi gerobak dorong. Hingga kini akhirnya tetap sih masih pakai gerobak dorong, bedanya kini berjualannya menetap untuk digelar lapaknya (nggak lagi keliling).

Menurut versi ini hik adalah singkatan dari hidangan istimewa kampung.

Versi kedua di Jogja ini ditulis oleh mojok[dot]co, dimana dia menyebutkan bahwa asal mula angkringan ini dari Desa Cawas, sama-sama di Klaten juga sih. Jadi masih dengan latar yang sama yaitu 50-an angkringan ini dijajakan dengan cara dipikul.

Kemudian tahun 60-an mulai digelar lapak dengan gerobak. Awalnya ada di sekitar stasiun Tugu. Nah awal mula nama hik atau hiek ini dikenalkan oleh Mbah Pairo karena saat menjajakan daganganya, beliau sambil berteriak “Hiiik…iyeek” (unik juga ya hehe).

Nah, aku sendiri baru tahu lho sejarah angkringan alias hik ini. Kamu dah tahukah sebelumnya?

makanan dan minuman yang ada di angkringan
Source: daya[dot]id

Makanan dan minuman yang biasanya dijual di angkringan/hik

Untuk yang sering ke sana pasti langsung bisa hapal ya menu khasnya. Di angkringan/hik biasanya menjual makanan, seperti nasi kucing, sate usus, sate kulit ayam, sate keong, sate kikil, sate kere, sate ati ampela, sate telur puyuh, gorengan bakwan, tahu, tempe.

Nah, nasi kucing ini pun beda-beda ya isinya, ada yang isinya sambel tempe, sambel bandeng, sambel teri. Duh, jadi pingin.

Sedangkan minumannya biasanya ada jahe panas, susu jahe, es teh, teh hangat, teh tarik, dan lainnya. Yang sering aku pesan sih susu jahe. Apalagi daerah Solo, susunya itu dari susu segar daerah Boyolali (meski nggak semua, mostly lah)

Kalau daerah Jogja ada menu minuman di angkringan yang namanya kopi jos, jadi kopi tubruk yang dicelupi bara api, mantap nih pecinta kopi merapat.


Unik! apa itu sate kere?

Aku udah spill sedikit ya tentang sate kere ini di part makanan yang ada di angkringan.

Pertama dengar sate kere ya pas kuliah di Solo. Kere itu kan bahasa jawa ya, yang setahuku artinya miskin. Awal dengar, why ini sate dinamakan sate miskin?

sate kere
Source: kompas[dot]com

Penasaranpun terjawab. Sate kare adalah sate dengan bahan dasar jeroan sapi seperti kikil, usus, hati sapi, jantung, dan tempe gambus yang dibakar lalu disiram dengan bumbu kacang.

Ini bermula saat masa penjajahan dulu, masyarakat kita tidak mampu membeli daging. Saat itu daging mahal banget, dan hanya untuk kalangan terbatas (misalnya bangsawan). Jadilah mereka berkreasi untuk membuat sate dengan ekonomis menggunakan tempe gembus dan jeroan.

Nah, tiba saatnya kita ulik yuk seperti apa sih konsep angkringan yang ada sekarang ini?


Konsep Angkringan Yang Menarik dan Bikin Betah, Laris!

Nah karena penggemar angkringan ini dari semua kalangan, maka sekarang mulai banyak bermunculan angkringan dengan berbagai konsep nih. Dari yang masih tradisional, life music, hingga lebih modern.

Meski dah emak-emak, aku, suami dan anak-anak juga masih suka kulineran lho di angkringan (anyway, aku sekarang stay di Tangerang).

Kita jalan-jalan virtual yuk melihat-lihat angkringan yang menarik dan bikin betah!


1. Konsep Angkringan Pinggir Jalan

Angkringan ini banyak sih bisa kita temukan di pinggir-pinggir jalan. Bahkan hampir semuanya. Kalau dilihat dari video di bawah ini juga terdengar suara lalu lalang kendaraan. Si Tanboy Kun nikmat aja gitu makan di angkringan pinggir jalan.

Dari video juga terlihat masih terang ya, nggak gelap. It's mean masih sore sepertinya. Angkringan jaman sekarang memang lebih fleksibel terkait waktu hehehe. Anyway, menu satenya juga kian bervariasi.

Misalnya aja ada sate tempura, sosis, bakso, crab stick, fish roll, dll. Mengikuti zaman banget juga ini menu angkringannya.

Tempat makannya sih nggak yang neko-neko, tapi kelihatannya tetap enak dan bersih ya. Mereka menggunakan gerobak kayu khas angkringan dan terpal juga di pinggir jalan. Beberapa kursi disediakan.

Aku ngiler sih liat videonya, apalagi sambelnya. Kalau kamu gimana?


2. Konsep Angkringan Rumahan

Kalau tadi kita lihat angkringannya di pinggir jalan, sekarang kita intip angkringan di rumah. Untuk konsep ini sih biasanya di teras rumah ya, beberapa di dalam rumah juga ada sih.

Konsep ini cukup praktis, karena nggak perlu sewa lahan, listrik, parkir, dll. Kamu cukup memanfaatkan space rumah kamu, seperti halaman, teras, garasi atau bahkan ruang tamu mungkin.

konsep angkringan rumahan

Namanya juga angkringan, tentunya meski di rumah tetap ada gerobak kayunya ya hehehe. Meski demikian pastinya lebih praktis, bersih dan meminimalisir modal. Alat bakarnya pun sudah canggih tuh, eh alat pemanggang ya hihihi.

Untuk yang melapak di pinggir jalan, seringnya gerobaknya harus didorong terlebih dahulu, agak ribet memang. Meskipun beberapa ada juga yang stay di tempat gerobaknya. Jadi konsep rumah ini praktis!


3. Konsep Angkringan Lesehan

Favoritku nih jaman kuliah bahkan sampai sekarang buat menikmati hidangan khas angkringan dengan lesehan malam-malam. Vibes khas itu ya yang biasanya dicari.

Bahkan aku happy banget lho! Cucol sedikit ya. Di dekat rumah sekarang ada angkringan lesehan plus ada live music-nya juga. Lesehannya bukan pakai tikar kaya di Solo jamanku kuliah. Tapi pakai karpet di emperan halaman ruko yang tutup, namun gerobak angkringan tetap ada dong.

konsep angkringan
Source: OkeZone[dot]com

Konsep lesehan ini juga bisa banyak contoh sih. Ada yang lesehan memang di emperan toko yang tutup, lesehan di rumput-rumput sekitar angkringan, lesehan di halaman paving maupun lesehan seperti warung atau panggung (angkringan dengan sentuhan lebih modern).


4. Konsep Angkringan Gaul

Nah, ini nih sering banget dijumpai sih. Banyak angkringan gaul sekarang ini tuh, angkringan sultan gitu deh ya hehe. Biasanya harga sate di angkringan sekitar 1000-2000 per tusuk.

Di angkringan gaul ini beda lagi. Bisa 6000 per tusuk (atau lebih?). Menunya juga sudah di-combine dengan menu seperti warmindo. Ada mie, nasi goreng, bahkan burger. Satenya pun ada siomay, dumpling cheese, dll.

konsep angkringan gaul

Yes, angkringan ini juga punya prospek yang bagus. Kamu tertarik buat bikin? Tapi modalnya sepertinya 'lebih' dari angkringan biasa hehe.


5. Konsep Angkringan Klasik

Ini sih angkringan yang masih sama banget kaya aslinya, dari segi menu dan lain-lain. Terutama gerobak dan vibes-nya masih sederhana namun ngangenin juga.

konsep angkringan

Biasanya sambil makan, duduknya di depan abang-abangnya alias di gerobaknya. Ini biasanya ada di tempat yang sempit, jadi nggak bisa leluasa lesehan. Klasiknya dapet banget sih.

Tapi jangan salah, meski sederhana, namun angkringan ini juga laris lho. Karena penikmat angkringan nggak hanya anak muda, dari semua kalangan juga suka.

***

Kesimpulan

Oh iya jadi teringat sesuatu, biasanya di angkringan itu ada yang bisa langsung makan, ada yang bisa request dibakar. Aku sih biasanya minta dibakar dulu, karena sebelum dibakar biasanya dioles bumbu lagi.

Ada nggak nih yang berniat buka angkringan? Semoga artikel ini bermanfaat ya dan menginspirasi kamu tentang bisnis angkringan yang menarik dan laris tentunya. Konsumen juga dijamin betah dan doyan!

Jadi, mana nih konsep angkringan favorit kamu?

ibu di balik gawai

Nurrahmah Widyawati
Seorang lifestyle blogger yang menulis tentang dunia perempuan, Ibu, parenting, pengasuhan anak, keluarga, review, hobi, dan kehidupan sehari-hari | Digital Art Enthusiast :)

Related Posts

16 komentar

  1. Di tempatku banyak sekali angkringan. Bahkan beberapa udah model kekinian dengan ornamen unik versi anak muda. Satu sego kucing harganya 1.500

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi biasanya nggak cukup 1 ya nasi kucing tuh hahaha, aku doyan banget soalnya kalau makan di angkringan :p meski terjangkau harganya pas ditotal baru berasa ternyata ambilnya banyak wkwk

      Hapus
  2. Molly tertarik nyobain angkringan langsung di kota aslinya. Tapi kapan ya? Ngilerin banget makan2annya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga soon ya kak Moly bisa ke Jogja atau Solo ;) vibes angkringannya lebih terasa wkwkwk

      Hapus
  3. Angkringan jadi tempat pacaran paling pas sih jaman aku sama suami dulu, karena murah meriah dan bikin kenyang 😂 terus bervariasi kan temen nasinya. Aku paling suka sate usus sama nasi kucing. Sekarang udah jarang banget ke angkringan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru bgt kemaren malmingan ke angkringan bareng paksu n anak2 mbak wkwkwk. Seru emang ya vibesnya :*

      Hapus
  4. Suka banget nongkrong di amgkringan hehe, satenya juga enak2

    BalasHapus
  5. aku sukaa juga cemal cemil di angkringan minumnya suheee, ahhh mantap! aku pernah coba yg angkringan pinggir jalan sama lesehann, enak yang lesehan jadi bisa santai ngobrol2 hahhaha

    BalasHapus
  6. Waah baru tahu, nih. Kalau ternyata asal kata hik itu berkisah awal dari mbah Pairo angkringan sekitar tugu jogja.

    Dulu sering kesana, yang terkenal dengan kopi jossnya itu kan ya, kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, bener. Mungkin dah generasi ke sekian ya wkwk ;)

      Hapus
  7. sekarang angkringan mayan makin variatif, udah banyak yang jual makanan-makanan korea. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya kaya streetfood koreyaaa jadinya :')

      Hapus
  8. Wow...sate kere nya memghoda, duh sate jeroan, kudu sadar diri dong yang ada kelebihan. Tapi kalau ga sering-sering gpp sih. Boleh nih dicari kalau pas ke sana kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha keliatan kan faktor U nih :') bener Pak, jangan tiap hari ya wkwkwkwk

      Hapus

Posting Komentar