Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Indonesia Ramah Anak (Dimulai dari Mendidik Anak dari Rumah)

30 komentar
Konten [Tampil]
Sebuah harapan dari Ibu yang 4 tahun ke belakang concern tentang pendidikan dan perkembangan anak di rumah. Memiliki harapan besar agar negeri ini, Indonesia, memiliki keadaan yang lebih ramah terhadap anak, baik segi keselamatan dan keamanannya. Bisakah?

Akhir-akhir ini aku mendengar cerita-cerita yang tidak nyaman untuk dibaca maupun didengar. Ada ART yang memperlakukan anak majikan dengan tidak baik, dari mulai diberi obat tidur maupun obat bius. Ada anak yang diculik saat bermain di halaman rumahnya. Ada banyak anak-anak yang mengalami kekerasan baik verbal maupun seksual. Dan beberapa dari mereka justru ada di circle sekitar kita, begitu dekat.

Ngeri. Bumi seperti apa yang akan dihuni anak-anak kelak? Sampai kapan kita bisa melindungi mereka? Begitu banyak harapan untuk Indonesia. Sangat banyak!

1. Mendidik Anak Usia Dini


Lebih realistis, dari pada terus mengeluh dan meratapi keadaan, marilah menciptakan generasi yang nantinya bisa membuat Indonesia jauh lebih ramah anak. Salah satunya dengan mendidik anak usia dini. Bukan hanya mengajarkan membaca, berhitung, serta menghapal.

Membangun kembali peradaban yang sesuai dengan nilai agama juga lebih penting, yaitu melalui pendidikan ruhiyah, akal, jiwa dan jasmani. Namun, penerapannya memang tidak mudah, butuh tahapan panjang, waktu yang lama, penuh kesulitan dan menuntut kerja estafet antargenerasi. Pendidikan ini yang akan mengubah masyarakat, nantinya menciptakan Indonesia yang lebih ramah anak. Generasi emas.

Kita memulainya dengan mendidik anak sejak usia dini, sebab fase ini merupakan fase terpenting dalam pendidikan. Semakin kecil, semakin dekat dengan fitrahnya. Semakin lambat kita mendidik anak, semakin berat beban yang harus dipikul. Karena jika terlambat, kita harus terlebih dahulu merobohkan dan membersihkan tumpukan karakter yang menutupi fitrahnya. Setelah itu barulah kita bisa mengembangkan potensinya sesuai fitrah sang pencipta.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri (Q.S. Ar-Ra'd: 11).

2. Pendidikan dari Dalam Rumah


Rumah merupakan pilar pertama dan terkuat, selain pilar sekolah dan lingkungan masyarakat. Jika di fase pertama didukung asuhan dan bimbingan yang tepat, mereka akan menjadi lebih kokoh dan kuat untuk menghadapi cobaan saat beranjak dewasa dan siap menghadapi dunia yang lebih luas dan kompleks.

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kedua orangtuanya yang menjadikan dia Yahudi atau Nasrani (HR. Bukhari dan Muslim)

Skinner berkata bahwa segala penyakit moral seperti sifat egois, labil, tidak percaya diri, acuh tak acuh, munafik, dan riya awalnya tumbuh dan berkembang di dalam rumah. Penyakit-penyakit itu akan sangat sulit diobati oleh sekolah ataupun masyarakat.

Ayah dan Ibu menjadi yang utama dalam mendidik anak di rumah. Adapun kewajiban orangtua kepada anak (termasuk dimulai dari memilih pasangan), meliputi

  1. Mencari pasangan sholeh/sholehah
  2. Tinggal di lingkungan yang baik
  3. Mengikuti ajaran dan sunah Rasulullah ketika berhubungan suami-istri
  4. Mengikuti sunah Rasulullah dalam menyambut kelahiran bayi (azan, akikah, khitan, dll)
  5. Senang & bersyukur dengan bayi perempuan layaknya senang pada bayi laki-laki
  6. Merawat & mengasuh anak secara langsung (terutama fase usia dini)
  7. Memilih nama yang baik
  8. Mengajarkan Al-Qur'an, ilmu agama, ketrampilan profesi untuk bekal hidup
  9. Memberikan ASI eksklusif
  10. Mengajarkan sholat
  11. Menafkahi anak hanya dengan yang halal
  12. Mengajarkan puasa
  13. Mengajarkan anak perempuan untuk berhijab
  14. Menjadi teladan yang baik
  15. Mengenalkan anak kita dengan teman dan komunitas yang baik
  16. Mengajarkan adab & sopan santun
  17. Merencanakan & mempersiapkan pendidikan akademis yang baik
  18. Berbuat adil tanpa membedakan taua membandingkan anak-anak
  19. Menanggung biaya hidup sampai waktunya mandiri
  20. Mengenalkan istri/suami sholehah/sholeh bagi anak
  21. Membimbing anak dalam membiana keluaraga yang baik, tapi tidak ikut campur
  22. Tetap menjaga hubungan baik setelah anak menikah.

3. Relasi Rumah dan Sekolah

Ayah Ibu jangan lupa, bahwa keluarga adalah penanggung jawab utama pendidikan anak. Sekolah hanyalah institusi pelengkap, sehingga rumah dan sekolah harus bekerja sama demi mewujudkan pendidikan yang optimal.

Selektiflah dalam memilih sekolah untuk anak. Pastikan sekolah tersebut tepat dan sesuai visi misi keluarga. Jangan lupa untuk mendampingi anak saat sekolah di pekan pertamanya. Agar mereka bisa beradaptasi dari pola rumah ke pola sekolah. 

Ayah Ibu bisa membantu pihak sekolah dengan membiasakan anak merawat buku dan alat tulisnya, mengontrol PR, tidur lebih cepat sehingga bisa bangun pagi, jangan absen tanpa alasan jelas, tanamkan rasa hormat dan taat pada guru. Jika menemukan tindakan yang kurang sesuai di sekolah, Ayah Ibu bisa segera mengambil sikap. Lakukan langkah-langkah yang baik. Jika ada yang sudah tidak selaras, Ayah Ibu tidak bisa pasif saja. Lakukan langkah selanjutnya yang dirasa perlu. Karena visi misi keluarga perlu dipegang erat di sini.

***

Jika setiap orang tua menyadari tentang pendidikan anak yang dimulai dari rumah dan di fase usia dini, kita akan memiliki generasi emas mendatang. Nantinya Indonesia akan menjadi tempat yang lebih ramah, aman, dan membahagiakan untuk anak-anak kita bahkan cucu cicit kita.

Dari pada terus mengeluh, mari sama-sama berjuang dari rumah. Lakukan yang terbaik untuk Indonesia yang lebih baik, untuk generasi yang lebih baik.


Pendukung referensi : Buku Rumahku Madrasah Pertamaku (DR. Khalid Ahmad Syantut)




Nurrahmah Widyawati
Mom of 2, Blogger, 9 Antologi's book author, Digital illustrator, Life long learner • Hi, for details tap page "about me" thanks! :)

Related Posts

30 komentar

  1. Informasi yang sangat bermanfaat kak, sangat perlu di terapkan nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, dimulai dari mencari pasangan yang tepat wkwkwk good luck ya

      Hapus
  2. setuju banget. itulah kenapa ak memutuskan resign stelah si kaka ternyata almost everyday dikasih ctm sm mantan susternya :( lsg trauma dan resign.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah mom, pasti dirimu syok bgt ya :'( semoga si kakak sehat selalu ya mom. Dan mom juga diberikan kemudahan untuk segala urusan aamiin

      Hapus
  3. Setuju saya, banyak aspek yang harus diperhatikan mulai dari pasangan yang akan hidup dengan kita hingga mendidik anak sepanjang mada. Adab dan agama harus kuat pondasi untuk anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mom :) semoga kita dimudahkan dalam segala urusan aamiin

      Hapus
  4. Salah satu pertimbangan saat memilih sekolah buat anak beberapa tahun lalu yaitu pilih sekolah yang satu visi misi dan bisa diajak kerja sama dalam pengasuhan. Senangnya lagi di sekolah ini selalu mengingatkan bahwa ortu adalah guru utamanya anak-anak, sementara ustaz/ ustazah di sekolah adalah partner. Jadi bener-bener berelasi dengan asyik dah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah mbak. Keren banget dan rezeki bgt bisa dpt sekolah yg se visi misi sama keluarga. Semoga aku jg smaa bisa menemukan jodoh sekolah terbaik buat anak2 ya mbak aamiin :')

      Hapus
  5. Rumah jadi pilar utama dan paling penting untuk pondasi yaa kak. Bener banget. Kadang ada orangtua yg nyalahin sekolah karena sikap anaknya. Ngga melihat ke dalam rumahnya dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener bgt ini. Sekolah memang pntg, tp lebih penting lagi di rumanya (karena pilar pertama dan utama). Semoga kita termasuk orang tua yg selalu instropeksi diri ya :') semangaaaaat bismillah

      Hapus
  6. Bener banget. Lakukan semaksimal mungkin yang kita bisa ya dalam membangun generasi penerus bangsa dari dalam rumah. Jangan banyak mengeluh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mom. Mengeluh juga nggak akan merubah apapun tanpa action ya :'( semoga Indonesua makin ramah anak

      Hapus
  7. Bener banget ini, rumah jadi kunci tumbuh kembang anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat. Apalagi usia dini. Lagi lentur2nya itu perkembangan otak dan fisiknya :)

      Hapus
  8. Tulisan yang sangat inspiratif plus bikin nangis. Sarana memadai sayangnya kadang ada kondisi tertentu yang membuat saya tidak nyaman dan berefek ke anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mom! Bismillah semoga Allah mudahkan semua urusan ya ;)

      Hapus
  9. Dimulai dari mencari pasangan yang tepat ini fokusku sekarang mbak mwkwk. Doakan segera menemukan yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb. Semoga diberkan pasangan yang sholeh dan bisa jadi imam yang baik serta pemimpin keluarga yg asyik juga hehe ;)

      Hapus
  10. Suka suka....
    Iya ya, dari rumah semua berawal.

    Aku kuga 2 tahun ini menciba concern pengasuhan meski belum maksimal hiks.

    Ehm, satu lagi yang harus digaris bawahi. Sekolah itu mitra keluarga. Sinergi keduanya menjadi penting. Mantul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sepakat mom ;) semoga dimudahkan urusannya ya mom aamiin

      Hapus
  11. Semangat mom. Pendidikan dan anak-anak gak akan ada habisnya dibahas. Berkali-kali ditulis pun akan tetap bermanfaat

    BalasHapus
  12. MasyaAllah banyak banget ilmu mbak Nur, yang diberikan. Hepi banget bacanya, aku wajib memersiapkan sejak dini ntar kalau ada momongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, semangat. Keren bgt dah belajar parenting sebelumnya :')

      Hapus
  13. Semuanya berawal dari rumah dan orang tua ya..
    Terus pasangan dehh, ini sulit-sulit gampang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya, mencari pasangan yg baik sebagai permulaan itu semua :)

      Hapus
  14. Aamiin. Semoga anak anak kita dapat menjadi tauladan baik dan soleh. Akupun masih belajar mnjadi orangtua yang baik

    BalasHapus

Posting Komentar