Indonesia Ramah Anak (Dimulai dari Mendidik Anak dari Rumah)

Sebuah harapan dari Ibu yang 4 tahun ke belakang concern tentang pendidikan dan perkembangan anak di rumah. Memiliki harapan besar agar negeri ini, Indonesia, memiliki keadaan yang lebih ramah terhadap anak, baik segi keselamatan dan keamanannya. Bisakah?

Akhir-akhir ini aku mendengar cerita-cerita yang tidak nyaman untuk dibaca maupun didengar. Ada ART yang memperlakukan anak majikan dengan tidak baik, dari mulai diberi obat tidur maupun obat bius. Ada anak yang diculik saat bermain di halaman rumahnya. Ada banyak anak-anak yang mengalami kekerasan baik verbal maupun seksual. Dan beberapa dari mereka justru ada di circle sekitar kita, begitu dekat.

Ngeri. Bumi seperti apa yang akan dihuni anak-anak kelak? Sampai kapan kita bisa melindungi mereka? Begitu banyak harapan untuk Indonesia. Sangat banyak!

1. Mendidik Anak Usia Dini


Lebih realistis, dari pada terus mengeluh dan meratapi keadaan, marilah menciptakan generasi yang nantinya bisa membuat Indonesia jauh lebih ramah anak. Salah satunya dengan mendidik anak usia dini. Bukan hanya mengajarkan membaca, berhitung, serta menghapal.

Membangun kembali peradaban yang sesuai dengan nilai agama juga lebih penting, yaitu melalui pendidikan ruhiyah, akal, jiwa dan jasmani. Namun, penerapannya memang tidak mudah, butuh tahapan panjang, waktu yang lama, penuh kesulitan dan menuntut kerja estafet antargenerasi. Pendidikan ini yang akan mengubah masyarakat, nantinya menciptakan Indonesia yang lebih ramah anak. Generasi emas.

Kita memulainya dengan mendidik anak sejak usia dini, sebab fase ini merupakan fase terpenting dalam pendidikan. Semakin kecil, semakin dekat dengan fitrahnya. Semakin lambat kita mendidik anak, semakin berat beban yang harus dipikul. Karena jika terlambat, kita harus terlebih dahulu merobohkan dan membersihkan tumpukan karakter yang menutupi fitrahnya. Setelah itu barulah kita bisa mengembangkan potensinya sesuai fitrah sang pencipta.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri (Q.S. Ar-Ra'd: 11).

2. Pendidikan dari Dalam Rumah


Rumah merupakan pilar pertama dan terkuat, selain pilar sekolah dan lingkungan masyarakat. Jika di fase pertama didukung asuhan dan bimbingan yang tepat, mereka akan menjadi lebih kokoh dan kuat untuk menghadapi cobaan saat beranjak dewasa dan siap menghadapi dunia yang lebih luas dan kompleks.

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kedua orangtuanya yang menjadikan dia Yahudi atau Nasrani (HR. Bukhari dan Muslim)

Skinner berkata bahwa segala penyakit moral seperti sifat egois, labil, tidak percaya diri, acuh tak acuh, munafik, dan riya awalnya tumbuh dan berkembang di dalam rumah. Penyakit-penyakit itu akan sangat sulit diobati oleh sekolah ataupun masyarakat.

Ayah dan Ibu menjadi yang utama dalam mendidik anak di rumah. Adapun kewajiban orangtua kepada anak (termasuk dimulai dari memilih pasangan), meliputi

  1. Mencari pasangan sholeh/sholehah
  2. Tinggal di lingkungan yang baik
  3. Mengikuti ajaran dan sunah Rasulullah ketika berhubungan suami-istri
  4. Mengikuti sunah Rasulullah dalam menyambut kelahiran bayi (azan, akikah, khitan, dll)
  5. Senang & bersyukur dengan bayi perempuan layaknya senang pada bayi laki-laki
  6. Merawat & mengasuh anak secara langsung (terutama fase usia dini)
  7. Memilih nama yang baik
  8. Mengajarkan Al-Qur'an, ilmu agama, ketrampilan profesi untuk bekal hidup
  9. Memberikan ASI eksklusif
  10. Mengajarkan sholat
  11. Menafkahi anak hanya dengan yang halal
  12. Mengajarkan puasa
  13. Mengajarkan anak perempuan untuk berhijab
  14. Menjadi teladan yang baik
  15. Mengenalkan anak kita dengan teman dan komunitas yang baik
  16. Mengajarkan adab & sopan santun
  17. Merencanakan & mempersiapkan pendidikan akademis yang baik
  18. Berbuat adil tanpa membedakan taua membandingkan anak-anak
  19. Menanggung biaya hidup sampai waktunya mandiri
  20. Mengenalkan istri/suami sholehah/sholeh bagi anak
  21. Membimbing anak dalam membiana keluaraga yang baik, tapi tidak ikut campur
  22. Tetap menjaga hubungan baik setelah anak menikah.

3. Relasi Rumah dan Sekolah

Ayah Ibu jangan lupa, bahwa keluarga adalah penanggung jawab utama pendidikan anak. Sekolah hanyalah institusi pelengkap, sehingga rumah dan sekolah harus bekerja sama demi mewujudkan pendidikan yang optimal.

Selektiflah dalam memilih sekolah untuk anak. Pastikan sekolah tersebut tepat dan sesuai visi misi keluarga. Jangan lupa untuk mendampingi anak saat sekolah di pekan pertamanya. Agar mereka bisa beradaptasi dari pola rumah ke pola sekolah. 

Ayah Ibu bisa membantu pihak sekolah dengan membiasakan anak merawat buku dan alat tulisnya, mengontrol PR, tidur lebih cepat sehingga bisa bangun pagi, jangan absen tanpa alasan jelas, tanamkan rasa hormat dan taat pada guru. Jika menemukan tindakan yang kurang sesuai di sekolah, Ayah Ibu bisa segera mengambil sikap. Lakukan langkah-langkah yang baik. Jika ada yang sudah tidak selaras, Ayah Ibu tidak bisa pasif saja. Lakukan langkah selanjutnya yang dirasa perlu. Karena visi misi keluarga perlu dipegang erat di sini.

***

Jika setiap orang tua menyadari tentang pendidikan anak yang dimulai dari rumah dan di fase usia dini, kita akan memiliki generasi emas mendatang. Nantinya Indonesia akan menjadi tempat yang lebih ramah, aman, dan membahagiakan untuk anak-anak kita bahkan cucu cicit kita.

Dari pada terus mengeluh, mari sama-sama berjuang dari rumah. Lakukan yang terbaik untuk Indonesia yang lebih baik, untuk generasi yang lebih baik.


Pendukung referensi : Buku Rumahku Madrasah Pertamaku (DR. Khalid Ahmad Syantut)




You Might Also Like

2 komentar

  1. Informasi yang sangat bermanfaat kak, sangat perlu di terapkan nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, dimulai dari mencari pasangan yang tepat wkwkwk good luck ya

      Hapus

Positive vibes only.