Nurrahmah Widyawati Mom Blogger Perempuan

Filosofi Montessori Ini Bisa Moms Terapkan Di Rumah!

20 komentar
Konten [Tampil]

filosofi montessori indonesia

Saat sedang membereskan file-file di laptop, aku menemukan suatu resume kulwap tentang Filosofi Montessori. Setelah aku baca lagi, materinya bagus! Sayang banget kalau nggak aku rangkum dan share di sini. Saat itu aku sebagai moderator dalam kulwap-nya.

Dia adalah Mbak Nafila Rahmawati, seorang Ibu satu anak lulusan S1 Hukum dan melanjutkan pendidikannya sebagai Certified Montessori Educator. Ada yang tahu nggak? atau bahkan mengenalnya?

Yes, aku sungguh amazed dengan caranya mendidik anak. Anaknya terlihat mandiri, punya rasa ingin tahu yang besar, suka belajar dan smart. Tentu ini nggak terlepas dari ketelatenan Ibunya dan bagaimana orang tuanya memilih sekolah yang tepat juga.

Ada suatu momen yang membuatku mind-blowing sekaligus terharu. Saat itu mba Nafi merayakan ulang tahun anaknya yang ke-6. Dia menggunakan suatu perayaan Birthday Walk dengan tema luar angkasa. First time aku melihat perayaan ulang tahun seperti itu.

Dari momen tersebut, mba Nafi jago banget explain konsep ulang tahun dengan konsep bumi mengelilingi matahari. Dimana satu putaran bumi mengelilingi matahari, maka waktu yang dibutuhkan adalah satu tahun.

Jadi dalam video tersebut terlihat anak Mbak Nafi mengelilingi print-out matahari dengan lilin di atasnya dan ada nama-nama bulan yang mengelilingi lilin tersebut (dari Januari hingga Desember). Sambil mengelilingi matahari, anak Mbak Nafi membawa bola dunia/bumi, mereka pun bernyanyi.

Setelah berjalan satu putaran, maka akan ada foto anaknya di tahun tersebut (1-6 tahun) yang ditampilkan dan diberi penjelasan singkat tumbuh kembangnya oleh si Ayah.

Ini menginspirasi banget sih buat aku. Dan semakin bisa merasakan bahwa montessori ini worth to try at home. At least, kita terinspirasi darinya.


Apa itu Montessori?

Istilah Montessori sudah sering kita dengar atau kita baca di sosial media. Terutama di instagram, banyak sekali postingan yang menggunakan hashtag Montessori.

So, kita sudah dengan mudahnya mengumpulkan informasi tentang Montessori ini. Tapi pernah ngga sih Moms, merasa overwhelmed dengan hashtag Montessori sehingga kita justru bingung yang dimaksud dengan Montessori itu sebenernya seperti apa ya? 

"Montessori sebetulnya adalah metode pendidikan untuk membantu perkembangan anak secara holistik. Holistik disini artinya, tujuan dari pendidikan Montessori tidak hanya terbatas pada kemampuan akademis, melainkan juga perkembangan fisik dan mental anak, sosial emosional juga spiritual", tutur Mbak Nafi.

Metode ini lahir dari penelitian dr. Maria Montessori, dimana pertama kali ternyata justru diujicobakan pada anak-anak yang diduga cacat mental dan pada anak-anak dari keluarga miskin di Italia.

Dari sejarahnya, Montessori bukan hanya untuk anak atau keluarga kaya sehingga siapapun kita tentu saja berhak dan layak untuk menerapkan Montessori kepada anak baik sejak di rumah maupun hingga pilihan sekolah.

dr. Maria Montessori menekankan bahwa pendidikan yang diterima oleh anak-anak bukanlah pendidikan yang hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan akademis di sekolah. Namun, tujuan pendidikan anak adalah untuk membekalinya dengan berbagai keterampilan yang berguna untuk menjalani kehidupan.

montessori adalah

Berbeda dari pendidikan konvensional, metode Montessori tidak hanya menekankan pembelajaran anak pada kemampuan baca, tulis dan hitung melainkan melingkupi semua kebutuhan tumbuh kembang anak.

Pembimbing belajar dalam lingkungan Montessori juga mengaplikasikan nilai dasar Montessori sehingga anak tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, percaya diri dan penuh rasa ingin tahu.


Filosofi Montessori, Jantungnya Montessori

Dalam menerapkan Montessori, pembimbing belajar anak wajib memahami Filosofi Montessori karena nilai dasar inilah yang menjadi pembeda metode Montessori dengan metode pendidikan konvensional lainnya.

Dengan mempelajari ini, kita akan terbantu memahami cara berinteraksi dengan anak. Karena 85% otak manusia terbentuk selama 5 tahun pertama kehidupannya maka wajib bagi kita memahami bagaimana berinteraksi dan memperlakukan anak agar tidak menyia-nyiakan karunia Tuhan yang satu ini.


The Absorbent Mind (Pikiran yang Mudah Menyerap)

Setiap anak dianugerahi Tuhan kemampuan untuk belajar sejak dari dalam kandungan. Begitu juga ketika mereka lahir, setiap bayi menyiapkan semua inderanya untuk menyerap segala informasi dari lingkungan baru di sekitar mereka.

Maria Montessori menyebutkan bawah periode ini terbagi menjadi dua fase:

1. Fase Unconscious Mind

Fase ini berlangsung di usia 0-3 tahun, dimana anak menerima dan menyerap semua informasi dari lingkungan tanpa disengaja. Mereka belajar lewat memperhatikan dan menirukan.

2. Conscious Mind

Fase ini berlangsung di usia 3-6 tahun, pada fase ini anak akan mulai belajar dengan sadar dan sengaja. Mereka belajar dengan mengembangkan kemauan, membuat pilihan dan menyempurnakan kemampuan di banyak aspek lewat kegiatan berulang. Anak mulai memahami sebab-akibat dan efek dari pilihan mereka.


Follow The Child (Mengikuti Si Anak)

Setiap anak adalah unik, tidak ada satu makhluk pun yang terlahir sama. Berangkat dari pemikiran inilah maka pendidikan Montessori mengikuti ritme pribadi masing-masing anak, menghargai preferensi dan kecepatan kemampuan yang berbeda dari tiap anak.

Seorang anak secara naluriah mengerti apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk memenuhi tugas perkembangan tanpa harus dipaksa atau diakselerasi di usia muda. Setiap anak memiliki pola belajarnya sendiri, memiliki ketertarikan pada objek tertentu dan memiliki kecepatan belajar yang berbeda.

Tugas orang dewasa bukan hanya memberikan materi atau memaksa anak belajar, melainkan mengobservasi apa yang sedang menarik minat dan perhatian anak.

Dengan ini kita bisa membaca anak karena terbiasa mengamati dari sudut pandang mereka.

filosofi montessori follow the child

Respect to The Child (Menghargai Anak)

Children see, children doDengan menghargai pemikiran anak, menghargai usaha dan progress perkembangan mereka (tidak membandingkan anak dengan individu lainnya melainkan mengingatkan anak pada kemajuan mereka dibandingkan dengan hari sebelumnya), menghargai pilihan anak (selama sesuai dengan nilai yang ditumbuhkan dalan keluarga), maka akan menumbuhkan rasa percaya diri mereka yang menjadi bekal penting dalam proses belajar.


Sensitive Period (Periode Sensitif)

Pada kurun waktu inilah kecenderungan anak untuk merasa tertarik mempelajari sesuatu perlu difasilitasi dengan tepat, karena dalam rentang waktu ini anak dapat belajar dengan mudah dan tanpa perlu didorong berlebihan.

Proses belajar yang tepat terjadi pada Sensitive Period menjadikan anak belajar tanpa beban karena keinginan untuk menguasi materi tertentu lahir dari dalam diri mereka sendiri.

Sensitive Period yang terlewat tanpa difasilitasi dengan baik bukan berarti kemungkinan belajar telah tertutup namun kemungkinan untuk belajar akan membutuhkan usaha lebih bagi anak.

Selama periode sensitif berlangsung, upayakan agar anak belajar melalui media yang konkrit (bisa diamati menggunakan kelima indera dan menimbulkan pengalaman nyata) ketimbang hanya belajar melalui media yang abstrak (misal: hanya melalui gambar atau gawai).

prepared environment montessori

Prepared Environment (Lingkungan yang Disiapkan)

Belajar tentunya membutuhkan persiapan, begitupun belajarnya anak usia dini maka yang perlu disiapkan adalah lingkungannya dalam hal ini meliputi orang dewasa, material serta nilai dasar.

1. Orang dewasa

Anak membutuhkan orang dewasa yang mau terus belajar, berpikiran terbuka, dan siap menyesuaikan diri dengan nilai Filosofi Montessori.


2. Material

Material belajar wajib menyesuaikan umur, kemampuan dan kebutuhan belajar anak sehingga tidak ada kurikulum standar yang dipakai untuk sekelompok anak.

Tidak semua mainan kayu adalah material Montessori, yang bisa disebut sebagai apparatus Montessori hanyalah material standar yang dipakai di sekolah Montessori, selebihnya hanya bersifat ekstensi.

Sehingga, dalam memilih dan menyediakan apparatus Montessori untuk anak, kita perlu belajar lebih lanjut tentang kelima area Montessori.


3. Area Montessori

Montessori untuk anak usia 2.5 - 6 tahun membagi area belajarnya kedalam lima subjek utama yaitu: Practical Life, Sensorial, Bahasa, Matematika dan Budaya.

Di dalam setiap area ini terdapat urutan kegiatan yang pada umumnya dimulai dari kegiatan dengan level mudah dan beranjak hingga makin sulit, juga selalu dimulai dari hal yang konkrit ke materi yang lebih abstrak.

Hampir semua kegiatan di kelima area Montessori ini juga dipresentasikan ke anak dengan gerakan dari kiri ke kanan.

Membawa Montessori ke rumah berarti menterjemahkan nilai Filosofi Montessori untuk disesuaikan dengan keadaan rumah masing-masing keluarga. Tidak semua apparatus Montessori perlu kita sediakan di rumah karena rumah bukanlah sekolah formal.

Rumah adalah tempat kita memberikan pengasuhan dan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita jadikan pedoman dalam berkeluarga, sehingga Montessori di rumah akan terwujud dalam berbagai macam gaya dan ekstensi.


Yang perlu diperhatikan dalam membuat Prepared Environment di rumah

1.  Memfasilitasi Kebebasan

Pastikan anak bebas memilih kegiatan yang menarik minat mereka, bebas bergerak, bebas mengeksplorasi material dengan nyaman dan aman, bebas untuk berinteraksi dengan anggota keluarga lain dan bebas dari segala bentuk distraksi maupun intervensi ketika mereka bekerja (bermain).


2.  Konsistensi Struktur dan Ketertiban

Rasa aman dan kepercayaan anak pada dunia luar dibangun dari konsistensi jadwal, konsistensi peletakan benda dan konsistensi kelekatan dengan orang dewasa yang mengasuh mereka.

Bermodalkan rasa aman dan kepercayaan ini, anak kemudian berani mengeksplorasi sekitar. Pastikan lingkungan tempat anak bermain mengutamakan jadwal yang rutin, material yang selalu ada pada tempatnya dan juga rapi.

montessori di rumah

3. Keindahan

Keindahan tidak harus diartikan sebagai kumpulan barang mahal, namun bagaimana kita menjadikan lingkungan anak sebagai kesatuan yang harmonis baik dari segi ukuran, manfaat serta desain yang natural.

Montessori percaya bahwa warna alami (warna kayu, warna dari batuan alam, warna dari hijau daun) adalah stimulan positif yang mendatangkan ketenangan bagi anak.

Demikianlah kenapa lingkungan belajar Montessori tidak didominasi oleh warna playful (merah, kuning, orange, dsb) seperti yang banyak kita temukan di pendidikan konvensional.


4. Alami dan Nyata

Material Montessori menggunakan bahan dari kayu, kaca, bahan makanan, dan elemen yang ada di lingkungan sekitar untuk media belajar agar anak merasakan secara langsung barang yang nantinya mereka gunakan dalam beraktivitas sehari-hari.

Kesiapan anak menumbuhkan rasa mandiri dan percaya diri datang dari kemampuan mereka menghadapi dan berinteraksi dengan hal yang alami dan nyata.


5. Memfasilitasi Aspek Sosial

Anak kita tentu akan menjadi bagian dari makhluk sosial sehingga salah satu menu belajarnya perlulah disediakan stimulasi untuk mengembangkan kemampuannya bersosialisasi.

Berikan anak ruang untuk membangun komunikasi dan interaksi baik dengan anak sebaya, maupun dengan orang yang lebih tua dan lebih muda sehingga anak belajar menyesuaikan diri bagaimana bergaul dengan berbagai rentang usia.

contoh permainan montessori

6. Memfasilitasi Aspek Intelektual

Untuk keperluan observasi dan follow the child, dalam Prepared Environment Montessori selalu disediakan material yang mencakup lima area Montessori dalam satu waktu.

Material disediakan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak, mempunyai fungsi edukasi tidak hanya rekreasi.

***

Penutup

Keren banget bagaimana Mbak Nafila menyampaikan materinya dengan begitu mudah dipahami oleh orang awam sekaligus. Jadi meskipun kita tidak bisa menerapkan Montessori secara idealis baik dari material dan lainnya. Kita tetap bisa terinspirasi dari Fisolofinya. Thank you.

Begitulah pembahasan tentang Filosofi Montessori, suatu metode pendidikan. Tapi kalau kamu pingin pembahasan kesehatan, terutama kesehatan anak, kalian bisa berkunjung ke Blog Dokter Taura :)

See you!

ibu di balik gawai

Nurrahmah Widyawati
Seorang lifestyle blogger yang menulis tentang dunia perempuan, Ibu, parenting, pengasuhan anak, keluarga, review, hobi, dan kehidupan sehari-hari | Digital Art Enthusiast :)

Related Posts

20 komentar

  1. Waaah konsep perayaan ulang tahun yang unik yaa mbak. Patut dicoba nanti kalo aku udah nikah dan punya anak ehheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seru banget, aku mau coba juga buat anakku wkwkwk

      Hapus
  2. Duh, asyik ya metode Montessory ini... Bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain...
    Nanti deh coba aku terapkan ke cucu-cucuku, hehehe...
    Makasih ya Bu Widya... Selalu enak baca artikel di blog ini... Ngalor aja gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak pak dokter kerennya Blogger Hebat wkwkwk

      Hapus
  3. Masya Allah, aku ada bukunya juga di rumah dan suka terinspirasi dengan metode ini, cuma dalam pelaksanaan kadang otak bawah sadar masih suka didominasi oleh metode konvensional. Membaca ini jadi lebih mengikat makna tentang montessori lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya harus diulang-ulang belajarnya ya mbak biar applicable memang :') akupun sama hehe

      Hapus
  4. Suka salut aku sama ibu ibu yang rajin sekali menyusun pola ajar untuk anaknya. Apalah aku yang pasrah sama sekolah buat anak2ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal kita adala Ibu terbaik versi anak-anak kita kan Bun ;) hehe. Nggak bisa diganti dan nggak akan bisa dibandingkan dengan Ibu lain

      Hapus
  5. Ya ampuun asik bener nih belajar dengan metode Montessori. Aku baru tau banget huhuhu..
    Nggak cuma anak-anak aja sih, rasanya orang dewasa juga perlu kali yaa terapin metode ini, biar belajarnya juga bisa sambil bermain dan nggak gampang bosan heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha seru ya kalau kehidupan kita bisa belajar dengan segala aspek, nggak textbook ;) keren

      Hapus
  6. Heii aku kayak ga asing sama konsep ulang tahun ini, dan setelah aku cek ternyata bener lho. Aku pengikut setia khalila Montessori wkwk.. Dari situ juga aku belajar banyak tentang konsep Montessori yang simpel dan ga njelimet. Beda bangey kalau baca di bukunya langsung. Rupanya baru tahu kalau pernah bikin kulwap ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dulu mba Nafila pernah aku mintain bantuan buat isi di club anak. Ternyata mau. Baik banget nggak ngerti lagi :') ngefans juga aku sama anaknya, smart wkwk

      Hapus
  7. Filosofi montessori ini emang keren sih klo aku bilang, bner2 fokus pada kemampuan dan minat anak, bukan keinginan orangtua

    BalasHapus
  8. Asyik kayaknya ya mentode montessori itu, cuma kadang banyak yang mikir mahal karena butuh material. Aku suka deh sama konsep ulang tahun yang ada di awal itu, iih bisa kepikiran kaya gitu ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang secara pribadi akupun nggak bisa montessori bgt, tp kita bisa terapkan filosofinya dan ekstensi materialnya di rumah ;) jadi semangat lagi deh

      Hapus
  9. Menimba iomu seputar montessori ga ada bosennya, dan ada aja pembahasannya yang memang benar-benar membuat anak belajar mengalami dan merasakan

    BalasHapus
  10. Nilai-nilai dasar Montessori ini memang sangat penting dan membantu tumbuh kembang anak ya Mbak Wid. Aku baru tahu nih filosofinya. Mantapp

    BalasHapus

Posting Komentar