Ibu di Balik Gawai Nurrahmah Widyawati

Tips Mudik Jauh dengan 2 Balita Menggunakan Mobil

15 komentar
Konten [Tampil]
To be honest aku nggak suka perjalanan darat dengan kendaraan seperti mobil, bus dan sejenisnya yang memakan waktu lama. Rasanya aku prefer memilih perjalanan jauh dengan anak menggunakan kereta api atau pesawat. Namun, pandemi yang nggak kunjung usai membuat kami harus memilih opsi yang lebih aman. Dan kali ini kami memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi (mobil) saat mudik dari Tangerang-Solo (mampir keliling Semarang sebentar hehe). Kemudian lanjut ke Kebumen.


Mudik dengan 1 anak? Mudah. Dengan 2 anak? Menantang hehe. Apalagi anak balita semuanya (22 bulan & 4 tahun 9 bulan). Butuh persiapan yang lebih ekstra dan tentunya bawaan yang lebih banyak. Karena terbiasa bepergian, aku biasanya memang hanya membawa barang yang ringkas. Rasanya barang-barang yang aku packing untuk dibawa itu sedikit kali ini, namun ternyata berhasil memenuhi bagasi juga :(

Apa saja persiapan yang aku lakukan sebelum menempuh perjalanan panjang dengan anak-anak? Ini tips versi keluarga kami :


1. Sounding


The power of sounding. Percayalah anak itu smart. Saat banyak orang tua/neneknya yang masih suka bohong terkait dengan beberapa hal. Maka, pastikan kalian jangan menjadi salah satunya ya. Ceritakan saja yang sebetulnya bahwa kita akan melakukan perjalanan panjang, jauh, dan mungkin akan melelahkan bahkan membosankan. Namun tentu bisa menyenangkan karena melihat pemandangan kanan-kiri yang indah, tips mengatasi rasa bosan, hingga sampai di tujuan dan bertemu sanak saudara yang dirindukan.

Sounding juga agar si kecil tidak rewel, tetap happy dan bersyukur di perjalanan. Bacakan buku yang ada kaitannya dengan travelling. Dan carikan referensi lagu untuk dinyanyikan dalam kendaraan.

2. Libatkan saat packing


Jika anak sudah bisa berkomunikasi 2 arah, tawarkan untuk memilih mainan kesayangan mereka yang akan dibawa.  Pastikan jumlahnya tidak berlebihan, namun cukup untuk menangkal kebosanan. Jika perlu, sediakan mainan yang belum pernah dibuka/dimainkan oleh mereka. Sehingga rentang fokus mereka saat memainkannya bisa lebih lama.

Begitu juga dengan pakaian. Ajak mereka untuk memilih pakaian yang ingin dibawa. Cukup 1-3 saja. Selebihnya buibu pilihkan saja agar sesuai dengan cuaca & moment hehe. Jika memungkikan, sediakan baju baru juga. Sehingga anak-anak akan antusias mudik & membayangkan menggunakan baju baru. 'Ah ngga sabar!' Kira-kira begitu.

3. Ciptakan kenyamanan


Sebisa mungkin menciptakan ruangan mobil menjadi kamar mereka. Bisa ditambah dengan kasur angin/kasur apapun itu di kursi belakang agar mereka bisa tidur nyenyak dan main tanpa pegal. Bawalah bantal tidur yang biasa mereka gunakan. Hal ini membuat mereka tidak cranky di jalan karena merasa sudah familiar dengan keadaan dalam mobil (layaknya kamar sendiri). Biarkan semua barang di bagasi. Kecuali makanan & minuman, mainan serta barang urgent lainnya. Biarkan kursi anak-anak lega.

4. Membawa makanan & minuman kesukaan


Poin penting nih. Libatkan anak memilih makanan & minuman  kesukaannya untuk dibawa. Pastikan jumlahnya cukup. Apalagi ada 2 anak. Dan belum lagi jika rute travelling yang dilalui hanya berisi jalan tol. Harus menunggu ada rest area jika kehabisan perbekalan. So, lengkapilah perbekalan yang ada. Biasanya kalau anak kenyang, mereka lebih mudah tidur.

5. Istirahat dengan cukup di rest area


Rest area tidak hanya memberikan waktu driver (di sini adalah ayahnya anak-anak wkwk) untuk beristirahat. Namun anggota keluarga yang lain juga berkesempatan untuk berjalan-jalan meluruskan badan. Banyak juga rest area yang keren-keren. Lumayan bikin anak jadi happy melihat air mancur, kolam ikan, dan vibes restoran serta pemandangan lainnya.

Meski tol Jakarta-Semarang sangat panjang, lurus dan lumayan membosankan (rawan ngantuk), paling tidak bisa terhibur dengan beberapa rest area yang cakep dan bersih.

6. Sediakan diapers


Untuk anak under 2 years yang belum toilet training, pastilah menggunakan diapers. Namun tak ada salahnya memasangkan diapers untuk anak 4.5 tahun (itusih anakku hahaha). Kemarin lumayan membantu saat di jalan.

Saat itu Nasha ingin pipis, karena memakai diapers jadi dia bisa pipis di situ. Meski hanya bisa digunakan 1x saja sih, harus langsung diganti. Tapi paling tidak saat rute tol yang super panjang dengan rest area yang masih jauh bisa membuat anak tidak menahan pipis. Anakku malah kemarin ganti diapers yang sudah dipipisin itu sendiri, dimasukkan plastik sendiri dan ganti diapers yang baru sendiri. Kebetulan si Nasha duduk sendiri di kursi belakang. Wkwk definisi mandiri :')

7. Waktu yang tepat


Memilih waktu yang tepat untuk mudik adalah kunci. Kemarin aku start dari Tangerang jam 22.30 malam. Jadi si kakak tidur sepanjang jalan, nyaman, dan bener-bener seperti di kasur wkwk. Beda dengan adek yang 'nemplok' tidurnya. Pegel sih. Tapi alhamdulillah nggak cranky, tetap tidur pulas. Paling sesekali bangun di rest area dan tertidur kembali saat perjalanan.

Kalau aku? Jangan ditanya. Nggak bisa tidur hahaha. Takut paksu(pir) ngantuk. Jadi wajib ditemenin ngobrol, karena nggak ada yang gantiin nyetir. Di perjalanan ini kami hanya berempat (aku, paksu, dan 2 anak balita).

Alhamdulillah perjalanan lancar.

8. Enjoy aja!


You are what you think. Nah ini juga kuncinya. Saat anak mulai cranky, penuhi kebutuhannya. Ingin apa. Apakah gerah ingin ganti baju, lapar, diapers penuh, pingin minum, pingin apapun itu penuhi saja. Dan buibu & paksu jangan sampai terpancing cranky juga alias marah-marah.

Saat kita stay calm, anak-anak akan cepet good mood lagi. Karena vibes positif kita menular. Pun dengan vibes negatif. Oleh karena itu, jangan lupa orang tuanya harus tetep semangat & senyum! :)

Di perjalanan, saat anak-anak sudah bangun kita bisa bernyanyi bersama, mengomentari daerah yang dilewati, bermain tebak2an, menonton video, makan, dan banyak hal. Sehingga perjalanan di mobil selama 11-12 jam terasa mudah atas izin Allah, alhamdulillah. Si Adek memang tidur dalam gendongan semalaman, namun saat sudah bangun di pagi hari si Adek duduk bersama kakak di belakang. Sesekali bertukar tempat agar tidak bosan juga di depan.



So ya, di atas adalah hal-hal yang aku lakukan saat perjalanan darat bersama ana-anak dengan kendaraan pribadi (mobil). Kami melakukan perjalanan Tangerang-Semarang-Solo-Kebumen.

Karena masih pandemi, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker ya! Entah di rest area atau manapun. Aku juga selalu membawa sanitizer semprot, gel dan tissue basah. Masker anak-anakpun membawa banyak agar bisa sering ganti. Vitamin juga harus dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh.

***

Share dong saat travelling jauh dan kemudian anak-anak cranky, apa yang buibu lakukan untuk menghibur mereka?

Buat yang single, saat travelling, apa yang kalian lakukan untuk mencegah kebosanan di perjalanan yang membutuhkan waktu lama ? :)








Nurrahmah Widyawati
Mom of 2, Blogger, 9 Antologi's book author, Digital illustrator, Life long learner • Hi, for details tap page "about me" thanks! :)

Related Posts

15 komentar

  1. Banyak-banyak istirahat sih ya dan jangan lupa sambil bermain biar bisa lupa waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi jangan banyak2 juga. Nggak samapi2 pak WKWKWK :) tapi bener sih cari rest area yg kece2 biar bs sambil cuci mata si kecil

      Hapus
  2. Butuh persiapan ekstra memang sih ya kalo mudik pake obil, apalagi bawa bocil, hihi.. makasih tipsnya, mbak Wid..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, pas bosan melanda sih bingungnya kmrn. Soalnya jalan tol terus, lurus pula, wkwk. Tp alhamdulillah teratasi dan aman terkendali :)

      Hapus
  3. Aaahh jadi kangen mudik nih, udah dua tahun ngendon di kota sendiri wkwkwk
    Nice sharing kakk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mbak dah dua tahun gak mudij. Hingga akhirnya ini mudik wkwkwkwkwkw pecah telor...

      Hapus
  4. Aku malah nggak pernah ngrasain mudik mbak. Secara nikahnya sama orang sekota. Dulu pernah waktu ortu masih di kota tetangga, sempat ngerasain mudik satu setengah jam wkwk. Itu juga naik motor aja..

    Tapi kalau aku suka banget naik mobil dan bus.. secara dulu bapakku sopir bus. Jadi kalau naik angkutan darat tuh ingat perjalanan sama bapakku..

    Mudik memang butuh persiapan khusus ya, apalagi di masa pandemi begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebalikanku ya mbak. Ak sebenernya ga begitu suka naik bus atau mobil berjam2 lamanya wkwkwkwk tp pandemi gini plg aman mobil sih. Bisa minim kontak :')

      Hapus
  5. Kalau saya mah kek orang pindahan. Bawa mainan anak segala. Haduuuh. Mana 22nya kalau tidur harus nempel pula. Eh jadi curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidur nempel semua di mobil gimana mba? Wkwkwk semangat!!!

      Hapus
  6. Pengalamannya beda ya kalau bawa anak mba, ada tantangannya tersendiri juga
    lebih ramai tapinya hepi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, anak 1 sama anak 2 aja beda tantangannya ekwkwk

      Hapus
  7. Tantangannya ketika anak udah lulus toilet training, dipakein diapers mintanya pipis di toilet langsung...jdilah buru2 nyari rest area

    BalasHapus
  8. Akupun prefer nagjak anak Itu naik pesawat sbnrnya mba. Tp lagi pandemj gini, sekalipun aku belum pernah traveling naik kendaraan umum dulu. Selalu mobil pribadi.

    Cm karena anak2ku udh gedean (8 & 5 THN), udh ga terlalu rewel sih ngajakin mereka.

    Tapi pas si Kaka dan adek kecil, pernah tuh aku ajakin road trip dari medan-sorkam (di Tapanuli) trus Medan -banda Aceh.

    Dramaaaa sekali hahahahah.

    Yg mabok darat laah. Yg rewel..

    Tapi puncaknya pas di Aceh, kan udaranya panas luar biasa di sana. Si adek ga kuat ternyata. Pas mau balik ke Medan, bdn dia memang agak anget, tp udh aku ksh penurun panas. Ternyata ga ngaruh, dan pas msh di jalan Aceh, tp kiri kanan hutan lebat, si adek kena Step (kejang2) gitu. Paniklah semuanya. Yg nyupir adekku. Tapi pertolongan Tuhan, kami ngeliat ada rumah kecil di sisi jalan, trus kami berenti, ndilalah mbaa, penghuninya bidan. Bersyukur banget aku. Dia yg ksh pertolongan pertama. Teus kami balik lagi ke Banda Aceh, ke RS, akhirnya diputusin. Aku, asisten dan adikku ttp naik mobil ke Medan. Tapi suami, dan si adek naik pesawat lgs ke Jakarta dari Banda Aceh. Soalnya aku lebih yakin kalo dia dirawat Ama dokter langganannya di Jakarta.

    Sejak kejadian itu, aku sempet lamaaaa ga mau ajakin adek road trip. Badannya paling ringkih memang dibanding kakaknya. Setelah dia nginjak 4 THN baru aku berani ajakin dia jalan lagi mba. Trauma kalo inget dia step di jalan gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merinding tapi aku mbak. Kok ndilalah bidan ya mbak :') pertolongan Allah sekaliii. Semoga next road trip semua sehat & happy selama perjalanan ya mba :) sehat selalu sekeluarga...

      Hapus

Posting Komentar